Kebudayaan

Di Cibun, Babad Pasir Luhur Menemukan Pewaris Baru

×

Di Cibun, Babad Pasir Luhur Menemukan Pewaris Baru

Sebarkan artikel ini
Dokumentasi: Bachtiar Djanan

BANYUMASUrupedia.id Sore itu, Rumah Cibun di Dukuh Cibun, Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, menjadi ruang pertemuan lintas generasi. Di tengah iringan gamelan masyarakat, maestro Lengger Lanang Banyumas, Rianto, menari.

Seorang lelaki berusia sekitar 70 tahun, Pak Kedi, kemudian masuk dan ikut menari. Tak lama berselang, seorang anak sekolah dasar bernama Nanang menyusul.

Ketiganya menari dalam satu panggung yang sama. Maestro, generasi tua, dan seorang anak kecil seolah memperlihatkan bahwa kesenian tradisi tidak hanya hidup dalam ingatan masa lalu, tetapi masih memiliki kemungkinan untuk diwariskan.

Adegan serupa kembali terlihat beberapa jam kemudian. Tiga anak berdiri di atas batu di area terbuka Rumah Cibun. Aditia Rifqi, 10 tahun, Dwi Nanang Setiawan, 8 tahun, dan Ismey Jumiati, 12 tahun, bergantian melantunkan Macapat Babad Pasir Luhur.

Suara anak-anak itu menjadi bagian dari rangkaian Nyore Sandekala, Twilight Dinner #3 – Kenduren Budaya Dukuh Tjiboen, Sabtu (8/8/2026). Sekitar 30 orang hadir dalam kegiatan yang mempertemukan warga Cibun dengan seniman, akademisi, pegiat lingkungan, jurnalis, serta pelestari budaya.

Acara tersebut tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni. Tembang Kinanthi, tari, rembug budaya, jamuan pangan lokal, live painting lanskap Cibun, suling bambu Rahman Khan, hingga lantunan Babad Pasir Luhur menjadi rangkaian yang memperlihatkan hubungan erat antara kebudayaan, masyarakat, dan lingkungan.

Menyelamatkan Suara yang Hampir Hilang

Tim Gamelan Cibun

Babad Pasir Luhur merupakan bagian penting dari ingatan sejarah masyarakat Banyumas. Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menyebutnya sebagai salah satu babad tertua Banyumas. Namun, keberadaan teks tersebut tidak selalu berjalan beriringan dengan keberlanjutan tradisi pembacaannya.

Di Cibun, tradisi maca Babad Pasir Luhur pernah berada di ambang kepunahan. Salah seorang pemaca yang masih menyimpan pengetahuan tersebut adalah Mbah Sikun. Ketika Nisa Roiyasa mengenal Cibun pada 2019, tradisi tersebut nyaris tidak lagi memiliki penerus.

Nisa sendiri bukan warga Cibun. Ia merupakan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman dan berasal dari Kabupaten Tegal. Ketertarikannya terhadap tradisi tersebut bermula dari upaya menemukan kembali jejak teks Babad Pasir Luhur yang masih tersisa di masyarakat.

Sebagian naskah telah dibuang, sementara lainnya tercecer dan hilang. Di antara yang tersisa terdapat beberapa bagian yang telah dilatinkan serta buku tulisan tangan Mbah Sikun menggunakan aksara Jawa.

Pencarian tersebut kemudian membawa Nisa menelusuri berbagai literatur dan berdiskusi dengan Prof. Sugeng Priyadi, peneliti Babad Pasir. Ia juga menelusuri penerbit di Yogyakarta yang menerbitkan teks Babad Pasir Luhur yang kemudian digunakan dalam proses pembelajaran di Cibun.

Dalam penelitian sebelumnya, J. Knebel, peneliti Belanda, menerbitkan Babad Pasir pada 1900 berdasarkan manuskrip Banyumas. Teks yang kini dibaca masyarakat Cibun merupakan hasil kompilasi tersebut yang kemudian direvitalisasi oleh Prof. Sugeng Priyadi.

Proses penghidupan kembali tradisi itu dilakukan secara bertahap. Nisa mendapat pendampingan dari dalang jemblung Agung Wicaksana, Iang Kie Bae yang melatih anak-anak dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah, serta koleganya di kampus, Dr. Chusni Hadiati dan Enni Nur Aeni, M.A.

Kelompok pemaca mula-mula dibangun dari kalangan orang dewasa. Setelah tradisi tersebut mulai tumbuh kembali, pewarisan kemudian diarahkan kepada anak-anak.

Tahun 2022 menjadi titik penting. Mbah Sikun meninggal dunia. Namun pengetahuan yang selama ini ia simpan tidak ikut berakhir.

Pada tahun yang sama, anak-anak Cibun tampil dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah di Bandungan, Kabupaten Semarang. Mereka membawakan kisah Raden Kamandaka dan Dewi Ciptarasa melalui maca babad dan jemblungan, tradisi akapela yang berkembang dalam kebudayaan Banyumas.

Ketika Babad Masih Ada di Meja Makan

Di Cibun, Babad Pasir Luhur tidak berhenti sebagai teks lama yang dibacakan dalam sebuah acara budaya. Sebagian pengetahuan yang terkandung di dalamnya masih berkelindan dengan kehidupan masyarakat.

Era Prima Nugraha dari komunitas Sthanaluhur Indonesia menjelaskan keterkaitan tersebut ketika memperkenalkan sajian dalam Twilight Dinner. Salah satunya adalah ikan hasil marak, yaitu ikan yang ditangkap dengan cara membendung atau mengalihkan aliran sungai.

