
Urupedia – Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Blitar memunculkan perhatian publik terhadap keberadaan ruang literasi pada lingkungan pendidikan.
Perpustakaan SDN Tlogo 2 menjadi sorotan setelah disebut terdampak pembangunan fasilitas koperasi tersebut. Peristiwa itu kemudian membuka kembali perbincangan yang lebih luas tentang bagaimana negara menentukan arah pembangunan.
Ketika pemerintah mendorong penguatan ekonomi desa melalui koperasi, masyarakat kembali diingatkan bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari jumlah gedung yang berdiri, besarnya modal yang berputar, atau banyaknya aktivitas ekonomi yang tercipta.
Pembangunan juga berkaitan dengan kemampuan negara menjaga ruang yang membentuk manusia di balik setiap kebijakan.
Koperasi Desa Merah Putih merupakan salah satu program pemerintah yang diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa.
Melalui lembaga tersebut, pemerintah berharap desa memiliki pusat kegiatan ekonomi yang mampu memperkuat usaha bersama, memperbaiki rantai distribusi, serta membuka peluang kesejahteraan bagi warga.
Gagasan tersebut sesungguhnya memiliki akar sejarah yang kuat. Mohammad Hatta, tokoh yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, sejak masa awal kemerdekaan menempatkan koperasi sebagai fondasi perekonomian rakyat.
Bagi Hatta, koperasi bukan hanya tempat menjalankan aktivitas ekonomi, melainkan wadah untuk membangun kemandirian dan demokrasi ekonomi.
Namun, persoalan muncul ketika pembangunan ekonomi harus berhadapan dengan kebutuhan lain yang tidak kalah penting, yakni pembangunan manusia.
Keberadaan perpustakaan sekolah yang terdampak pembangunan fasilitas koperasi menjadi pengingat bahwa kemajuan ekonomi tetap membutuhkan fondasi pengetahuan.
Perpustakaan bukan sekadar ruang penyimpanan buku yang sunyi dan jarang diperhatikan. Ia merupakan tempat siswa mengenal gagasan baru, memperluas cakrawala berpikir, serta membangun kemampuan memahami berbagai persoalan.
Banyak perubahan besar dalam kehidupan manusia justru berawal dari kebiasaan sederhana, salah satunya ialah dengan membaca.
Hal tersebut menjadi perhatian karena budaya literasi Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Berdasarkan data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Tetapi, peningkatan itu masih menghadapi persoalan pemerataan akses bacaan, kualitas layanan perpustakaan, hingga ketersediaan ruang literasi yang layak di berbagai daerah.
Masalah literasi tidak berhenti pada persoalan jumlah buku. Ekosistem membaca membutuhkan dukungan yang lebih luas, mulai dari fasilitas yang memadai, pengelolaan yang baik, kegiatan literasi yang berkelanjutan, hingga kebijakan yang menjadikan pengetahuan sebagai bagian penting dari pembangunan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekonomi dan literasi seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua kepentingan yang saling berebut ruang. Keduanya justru memiliki hubungan yang saling menguatkan.
Koperasi membutuhkan orang-orang yang mampu memahami aturan, mengelola organisasi, mengambil keputusan, serta melakukan pengawasan secara kritis. Semua kemampuan itu tumbuh melalui pendidikan dan pengetahuan.
Sejarah koperasi sendiri membuktikan bahwa ekonomi rakyat tidak pernah berkembang hanya karena modal. Ia juga membutuhkan kesadaran, pendidikan, dan kemampuan berpikir.
Gagasan Hatta mengenai koperasi lahir dari keyakinan bahwa rakyat harus diberdayakan, bukan hanya diberikan fasilitas ekonomi.
Tidak mengherankan apabila Hatta dikenal bukan hanya sebagai tokoh koperasi, tetapi juga sebagai sosok yang menempatkan buku dan ilmu pengetahuan sebagai jalan menuju kemerdekaan berpikir.
