
Jakarta —Urupedia.id Inisiatif pemutaran film layar tancap berbasis komunitas digelar di RW 06 Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, pada Sabtu (11/4/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya warga dalam mendukung visi Jakarta sebagai Kota Sinema sekaligus memperkuat literasi publik melalui medium film.
Acara nonton bareng tersebut menayangkan film Rumah Tanpa Jendela karya sutradara Aditya Gumay.
Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi sejumlah pihak, yakni Luminesa, PW Matahari Pagi Indonesia Jakarta, FILeM, Karang Taruna Unit RW 06, Aspirasi Jakarta, serta pengurus wilayah setempat.
Ketua pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa layar tancap tidak hanya dimaksudkan sebagai hiburan bagi warga, tetapi juga sebagai sarana edukasi sosial.
“Kami ingin menghadirkan ruang belajar yang terbuka dan inklusif melalui film, sehingga masyarakat tidak hanya menonton, tetapi juga memahami pesan yang disampaikan,” ujarnya.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari warga. Sejumlah masyarakat tampak antusias mengikuti pemutaran film sejak awal hingga akhir acara.
Selain menjadi sarana hiburan murah dan mudah diakses, kegiatan ini juga dinilai mampu mempererat hubungan sosial antarwarga di tengah kehidupan perkotaan yang cenderung individualistis.
Pengurus RW 06 Manggarai menyebutkan bahwa program Kampung Layar Tancap merupakan langkah konkret dalam membangun ekosistem budaya dari tingkat komunitas.
Menurutnya, penguatan literasi sinema menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung Jakarta sebagai Kota Global.
“Jakarta tidak cukup hanya memiliki gedung bioskop atau industri film yang besar. Yang juga penting adalah membangun penonton yang kritis dan memiliki apresiasi terhadap karya sinema,” katanya.
Melalui kegiatan ini, warga diajak untuk memahami film sebagai media yang mengandung nilai sosial, budaya, dan edukasi.
Diskusi ringan setelah pemutaran film juga dilakukan untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menafsirkan isi film.
Selain itu, kegiatan layar tancap dinilai memiliki dampak sosial yang signifikan, khususnya bagi kalangan remaja.
Dengan menyediakan ruang ekspresi yang positif, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi alternatif untuk mengurangi potensi perilaku negatif, seperti tawuran dan konflik sosial.
Inisiatif semacam ini dapat menjadi model pengembangan budaya berbasis masyarakat.
Pembangunan ekosistem sinema tidak hanya bergantung pada industri, tetapi juga partisipasi aktif komunitas lokal.
“Gerakan dari akar rumput seperti ini penting karena mampu menjangkau masyarakat secara langsung dan membangun kebiasaan baru dalam mengapresiasi film,” ujarnya.
Ke depan, Kampung Layar Tancap di RW 06 Manggarai diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain di Jakarta.
Dengan demikian, visi Jakarta sebagai Kota Sinema tidak hanya terwujud melalui festival atau infrastruktur formal, tetapi juga melalui kegiatan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Inisiatif ini sekaligus menunjukkan bahwa penguatan budaya dan literasi dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yakni komunitas warga.
Melalui layar tancap, film tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana membangun kesadaran kolektif di tengah dinamika kehidupan kota.
Editor: Krisna Wahyu Yanuar






