
Urupedia.id- Spider-Man: Brand New Day dapat dibaca lebih jauh daripada sekadar film superhero yang mempertemukan Peter Parker dengan sejumlah ancaman baru di balik pasca kejadian berjalanya Spider- Man: No Way Home.
Di balik utu film ini menyajikan narasi tentang pertarungan, perubahan biologis, dan munculnya karakter-karakter dari semesta Marvel yang semakin luas.
Selain itu film ini menghadirkan persoalan filosofis mengenai identitas, keterasingan, tubuh, ingatan, dan tanggung jawab.
Peter Parker ditempatkan dalam situasi eksistensial yang menarik yakni ia mengetahui sepenuhnya siapa dirinya, tetapi dunia sosial di sekelilingnya tidak lagi memiliki ingatan mengenai keberadaannya.
Situasi tersebut merupakan konsekuensi dari peristiwa Spider-Man: No Way Home. Mantra Doctor Strange telah menghapus ingatan dunia tentang Peter Parker.
Empat tahun kemudian, konsekuensi dari keputusan tersebut tidak lagi sekadar menjadi latar belakang cerita, melainkan menjadi struktur utama yang membentuk kehidupan Peter.
Ia tetap menjalankan peran sebagai Spider-Man, tetapi harus melakukannya tanpa dukungan orang-orang yang sebelumnya menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Persoalan ini membawa kita kepada satu pertanyaan mendasar dalam filsafat sosial yakni sejauh mana identitas seseorang bergantung pada pengakuan dari orang lain?
Identitas manusia tidak pernah sepenuhnya bersifat individual.
Seseorang mengenali dirinya melalui hubungan sosial yang membentuk pengalaman hidupnya.
Nama, keluarga, persahabatan, pekerjaan, komunitas, dan pengalaman bersama menjadi bagian dari proses pembentukan diri.
Dalam perspektif George Herbert Mead, konsep self berkembang melalui interaksi sosial.
Manusia memahami dirinya melalui proses melihat dan menafsirkan bagaimana dirinya ditempatkan dalam hubungan dengan orang lain.
Peter Parker mengalami keruntuhan struktur tersebut secara ekstrem.
Ia masih memiliki ingatan tentang MJ dan Ned, tetapi mereka tidak lagi memiliki ingatan tentang dirinya.
Dengan demikian, Peter Parker hidup dalam kondisi ketika pengalaman subjektifnya tidak memiliki padanan dalam realitas sosial apalagi dengan orang-orang terdekatnya.
Masa lalu tetap ada dalam kesadarannya, tetapi masa lalu tersebut tidak lagi menjadi sejarah bersama.
Di sinilah kesepian Peter Parker memperoleh dimensi filosofisnya.
Kesepian tidak selalu di identikan hanya berarti tidak memiliki teman atau pasangan.
Kesepian dapat muncul ketika pengalaman seseorang tidak lagi mendapatkan pengakuan dari lingkungan sosial.
Peter Parker berada di tengah kota yang penuh manusia, tetapi tetap mengalami keterasingan karena tidak ada orang yang dapat mengafirmasi sejarah personalnya.
Kondisi tersebut mengingatkan pada konsep keterasingan dalam pemikiran Karl Marx, meskipun konteksnya berbeda.
Keterasingan tidak selalu harus dipahami sebagai keterpisahan dari pekerjaan atau alat produksi.
Dalam konteks Peter Parker, keterasingan muncul sebagai keterputusan antara individu dan lingkungan sosial yang sebelumnya memberikan makna terhadap kehidupannya.
Ia tetap hadir dalam masyarakat, tetapi hubungan yang dahulu menjadi bagian dari identitasnya telah terputus.
Menariknya, keterasingan tersebut tidak membuat Peter berhenti menjadi Spider-Man.
Justru sebaliknya, anonimitas memurnikan persoalan mengenai dasar kepahlawanan.
Ketika tidak ada lagi kemungkinan memperoleh pengakuan dari orang-orang terdekat, tindakan Peter tidak dapat lagi dijelaskan melalui kebutuhan akan popularitas atau penerimaan sosial.
