Feature

Tradisi Salalahuk, Cara Warga Desa Jajar Menghampiri Kemesraan Beribadah di Bulan Ramadan

×

Tradisi Salalahuk, Cara Warga Desa Jajar Menghampiri Kemesraan Beribadah di Bulan Ramadan

Sebarkan artikel ini

TRENGGALEK — Selepas salat Tarawih, suasana sejumlah musala di Desa Jajar, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, belum sepenuhnya berakhir.

Ketukan bedug atau jedor mulai terdengar, disusul lantunan salawat dengan langgam khas yang telah akrab di telinga masyarakat.

Suara itu mengalun di tengah malam Ramadan, menghadirkan suasana religius yang sekaligus menjadi bagian dari ingatan kolektif warga.

Masyarakat Desa Jajar menyebut lantunan tersebut sebagai Salalahuk. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah salat Tarawih selama bulan Ramadan.

Tidak sekadar salawatan, Salalahuk memiliki langgam khusus yang diwariskan secara turun-temurun dan diiringi ketukan bedug atau jedor. Irama tersebut menjadi ciri yang membedakannya dari lantunan salawat pada umumnya.

Tradisi salawatan sebenarnya telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan. Salalahuk memiliki ruang tersendiri karena keberadaannya begitu lekat dengan Ramadan.

Setelah jamaah menunaikan Tarawih, lantunan Salalahuk menjadi pengikat suasana malam sekaligus ruang kebersamaan bagi warga yang masih bertahan di musala.

Keunikan Salalahuk tidak hanya terletak pada iramanya. Lantunan tersebut juga menyimpan ajaran keislaman yang disampaikan melalui perpaduan bahasa Arab dan bahasa Jawa.

Ajaran agama yang biasanya dijumpai dalam pengajian atau kitab diterjemahkan ke dalam bentuk lantunan sehingga lebih mudah diingat dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pada bagian awal, Salalahuk berisi pujian kepada Nabi Muhammad Saw serta doa memohon ampun kepada Allah Swt. Lantunan kemudian menjelaskan 20 sifat wajib Allah dengan langgam khas yang menjadi identitas Salalahuk.

Pembahasan berlanjut mengenai malaikat sebagai hamba sekaligus utusan Allah, termasuk tugas dan cara beribadah mereka. Dua kalimat syahadat juga menjadi bagian dari lantunan tersebut.

Salalahuk kemudian mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad Saw, mulai dari kelahiran, hijrah, kehidupan di Madinah, hingga wafatnya Rasulullah. Sosok Nabi diperkenalkan melalui sifat-sifat wajib bagi rasul, yakni siddiq, amanah, tabligh, dan fatanah.

Lantunan itu akhirnya ditutup dengan salawat dan doa keselamatan bagi masyarakat serta tanah air.

Rangkaian tersebut membuat Salalahuk tidak hanya berfungsi sebagai lantunan selepas Tarawih, tetapi juga menjadi sarana masyarakat untuk mengenal dan mengingat kembali ajaran Islam melalui tradisi yang dekat dengan kehidupan mereka.

Asal-usul Salalahuk sendiri belum diketahui secara pasti. Para pelantun sepuh di Desa Jajar mengaku telah mengenalnya sejak masih kecil.

Sebagian masyarakat mengaitkan tradisi tersebut dengan jejak dakwah Walisanga yang dikenal menggunakan pendekatan kebudayaan dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa.

Nama Salalahuk dipercaya merupakan pelafalan masyarakat Jawa terhadap kata Arab shallallahu. Perpaduan bahasa Jawa dan bahasa Arab dalam lantunan tersebut menunjukkan adanya proses akulturasi antara ajaran Islam dan kebudayaan lokal.

Agama tidak hanya disampaikan melalui ruang formal, tetapi juga melalui kesenian, bahasa, irama, dan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat.

Warisan tersebut kini menghadapi tantangan regenerasi. Sebagian besar pelantun Salalahuk merupakan masyarakat sepuh. Generasi muda belum banyak yang menguasai lantunan beserta langgamnya secara utuh.

Jika tidak diwariskan, tradisi yang selama ini hidup melalui suara para pelantun tersebut berisiko semakin jarang terdengar.

Masyarakat Desa Jajar berupaya menjaga keberadaan Salalahuk melalui berbagai kegiatan kebudayaan. Salah satunya melalui Megengan Show yang digelar setiap tahun.

Dalam kegiatan tersebut, Salalahuk kembali ditampilkan sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat sekaligus menjadi ruang untuk mengenalkan tradisi tersebut kepada generasi muda.

Di tengah perubahan zaman, Salalahuk mungkin hanya terdengar sebagai lantunan selepas salat Tarawih.

Namun, di balik suara para pelantunnya tersimpan ajaran Islam, bahasa Jawa, irama tradisional, serta ingatan tentang bagaimana masyarakat Desa Jajar merawat kehidupan beragama melalui kebudayaan.

Ramadan bagi warga Desa Jajar pun bukan sekadar tentang menjalankan ibadah. Ada suara yang terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Ada langgam yang diwariskan agar tetap dikenal.

Ada pula kebersamaan yang membuat malam-malam Ramadan terasa lebih dekat. Melalui Salalahuk, warga Desa Jajar seakan menemukan cara sendiri untuk menghampiri kemesraan beribadah sekaligus merawat jejak kebudayaan yang telah lama hidup di tengah mereka.

Advertisements