Ungkapannya, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas,” menggambarkan keyakinannya bahwa kebebasan manusia tidak berhenti pada terbebas dari penjajahan, tetapi juga dari keterbelakangan pengetahuan.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa koperasi dan literasi memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Sebuah lembaga ekonomi rakyat hanya dapat berjalan dengan baik apabila ditopang oleh anggota yang memiliki wawasan, kesadaran, dan kemampuan berpikir mandiri.
Pemerintah saat ini juga tengah mempersiapkan sumber daya manusia yang akan mengelola Koperasi Desa Merah Putih.
Para calon manajer koperasi mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan manajemen, kepemimpinan, serta kedisiplinan dalam menjalankan organisasi.
Langkah tersebut tentu penting agar koperasi tidak berhenti sebagai simbol program pemerintah. Akan tetapi, pengelolaan koperasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan administratif dan kedisiplinan kerja.
Lembaga tersebut juga membutuhkan budaya berpikir kritis dari anggota dan masyarakat yang menjadi bagian di dalamnya.
Prinsip koperasi sejak awal berdiri berdasarkan demokrasi ekonomi. Setiap anggota memiliki ruang untuk berpartisipasi, menyampaikan gagasan, serta menentukan arah organisasi.
Akan tetapi nilai tersebut akan sulit diwujudkan apabila masyarakat tidak memiliki kebiasaan membaca, memahami informasi, dan menilai sebuah persoalan secara rasional.
Pemikiran Tan Malaka melalui gagasan buku Madilog juga menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan dan logika dalam membangun bangsa.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat perlu memiliki cara berpikir ilmiah agar tidak mudah menerima sesuatu tanpa memahami dasar dan akibatnya.
Karena itu, perdebatan mengenai perpustakaan dan pembangunan koperasi di Blitar tidak semata-mata berbicara tentang satu bangunan.
Persoalan tersebut menggambarkan tantangan pembangunan yang lebih besar, bagaimana negara menentukan prioritas ketika berbagai kebutuhan masyarakat sama-sama penting.
Bangunan ekonomi memang dibangun secara cepat. Gedung dapat didirikan, papan nama dipasang, dan program diluncurkan melalui berbagai seremoni. Sementara itu, literasi bekerja melalui proses yang lebih panjang.
Dampaknya tidak selalu tampak dalam waktu singkat, karena ia tumbuh melalui perubahan cara berpikir manusia. Ruang literasi sering menjadi bagian yang terlupakan karena hasilnya tidak selalu mudah dipamerkan.
Tidak banyak sorotan ketika seorang anak menemukan buku yang mengubah pandangannya terhadap dunia. Tidak banyak seremoni ketika kebiasaan membaca perlahan membentuk generasi yang lebih kritis dan mandiri.
Koperasi Desa Merah Putih tetap merupakan langkah yang perlu didukung sebagai upaya memperkuat ekonomi desa. Namun, penguatan ekonomi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan ruang pengetahuan.
Sebab koperasi yang kuat bukan hanya membutuhkan gedung, modal, dan pengelola yang disiplin, tetapi juga manusia yang mampu memahami dan mengarahkannya.
Pemerintah memiliki tanggung jawab memastikan setiap kebijakan pembangunan tetap berorientasi pada manusia.
Tujuan akhir pembangunan bukan sekadar memperbanyak infrastruktur, melainkan menciptakan masyarakat yang mampu mengelola, menjaga, dan memberi makna terhadap setiap kemajuan yang dibangun.
Koperasi membutuhkan tempat untuk bergerak, tetapi literasi membutuhkan ruang untuk melahirkan manusia yang kelak menggerakkan koperasi tersebut.
Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan, apalagi membuat salah satunya harus kehilangan tempat.
Ekonomi yang kuat tidak hanya lahir dari bangunan dan modal, melainkan dari masyarakat berpengetahuan yang mampu menentukan arah perjalanan bangsanya.