Ia tetap menyelamatkan masyarakat meskipun masyarakat tidak mengetahui siapa dirinya.
Dalam perspektif etika deontologis Immanuel Kant, tindakan moral memperoleh nilai dari prinsip kewajiban yang mendasarinya, bukan semata-mata dari keuntungan atau penghargaan yang diperoleh pelakunya.
Peter Parker berada dalam situasi yang memperlihatkan gagasan tersebut secara konkret.
Ia melakukan tindakan penyelamatan bukan karena berharap mendapatkan imbalan sosial, melainkan karena menganggap tindakan tersebut sebagai tanggung jawab moral.
Dengan demikian, Brand New Day menghadirkan perubahan penting dalam pemaknaan kepahlawanan.
Kepahlawanan tidak lagi terutama berkaitan dengan pengakuan publik, melainkan dengan kemampuan mempertahankan komitmen moral ketika pengakuan tersebut tidak tersedia.
Peter menjadi Spider-Man justru ketika Peter Parker tidak lagi dikenal.
Paradoks tersebut menjadi pusat kekuatan filosofis film.
Tubuh Peter kemudian menghadirkan persoalan lain. Evolusi biologis dari kasus kelebihan kekuatan laba-labanya membuat kemampuan yang selama ini menjadi sumber kekuatannya berubah menjadi sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat ia kendalikan.
Perubahan tersebut dapat dibaca melalui perspektif fenomenologi tubuh.
Tubuh bukan sekadar instrumen yang digunakan oleh kesadaran, melainkan bagian fundamental dari cara manusia mengalami dunia.
Maurice Merleau-Ponty, misalnya, menempatkan tubuh sebagai pusat pengalaman manusia.
Manusia tidak berada di dunia hanya melalui kesadaran abstrak, tetapi melalui tubuh yang mengalami, bergerak, merasakan, dan berinteraksi dengan lingkungan.
Dalam konteks Peter, perubahan tubuh berarti perubahan terhadap cara ia mengalami dirinya sendiri.
Spider-Man yang selama ini ia kenal mulai menjadi asing.
Kemampuan yang sebelumnya memberikan kontrol justru menciptakan ketidakpastian. Tubuh tidak lagi sepenuhnya mengikuti kehendak subjek.
Peter Parker dipaksa berhadapan dengan kenyataan bahwa dirinya bukanlah entitas yang selesai dan stabil.
Persoalan ini dapat dikaitkan dengan pemikiran Friedrich Nietzsche mengenai manusia sebagai proses becoming.
Manusia tidak berada dalam kondisi yang sepenuhnya final. Ia terus mengalami perubahan, konflik, dan transformasi.
Peter Parker berada dalam kondisi tersebut. Ia tidak dapat kembali menjadi Peter Parker sebelum No Way Home, tetapi ia juga belum mengetahui sepenuhnya siapa dirinya setelah semua perubahan tersebut.
Identitas akhirnya bukan benda yang dimiliki, melainkan proses yang terus berlangsung.
Karena itu, mutasi kekuatan Spider-Man memiliki fungsi simbolik yang penting.
Perubahan biologis tersebut dapat dipahami sebagai representasi dari perubahan eksistensial Peter.
Dunia luar telah berubah karena ia kehilangan hubungan sosialnya. Dunia dalam dirinya pun berubah melalui transformasi tubuh.
Krisis identitas berlangsung secara simultan pada dimensi sosial dan biologis.
Kehadiran Bruce Banner kemudian memperluas persoalan tersebut. Peter mencari bantuan dari seseorang yang memiliki pengalaman serupa dalam menghadapi kekuatan yang berada di luar kontrol manusia.
Banner merupakan figur yang hidup di antara dua keadaan yakni Bruce sebagai subjek rasional dan Hulk sebagai kekuatan destruktif yang tidak selalu dapat dikendalikan.
Pertemuan Peter dan Banner memperlihatkan bahwa kekuatan tidak selalu identik dengan kebebasan.
Kemampuan yang besar justru dapat menghasilkan bentuk keterasingan baru.
Semakin besar kekuatan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk memahami batas dan konsekuensi penggunaannya.
