
Urupedia.id- Presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN SATU Tulungagung 2025, Muhammad Ikhsanudin mengecam keras serangan biadab berupa penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Mereka menuntut aparat penegak hukum tidak sekadar “formalitas” dalam bekerja, melainkan segera mengusut tuntas dalang di balik aksi premanisme ini secara profesional dan tanpa kompromi.
Koordinator Aliansi BEM Tulungagung, Muhammad Ikhsanudin, menegaskan bahwa ini bukan sekadar kekerasan fisik biasa, melainkan serangan langsung terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi.
Pembiaran terhadap kasus ini hanya akan mempertegas pesan bahwa ruang publik tidak lagi aman bagi mereka yang kritis, sekaligus menciptakan iklim ketakutan (culture of fear) di masyarakat.
Mahasiswa mendesak transparansi penuh dalam proses hukum guna membuktikan bahwa hukum tidak “tumpul ke atas” saat berhadapan dengan aktor intelektual di balik serangan tersebut.
“Peristiwa ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Kami mendorong agar kasus penyiraman air keras terhadap saudara Andrie Yunus segera diusut secara tuntas, profesional, dan transparan sehingga keadilan bagi korban dapat ditegakkan,” ujar Ikhsanudin dalam keterangannya, Senin (16/3/2025).
Integritas Penyidik, Antara Keadilan atau Sekadar Seremonial?
Ikhsanudin menegaskan bahwa aparat tidak boleh hanya bermain aman dengan prosedur administratif yang lamban.
Pengumpulan bukti yang tak terbantahkan dan pembedahan kronologi yang presisi adalah harga mati untuk menyeret siapapun baik eksekutor lapangan maupun dalang penyiraman air keras ke hadapan hukum.
Keterbukaan informasi bukan sekadar keramahan birokrasi, melainkan satu-satunya alat ukur untuk melihat apakah aparat sedang bekerja untuk keadilan atau sedang main mata dengan pelaku.
Detik keterlambatan dan ketertutupan hanya akan mempertebal kecurigaan bahwa hukum sedang “tidur” saat aktivis dibungkam.
“Kami berharap penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dengan mengutamakan fakta dan bukti yang ada, sehingga proses hukum dapat berjalan objektif dan menghasilkan keadilan bagi korban,” jelasnya.
Menolak Lupa, Aliansi BEM Tulungagung Siap Menjadi Barikade Keadilan
Aliansi BEM Tulungagung menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan kasus ini menguap begitu saja di laci meja penyidik.
Bagi mereka, pengawalan ini bukan sekadar solidaritas, melainkan mandat moral mahasiswa untuk memastikan negara tidak “absen” saat warga negaranya dibungkam dengan kekerasan.
Ikhsanudin menggarisbawahi bahwa peran mahasiswa adalah menjadi alarm bagi penguasa.
Tanpa tekanan publik, transparansi seringkali hanya menjadi komoditas politik yang mahal harganya.
“Kami akan terus mengawal perkembangan kasus ini agar proses hukum berjalan secara terbuka dan adil. Harapannya, kejadian serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang,” pungkasnya.
Membiarkan satu kasus kekerasan terhadap aktivis berlalu tanpa keadilan sama saja dengan melegalkan teror serupa di masa depan.






