
TRENGGALEK — Beberapa peserta tampak berkali-kali menghapus tulisan di layar telepon genggamnya. Ada yang berhenti cukup lama sebelum kembali mengetik, ada pula yang berdiskusi pelan dengan teman di sebelahnya untuk menentukan cerita yang akan diangkat.
Suasana itu terlihat di Paseban Taman Jajar Gumregah, Minggu (9/8/2026), saat belasan anak muda Desa Jajar mengikuti Workshop Kepenulisan Cerita Desa yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Menghadirkan Pimpinan Redaksi Urupedia.id, David Yogi Prastiawan, workshop tersebut tidak sekadar mengajarkan cara menulis.
Para peserta diajak melihat kembali hal-hal yang selama ini berada di sekitar mereka. Sejarah desa, tradisi, budaya, pekerjaan warga, hingga kehidupan sehari-hari dapat menjadi cerita yang layak dituliskan.
Kesadaran itu menjadi penting karena sebuah desa tidak hanya tumbuh melalui pembangunan fisik. Di dalamnya ada cerita yang terus berganti, sementara tidak semuanya sempat dicatat.
Ketika orang-orang yang mengetahui sebuah cerita sudah tidak lagi mampu menceritakannya, sebagian ingatan tentang desa pun dapat ikut hilang.
Persoalan semacam itu bukan sesuatu yang jauh dari Desa Jajar. Berdasarkan hasil wawancara dengan Abidin Fauzi, pengelolaan situs web Desa Jajar hingga kini masih bergantung pada perangkat desa.
Kesibukan dan keterbatasan waktu membuat pembaruan berita maupun informasi belum dapat dilakukan secara rutin.
“Website desa masih dikelola oleh perangkat desa. Beliau sudah berumur dan juga memiliki banyak kesibukan, jadi cukup sulit untuk rutin memperbarui berita atau informasi di website,” ujar Abidin Fauzi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dokumentasi desa membutuhkan regenerasi. Tidak cukup hanya mengandalkan orang-orang yang saat ini memegang peran di pemerintahan desa.
Anak-anak muda yang tumbuh bersama desa juga perlu mengambil bagian, sebab merekalah yang akan menyaksikan sekaligus menjalani perubahan Desa Jajar pada tahun-tahun mendatang.
Upaya untuk mendokumentasikan cerita Desa Jajar sebenarnya pernah dilakukan. Pada 2022, mahasiswa KKN UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menyusun buku Jajar Gumregah: Sejarah, Potensi Desa, dan Kearifan Lokal.
Buku tersebut memuat berbagai cerita mengenai sejarah, budaya, serta potensi masyarakat Desa Jajar yang dihimpun melalui observasi dan wawancara dengan warga.
Empat tahun berselang, buku itu justru menunjukkan satu hal penting: cerita desa tidak berhenti ketika sebuah buku selesai ditulis.
Hal tersebut terlihat ketika penulis kembali menemui Mbah Lamijan, salah seorang pengrajin tenun yang kisahnya pernah dimuat dalam buku tersebut. Cerita tentang dirinya sebagian besar masih sama, tetapi kehidupannya telah mengalami perubahan.
Sejak sekitar satu tahun terakhir, Mbah Lamijan berhenti menenun setelah distributor bahan tenun dari Kediri yang selama ini menjadi mitranya jatuh sakit. Kini, beliau beralih berjualan keripik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Perubahan itu mungkin tampak sederhana. Namun, bagi sebuah dokumentasi desa, perubahan semacam itulah yang justru penting untuk dicatat. Apa yang hari ini masih ada belum tentu bertahan beberapa tahun kemudian.
Begitu pula dengan pekerjaan, tradisi, kebiasaan, dan orang-orang yang menjadi bagian dari kehidupan sebuah desa.
Dari sanalah workshop tersebut menemukan maknanya. Para peserta memang belajar menyusun judul, menulis lead, menentukan sudut pandang, dan mengembangkan isi tulisan. Lebih dari itu, mereka belajar menemukan cerita dari tempat yang selama ini mereka sebut rumah.
Praktik menulis membuat suasana perlahan berubah. Peserta mulai memilih cerita yang dianggap menarik, menyusunnya melalui telepon genggam masing-masing, kemudian membahas hasilnya bersama.
David Yogi Prastiawan memberikan masukan mengenai judul, lead, sudut pandang, hingga pengembangan isi agar tulisan tetap menarik tanpa mengabaikan fakta.
Barangkali, tulisan-tulisan yang lahir malam itu belum akan menjadi karya besar. Sebagian mungkin masih sederhana, bahkan membutuhkan banyak perbaikan.
Namun, sesuatu yang lebih penting sedang dimulai: anak-anak muda Desa Jajar mulai belajar menuliskan desanya sendiri. Menjelang kegiatan ditutup, David menyampaikan sebuah pesan yang terasa dekat dengan tujuan workshop tersebut.
“Kalau mau abadi, maka menulislah. Manusia yang besar itu didapat dari tiga cara: menulis, ditulis, atau mempunyai murid yang menulis,” ujarnya.
Kalimat itu menjadi penutup bagi sebuah malam yang sejak awal dimulai dari kesulitan menemukan kalimat pertama. Dari satu kalimat, kemudian lahir beberapa cerita. Dari beberapa cerita, barangkali kelak tumbuh kebiasaan untuk terus mencatat.
Sebab, desa akan terus berubah. Orang-orangnya berganti, pekerjaan berubah, tradisi mengalami penyesuaian, dan cerita baru bermunculan. Semua itu membutuhkan orang yang bersedia memperhatikannya.
Jika anak-anak muda Desa Jajar mulai menulis hari ini, mereka bukan hanya sedang belajar membuat tulisan, tetapi juga sedang belajar menjaga ingatan tentang tempat yang mereka tinggali.






