
Urupedia.id – Kalau kamu pernah datang ke acara hiburan electone di lapangan desa, kamu pasti tahu persis rasanya. Suara bass dari sound system hajatan yang getarannya kadang sampai tembus ke dada. Lampu warna-warni yang muter-muter bikin silau.
Malam itu, acara yang dibikin kawan-kawan KKN ini sukses besar mengumpulkan warga. Biduan di panggung lagi asyik membawakan lagu koplo, penonton di depan heboh berjoget, riuh dan meriah.
Tapi entah kenapa, mata saya malah melengos ke arah pinggiran lapangan yang remang-remang. Di batas antara terangnya lampu panggung dan gelapnya jalanan desa, ada kehidupan yang geraknya pelan, tapi entah kenapa kerasa jauh lebih bernyawa.
Asap Wajan dan Napas Kehidupan Pedagang
Saya melipir dari kerumunan dan berhenti di dekat sebuah gerobak kaki lima. Asap dari wajan penggorengannya lumayan bikin pedih mata, campur aduk sama bau bumbu tabur dan minyak panas. Di baliknya, bapak pedagang itu rupanya tidak sendirian. Istri dan satu anaknya turut menemani bapak tersebut berjualan.
Mereka sekeluarga berbagi tugas dengan cekatan. Sang bapak sibuk menggoreng dan memasukkan jajan ke kantong plastik, istrinya gesit mengurus bumbu dan menyodorkan kembalian, sementara anaknya duduk menemani di dekat rombong sambil sesekali memperhatikan riuhnya panggung.
Saya numpang duduk santai di dekat gerobak mereka. Waktu antrean pembeli agak sepi, kami sempat ngobrol ngalor-ngidul. Dari obrolan pendek itu, saya nangkep satu hal: buat panitia KKN, panggung ini mungkin soal program kerja desa yang sukses. Tapi buat keluarga kecil ini, keramaian malam ini adalah penyambung napas. Recehan dari jajan yang laku keras malam ini adalah uang yang bakal mereka gunakan buat beli beras besok pagi.
Doa yang Mengalahkan Suara Panggung Electone KKN
Waktu acara hampir selesai dan keluarga kecil itu mulai membereskan gerobak, saya menyodorkan tangan untuk pamit. Di momen penutup panggung yang riuh ini, kalimat yang keluar dari mulut bapaknya justru menjadi perpisahan KKN yang paling berkesan buat saya.
“Matur suwun sanget, Mas. Mugi-mugi panjenengan diparingi lancar kuliahe, sukses karire, lan slamet tekan omah,” ucapnya.
Dia ngomong gitu sambil menatap tajam, senyumnya tulus banget dari balik wajahnya yang capek. Gila. Di tengah dentuman musik dangdut yang memekakkan telinga, saya malah dapat kiriman doa komplit dari orang yang baru saya kenal belasan menit.
Tentu saja, saya langsung membalas doanya. “Sami-sami, Pak. Mugi-mugi bapak nggih diparingi sehat terus lan rezekine berkah.”
Perpisahan malam itu terasa seru, hangat, sekaligus mengharukan. Mengingat hari-hari kebersamaan selama masa KKN akan segera berakhir, mengantongi doa tulus dari seorang pedagang kecil di pinggir lapangan rasanya jadi medali terbaik yang bisa dibawa pulang.
Kencan Paling Romantis Sedesa
Belum kelar rasa hangat dari momen perpisahan tadi, mata saya menangkap pemandangan lain yang nggak kalah bikin tersenyum. Agak jauh dari jangkauan speaker, duduk sepasang kakek dan nenek. Mereka duduk berdua di kursi plastik, nontonin panggung dari kejauhan.
Sementara anak-anak muda di sekitar panggung asik bernyanyi dan berjoget, kakek-nenek ini cuma duduk diam. Nggak banyak ngobrol. Tapi kalau diperhatikan, bahu mereka nempel. Sesekali si kakek membisikkan sesuatu ke telinga si nenek, lalu si nenek tertawa pelan sambil menutup mulutnya.
Saya ngebatin, ini orang-orang pada heboh joget di depan panggung, eh di belakang sini malah ada kencan paling romantis sedesa. Nggak butuh kafe estetik. Cukup modal dengerin electone gratisan dari pinggir lapangan, mereka udah kelihatan bahagia banget. Di usia yang udah senja, mereka mengingatkan saya bahwa cinta yang panjang umur itu bentuknya ternyata sesederhana menemani pasangan nonton dangdutan di malam yang dingin.
Merayakan Kemanusiaan di Batas Cahaya
Menjelang tengah malam, acara selesai. Colokan speaker dicabut, lapangan pelan-pelan sepi.
Panggung electone KKN malam itu emang udah bubar. Tapi buat saya, pertunjukan utamanya justru bukan yang ada di atas panggung. Hiburan yang sebenarnya adalah melihat orang-orang kecil pulang membawa uang halal dan rasa syukur, serta melihat sepasang lansia berjalan pulang sambil bergandengan tangan.
Kadang-kadang, kemanusiaan emang terasa paling nyata di tempat-tempat yang nggak kena sorot lampu
Ahmad Nur Fadil, Mahasiswa UIN SATU Tulungagung, tertarik dengan cerita reflektif






