
TULUNGAGUNG –Urupedia.id– Suasana Rabicoen Kopi, Senin malam (15/9), dipenuhi semangat intelektual dalam gelaran Diskusi Publik bertajuk “Gerakan untuk Peradaban.” Acara ini menghadirkan aktivis Basyaruddin Zainun N. sebagai narasumber utama dengan Asfa Maula bertindak sebagai moderator. Diskusi dimulai pukul 19.30 WIB hingga selesai, dengan partisipasi aktif mahasiswa dan komunitas pemuda setempat.
Dalam pemaparannya, Basyaruddin menekankan bahwa ilmu pengetahuan adalah pilar utama peradaban. Mengutip Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, ia menegaskan:
“Ilmu pengetahuan tumbuh dan berkembang seiring dengan berkembangnya peradaban. Apabila suatu peradaban hancur, maka ilmu pun ikut hancur.” (Muqaddimah, Bab VI)
Menurut Basyaruddin, keberlangsungan bangsa tidak hanya ditopang oleh kekuasaan atau materi, melainkan oleh kekuatan intelektual yang melahirkan kesadaran kritis, inovasi, dan moralitas publik. Karena itu, ia menegaskan bahwa gerakan intelektual harus menjadi garda depan dalam membangun arah baru peradaban Indonesia.
“Tanpa tradisi ilmu yang kuat, peradaban akan mudah rapuh. Gerakan mahasiswa dan aktivis harus memposisikan diri sebagai motor intelektual, bukan hanya penggerak aksi sesaat,” ujarnya dengan tegas.
Moderator Asfa Maula memandu jalannya diskusi dengan dinamis, mendorong peserta untuk mengaitkan pemikiran Ibnu Khaldun dengan tantangan kontemporer, seperti disrupsi teknologi, krisis lingkungan, dan dekadensi moral.
Solidaritas, Moralitas, dan Ilmu: Tiga Fondasi Utama
Basyaruddin mengurai bahwa peradaban hanya akan kokoh jika berdiri di atas tiga pilar utama: solidaritas sosial (‘ashabiyah), moralitas, dan ilmu pengetahuan. Solidaritas melahirkan energi kebersamaan, moralitas menjaga arah perjuangan, sementara ilmu menjadi penopang keberlanjutan.
Tanpa ilmu, solidaritas mudah melemah menjadi euforia sesaat; tanpa moralitas, ilmu bisa berubah menjadi instrumen kekuasaan yang menindas. Karena itu, gerakan mahasiswa dan aktivis harus memadukan ketiga fondasi ini dalam praksis sosial dan politik.

Penutup
Kepemimpinan intelektual yang ditunjukkannya sejalan dengan tradisi para pemikir peradaban: memadukan refleksi mendalam, keberanian bersuara, dan komitmen terhadap masa depan umat. Dalam dirinya, terbayang figur pemimpin yang tidak hanya merespons keadaan, tetapi juga menawarkan jalan baru bagi bangsa di tengah arus perubahan.
Acara ditutup dengan sesi diskusi terbuka, di mana peserta menyampaikan pandangan kritis sekaligus apresiasi atas kepemimpinan intelektual yang ditunjukkan Basyaruddin. Diskusi publik ini menegaskan kembali bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya instrumen akademik, melainkan energi yang menentukan arah peradaban, dan sosok pemimpin muda seperti Basyaruddin Zainun hadir untuk menyalakan semangat itu.
Di mata banyak peserta, Basyaruddin bukan hanya sekadar aktivis, tetapi tampil sebagai figur muda dengan kapasitas intelektual, keberanian visi, dan kepemimpinan yang matang. Pandangannya tentang pentingnya solidaritas, moralitas, dan ilmu pengetahuan sebagai fondasi bangsa dinilai relevan dan membumi, menjadikannya sosok yang layak diperhitungkan sebagai pemimpin masa depan.







