
Di malam Satu Suro itu, hujan turun dengan ragu-ragu, seperti sedang berunding dengan angin apakah mereka benar-benar ingin turun atau hanya sekadar lewat. Di sudut kampung Mlarak, seorang lelaki bernama Marsam sedang menyeduh kopi dengan air yang tak benar-benar mendidih. Bukan karena ia malas, tapi karena sejak tadi siang kompor gasnya menyuarakan dengkuran aneh, seolah ditunggangi jin lapar yang gagal menyalakan api.
“Ini malam Satu Suro, Sam,” kata Warto, tetangganya, yang datang tanpa diundang, membawa sekantong gorengan yang entah sudah keberapa kali digoreng ulang.
Marsam hanya mendengus. Ia tahu, malam Satu Suro di kampungnya bukan sekadar malam pergantian kalender Jawa. Ia adalah malam penuh aura, mitos, dan gangguan sinyal.
Warto menaruh gorengan di meja. “Tahu nggak, di malam kayak gini, keris-keris tua bisa berdendang. Ada yang bilang, mereka ngobrol pakai bahasa Kawi. Makanya jangan main sembarangan.”
Marsam menyeruput kopi setengah panasnya. “Warto, kamu tahu nggak, yang lebih serem dari keris menari?”
“Apa?”
“Tagihan listrik tanggal lima.”
Warto tertawa, tapi cepat berhenti, karena terdengar bunyi ketukan di pintu. Tiga kali. Pelan. Berirama. Seperti notasi gamelan yang lupa ketukan.
“Siapa malam-malam gini?” gumam Marsam.
Warto mencolek bahu Marsam, setengah becanda, setengah takut. “Mungkin si Buto Nyetir… yang suka nebeng ojek tengah malam.”
Marsam mendekati pintu. Dibukanya perlahan.
Tak ada siapa-siapa.
Hanya kabut.
Dan sepiring rawon, masih mengepul, diletakkan rapi di atas keset.
“Ini pasti prank,” kata Warto, meski dalam hatinya ia tahu: prank di kampung Mlarak biasanya bukan bawa rawon, tapi lempar jengkol.
Marsam mengambil rawon itu. Aromanya menggoda. Bau kluwek yang khas, dan daging yang seperti menggoda lidah manusia biasa untuk menjadi tak biasa.
“Makan, ah,” kata Marsam.
“Jangan sembrono, Sam! Itu rawon dari mana?!”
Marsam mengangkat bahu. “Lha wong dikasih, masak ditolak. Rejeki.”
Dengan santainya ia mengambil sendok, menyeruput kuahnya.
Tiba-tiba, suasana berubah. Dinding rumah seperti menyusut, waktu melambat, dan lampu petromaks tua di pojok ruangan menyala dengan sendirinya.
Warto mulai mundur. “Sam… wajahmu… lo kok—lo kok jadi kayak Eyang Brotoseno!”
Marsam menoleh ke cermin. Memang, wajahnya berubah. Bukan tua, bukan muda, tapi… mirip tokoh pewayangan yang lupa pernah hidup sebagai manusia.
Marsam tidak panik. Justru ia tenang.
“Mungkin ini rawon dari alam seberang.”
Malam itu, mereka berdua terduduk. Tak bisa keluar rumah, karena setiap jendela memperlihatkan hutan pinus, padahal rumah Marsam berada di tengah kampung. Warto memutuskan untuk berdoa, sementara Marsam malah mengambil rawon lagi.
“Sam, kamu ngga takut?”
Marsam hanya tersenyum. “Hidup ini, Warto, sudah banyak rasa. Tinggal satu yang belum: rasa menerima.”
Warto mengerutkan dahi. “Menerima apa?”
“Menerima kalau mungkin kita memang bagian dari cerita yang belum selesai ditulis. Kayak tokoh wayang yang sadar dia hanya wayang, tapi tetap main dengan sepenuh hati.”
Di luar, terdengar suara kendang.
Dan suara gamelan.
Pelan.
Dari arah barat.
Seolah malam Satu Suro membuka jalan menuju pertunjukan yang hanya bisa dilihat jika hatimu belum penuh oleh sinisme.
Tiba-tiba, muncullah sosok perempuan tua. Berpakaian lurik. Matanya tajam. Tapi senyumnya hangat seperti bubur kacang ijo gratis dari musala.
“Sam… kau sudah makan rawon itu?”
Marsam mengangguk.
“Bagus. Sekarang kau bisa melihat.”
Melihat apa?
Seketika, dinding rumahnya roboh. Tapi bukan dalam arti harfiah. Lebih seperti… larut. Rumah itu terbuka ke semesta lain.
Ada keris menari.
Ada kuda terbang tapi ngos-ngosan.
Ada pohon beringin dengan buah berbentuk wajah manusia yang tersenyum atau marah tergantung siapa yang memandang.
Marsam dan Warto melihat semuanya.
“Ini… dunia yang ditinggalkan mitos. Mereka belum pergi, hanya disembunyikan.”
Perempuan tua itu bicara pelan. “Satu Suro bukan untuk ketakutan. Ia untuk mengingat. Bahwa antara yang kasat mata dan tak kasat mata, hanya dibatasi oleh keyakinan.”
Warto sudah setengah pingsan. Tapi Marsam tenang. Ia merasa akrab dengan tempat itu. Ia teringat cerita simbahnya dulu, bahwa manusia Jawa adalah manusia simbol: hidup di antara geguritan dan kebatinan.
“Apa saya mati?” tanya Marsam.
Perempuan tua tertawa. “Tidak. Kau hanya melintasi batas. Tapi batas itu memang harus dilintasi sekali seumur hidup.”
“Maksudnya?”
“Setiap manusia Jawa yang lupa akar, akan suatu saat diingatkan. Kadang lewat mimpi. Kadang lewat suara kentongan. Dan kadang… lewat sepiring rawon.”
Marsam tertawa. Ia sadar, ini bukan sekadar kejadian aneh. Ini adalah pelajaran. Bahwa menjadi Jawa bukan soal bisa nembang macapat atau tahu jamu pegal linu.
“Tapi tentang rasa. Rasa hormat, rasa batin, dan rasa peka terhadap sesuatu yang tak terucap.”
Pagi datang seperti biasa.
Marsam terbangun di dipan bambunya.
Tak ada rawon.
Tak ada Warto.
Tak ada perempuan tua.
Tapi jendela rumahnya terbuka, dan dari luar ada suara pelan:
“Sam… kopi nggak?”
Itu Warto. Masih hidup. Masih bernafas. Tapi kini ia memandang Marsam dengan tatapan berbeda. Seperti tahu bahwa malam tadi bukan mimpi.
“Sam… semalam kita ke mana?”
Marsam tersenyum. “Mungkin ke masa lalu. Mungkin ke masa depan.”
“Lalu apa maknanya, Sam?”
Marsam menuang kopi, kali ini benar-benar mendidih.
“Maknanya begini, To. Hidup ini kadang kayak rawon. Hitam, pahit, aneh, tapi tetap dicari karena ada rasa yang tidak bisa dijelaskan.”
Warto mengangguk. “Tapi rawonnya tadi malam itu… enak banget.”
Marsam tertawa. “Makanya jangan suka menolak rejeki, meski datang dari alam lain.”
Dan di langit, awan membentuk bayangan keris.
Tamat.