Ketika perangkat penghambat Banner dilepaskan dan Savage Hulk kembali muncul, film memperlihatkan rapuhnya batas antara rasionalitas dan dorongan destruktif.
Persoalan tersebut kembali membawa narasi superhero ke wilayah filsafat manusia.
Manusia bukan makhluk yang sepenuhnya transparan bagi dirinya sendiri.
Ada aspek biologis, emosional, dan psikologis yang tidak selalu dapat dikendalikan secara sempurna.
Rasionalitas memang memungkinkan manusia mengatur tindakan, tetapi rasionalitas tidak menghapus seluruh konflik internal manusia.
Peter dan Banner menghadapi persoalan yang berbeda, tetapi memiliki struktur yang serupa yakni keduanya harus belajar hidup dengan sesuatu yang berada di dalam diri mereka dan tidak sepenuhnya tunduk pada kehendak mereka.
Ancaman misterius yang mampu memanipulasi orang-orang di sekitar Peter menambahkan dimensi epistemologis dalam cerita.
Persoalannya bukan hanya siapa yang memiliki kekuatan paling besar, tetapi siapa yang mampu menentukan bagaimana realitas itu dipahami.
Jika persepsi, informasi, dan ingatan dapat dimanipulasi, maka manusia tidak hanya menghadapi persoalan kekuasaan atas tubuh, tetapi juga kekuasaan atas pengetahuan.
Hal ini relevan dengan kondisi masyarakat kontemporer.
Kehidupan sosial semakin bergantung pada arus informasi.
Apa yang dianggap benar sering kali tidak hanya ditentukan oleh pengalaman langsung, tetapi juga oleh informasi yang diterima, diulang, dan dipercaya.
Dalam konteks tersebut, manipulasi terhadap persepsi menjadi bentuk kekuasaan yang sangat penting.
Peter Parker berada dalam posisi yang unik. Ia mengetahui realitas tentang dirinya, sementara orang-orang di sekitarnya memiliki realitas yang berbeda.
Kebenaran personal dan kebenaran sosial tidak lagi berjalan secara bersamaan.
Persoalan tersebut mencapai bentuk simbolik yang kuat melalui adegan post-credit ketika perangkat pelacak milik Ned kembali mendeteksi keberadaan Spider-Man.
Adegan tersebut dapat dibaca sebagai tanda bahwa ingatan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya mekanis.
Penghapusan informasi tidak selalu berarti penghapusan seluruh jejak pengalaman.
Jika Ned pada akhirnya kembali mengingat Peter Parker maka film sedang memperkenalkan kemungkinan bahwa identitas tidak dapat dihapus hanya dengan menghapus representasinya dari memori.
Hubungan manusia meninggalkan jejak yang lebih kompleks.
Sebuah pengalaman dapat hilang dari ingatan sadar, tetapi struktur emosional dan sosial yang pernah terbentuk darinya mungkin tetap memiliki residu kesadaranya.
Dalam konteks ini, ingatan dapat dipahami sebagai salah satu fondasi identitas, tetapi bukan satu-satunya fondasi.
Kemunculan Jean Grey juga memberikan perspektif yang lebih luas.
Dunia Peter Parker sedang mengalami transformasi ontologis.
Kehadiran mutan menunjukkan bahwa definisi mengenai manusia tidak lagi dapat dibatasi pada kategori lama.
Jean Grey menjadi simbol dari munculnya bentuk subjek baru yang memiliki kemampuan dan pengalaman berbeda dari manusia pada umumnya.
Persoalan tersebut paralel dengan pengalaman Peter Parker.
Ia telah lama hidup sebagai individu yang berbeda karena kemampuan biologisnya.
Perbedaan tersebut tidak hanya membuatnya kuat, tetapi juga menempatkannya dalam posisi sosial yang ambigu. Ia berada di antara dunia manusia biasa dan dunia manusia super.
Karena itu, Brand New Day dapat dibaca sebagai narasi mengenai negosiasi identitas dalam dunia yang terus mengalami perubahan.
Peter kehilangan masa lalu, menghadapi perubahan tubuh, dan berhadapan dengan realitas sosial yang tidak stabil.