Praktik tersebut memiliki jejak dalam Babad Pasir Luhur. Dalam kisahnya, aktivitas menangkap ikan di Sungai Logawa dengan membendung aliran air menjadi bagian dari cerita pertemuan Kamandaka dan Dewi Ciptarasa.

Di Cibun, praktik itu bukan sekadar bagian dari cerita masa lampau. Sungai masih digunakan, pengetahuan menangkap ikan masih dikenal, dan hasilnya dapat hadir di meja makan.

Hal yang sama tampak melalui berbagai hidangan lokal seperti Sega Tutu, Cimplung Dawegan, Ayam Burus, Jangan Pakis Kecombrang, Umbut Warak, dan Tempe Ireng.

Malam itu, Babad Pasir Luhur seolah tidak hanya dibaca. Sebagian dunia yang diceritakannya masih bisa dirasakan melalui makanan.

Ketika Tradisi Berhadapan dengan Pembangunan

Hubungan antara kebudayaan dan alam menjadi persoalan lain yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Rianto menyebut Cibun memiliki energi yang terasa organik. Ia bahkan pernah datang bersama Pak Tarmaji dan menari di tengah sawah.

Namun, lanskap yang ia kenal perlahan berubah. Sekitar dua bulan sebelum kegiatan, Rianto masih melihat sebuah pohon besar yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun. Ketika kembali pada 8 Agustus, pohon tersebut telah ditebang dan hanya menyisakan potongan kayu.

Masyarakat mencatat sedikitnya empat pohon besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun ditebang dalam waktu kurang dari dua tahun berkaitan dengan persiapan pembangunan jembatan.

Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH), Bangkit Ari Sasongko, mengingatkan pentingnya perencanaan pembangunan yang mempertimbangkan kekayaan alam dan budaya Cibun.

“Kalau salah dalam merencanakan pembangunan, semua yang indah ini akan hilang,” ujarnya.

Persoalan tersebut kemudian dibawa dalam ruang rembug budaya. Pembangunan jembatan dan pengaspalan jalan dipandang perlu dikaji dengan mempertimbangkan aspirasi masyarakat serta keberlanjutan lingkungan.

Dari Pertunjukan Menjadi Gerakan

Rembug budaya yang dipandu Dr. Nurul Hidayat, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama dan Alumni Fakultas Teknik Unsoed, memperluas pembicaraan dari kesenian menuju posisi kebudayaan dalam pembangunan.

Budaya, dalam pembahasan tersebut, tidak dipandang sebatas tari, musik, atau pertunjukan. Ia mencakup pengetahuan masyarakat, pangan lokal, hubungan dengan sungai, lanskap, hingga ingatan sejarah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nasirun Purwokartun dari Bale Pustaka turut membawa pengalaman panjang dalam pelestarian Babad Banyumas. Sejak 2014, ia mengumpulkan sekitar 100 naskah babad Banyumas dan menerjemahkan lebih dari 25 naskah. Dari proses tersebut kemudian lahir lebih dari 100 judul Serial Babad Banyumas.

Menurut Nasirun, tradisi maca babad yang dilakukan anak-anak Cibun memiliki keistimewaan tersendiri. Bukan hanya karena tradisinya semakin jarang ditemukan, tetapi karena pengetahuan lama tersebut masih dapat diwariskan secara langsung kepada generasi muda.

Perjalanan menghidupkan kembali tradisi itu pun tidak selalu mudah. Nisa menghadapi pasang surut, kelelahan, dan penolakan dari sebagian warga yang belum melihat pentingnya tradisi tersebut.

Dalam prosesnya, ia tidak jarang berjalan kaki sendirian melewati jembatan gantung menuju Cibun pada malam hari untuk mengawal latihan.

“Ketika saya merasa kecapekan dan hilang semangat, datang dukungan dari teman-teman yang lain,” katanya.

Kini dukungan tersebut semakin meluas. Seniman, akademisi, pelukis, jurnalis, pegiat lingkungan, pelestari babad, mahasiswa, dan komunitas kebudayaan ikut mengambil bagian.

Rianto menjadi salah satu di antaranya. Maestro Lengger Lanang Banyumas itu telah membawa seni tradisi Banyumas ke berbagai panggung nasional dan internasional.

Namun, pertanyaan yang lebih besar kemudian muncul dalam diskusi. Tedjo dari Perkumpulan Hidora Banyuwangi mengingatkan agar kegiatan budaya tidak berhenti pada pertemuan dan percakapan.

“Yang paling penting, habis ini kita mau melakukan apa? Apakah hanya puas di diskusi, atau mau berbuat sesuatu?” katanya.

Pertanyaan itu memperoleh jawaban sebelum para peserta meninggalkan Rumah Cibun. Mereka menandatangani Prasasti Cibun sebagai bentuk komitmen untuk bergerak bersama dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Cibun.

Malam semakin larut ketika anak-anak kembali membaca Babad Pasir Luhur.

Di sebuah dusun kecil, suara yang hampir hilang itu ternyata masih terdengar.

Kini persoalannya bukan semata apakah anak-anak Cibun masih mau membaca babad. Masa depan tradisi itu juga bergantung pada keberlangsungan sungai, pohon-pohon tua, lanskap desa, serta keberpihakan pembangunan terhadap kehidupan masyarakat.

Sebab kebudayaan bukan sekadar hiasan yang ditampilkan ketika ada perayaan.

Di Cibun, kebudayaan adalah ingatan yang hidup—tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, bagaimana mereka berhubungan dengan alam, dan apa yang ingin mereka wariskan kepada generasi setelahnya.

Advertisements