Akan tetapi, seluruh pengalaman tersebut justru memaksanya memahami bahwa identitas bukan sesuatu yang dapat dipertahankan dengan cara membekukan kehidupan.
Identitas terbentuk melalui kemampuan manusia untuk beradaptasi terhadap perubahan.
Di sinilah makna filosofis dari “brand new day” menjadi semakin jelas.
Hari baru bukan sekadar permulaan kronologis. Ia merupakan kondisi ketika seseorang harus membangun kembali makna setelah struktur kehidupan sebelumnya mengalami keruntuhan.
Peter tidak mendapatkan kembali kehidupan yang pernah dimilikinya. Ia harus menciptakan bentuk kehidupan baru dengan membawa seluruh pengalaman masa lalu sebagai bagian dari dirinya.
Pandangan tersebut dekat dengan pemikiran eksistensialisme.
Jean-Paul Sartre melihat manusia sebagai makhluk yang terus berhadapan dengan kebebasan dan tanggung jawab.
Manusia tidak dapat sepenuhnya memilih keadaan yang menimpanya, tetapi tetap memiliki ruang untuk menentukan respons terhadap keadaan tersebut.
Peter tidak memilih untuk dilupakan.
Ia tidak memilih kehilangan MJ dan Ned.
Ia juga tidak memilih tubuhnya mengalami perubahan.
Namun ia tetap memiliki pilihan mengenai bagaimana menjalani kehidupan setelah semuanya terjadi.
Pilihan tersebut menjadi dasar transformasi Peter Parker.
Ia tidak berusaha menghapus penderitaan, tetapi mengintegrasikannya ke dalam identitas baru.
Ia tidak kembali menjadi Peter Parker yang lama. Ia menjadi Peter Parker yang telah melewati kehilangan.
Pada akhirnya, film ini memperlihatkan bahwa identitas tidak terutama ditentukan oleh apa yang orang lain ingat tentang kita.
Identitas juga dibentuk oleh tindakan yang terus kita pilih ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikannya.
Peter mungkin tidak lagi dikenal oleh MJ, Ned, atau masyarakat luas sebagai Peter Parker.
Namun pilihan moralnya tetap membentuk dirinya.
Atau ia tetap melindungi, tetap bertanggung jawab, dan tetap mempertahankan prinsip bahwa kekuatan harus digunakan untuk kepentingan orang lain.
Dalam perspektif tersebut, Spider-Man bukan sekadar identitas rahasia di balik topeng.
Spider-Man merupakan proses etis untuk terus memilih menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Spider-Man: Brand New Day akhirnya dapat dipahami sebagai narasi tentang becoming—tentang manusia yang tidak pernah benar-benar selesai dengan dirinya sendiri.
Kehilangan, kesepian, perubahan tubuh, manipulasi ingatan, dan kemunculan manusia dengan kemampuan baru menjadi bagian dari satu persoalan yang sama: bagaimana manusia mempertahankan makna dirinya ketika dunia terus berubah?
Peter Parker tidak menemukan jawabannya melalui kekuatan baru.
Ia menemukannya melalui pilihan.
Ia mungkin telah kehilangan kehidupan lamanya, tetapi ia tidak kehilangan kemampuan untuk menentukan siapa dirinya.
Di tengah dunia yang melupakannya, Peter justru menemukan bentuk identitas yang paling fundamental yakni identitas yang tidak bergantung sepenuhnya pada pengakuan, melainkan pada tindakan yang dipilih secara sadar dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, menjadi Spider-Man bukan persoalan apakah dunia masih mengingat nama Peter Parker.
Persoalannya adalah apakah Peter Parker masih memilih untuk bertanggung jawab ketika dunia tidak lagi mengingatnya.
Jawaban atas pertanyaan itu menjadi inti filosofis dari Brand New Day yakni manusia tidak selalu dapat menentukan apa yang terjadi kepadanya, tetapi ia tetap memiliki kemungkinan untuk menentukan siapa dirinya melalui cara ia menghadapi apa yang terjadi.
Oleh Krisna Wahyu Yanuar






