
Jakarta — Urupedia.id- Peta politik nasional kembali mengalami dinamika menjelang Pemilu 2029.
Hingga Januari 2026, setidaknya dua kekuatan politik baru secara resmi mendeklarasikan diri sebagai partai politik, yakni Partai Gema Bangsa (Gerakan Mandiri Bangsa) dan Partai Gerakan Rakyat.
Keduanya hadir dengan latar belakang, basis massa, serta arah politik yang berbeda, namun sama-sama mengklaim sebagai alternatif baru dalam demokrasi Indonesia.
Partai Gema Bangsa, Desentralisasi dan Kemandirian Nasional
Partai Gema Bangsa secara resmi dideklarasikan pada 17 Januari 2026, setelah sebelumnya diluncurkan sebagai inisiasi gerakan politik setahun lebih awal, tepatnya pada 17 Januari 2025.
Partai ini dipimpin oleh Ahmad Rofiq, tokoh politik yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Perindo dan tercatat sebagai salah satu pendiri Partai NasDem.
Struktur kepemimpinan partai ini juga diisi oleh sejumlah figur yang memiliki pengalaman di pemerintahan dan dunia kebijakan publik.
Muhammad Sopiyan dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal, sementara nama-nama seperti Andogo Wiradi—mantan Deputi Kantor Staf Presiden (KSP)—serta Joko Nugroho disebut sebagai tokoh kunci dalam perumusan arah strategis partai.
Secara ideologis, Partai Gema Bangsa mengusung tiga visi utama yakni Indonesia Mandiri, Desentralisasi Politik, dan semangat Indonesia Reborn.
Partai ini menekankan pentingnya kedaulatan ekonomi dan politik nasional tanpa ketergantungan pada kekuatan asing, serta mendorong penguatan demokrasi berbasis daerah agar tidak terpusat dan elitis.
Dalam posisi politik nasional, Partai Gema Bangsa secara terbuka menyatakan dukungan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk melanjutkan kepemimpinan nasional.
Sikap ini menempatkan Gema Bangsa sebagai bagian dari arus politik keberlanjutan pemerintahan pasca-Pemilu 2024.
Partai Gerakan Rakyat, Kendaraan Politik Relawan Perubahan
Sehari setelah deklarasi Gema Bangsa, Partai Gerakan Rakyat secara resmi ditetapkan sebagai partai politik pada 18 Januari 2026, bertepatan dengan pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I di Jakarta.
Partai ini dipimpin oleh Sahrin Hamid dan berakar dari Ormas Gerakan Rakyat yang dideklarasikan pada Februari 2025.
Gerakan Rakyat sejak awal dikenal sebagai wadah konsolidasi relawan pendukung Anies Baswedan pasca-Pilpres 2024.
Transformasi dari ormas menjadi partai politik menandai eskalasi gerakan tersebut dari aktivisme sipil menuju arena elektoral formal.
Secara visual dan simbolik, Partai Gerakan Rakyat identik dengan warna oranye dan slogan “Indonesia Menyala”, yang merepresentasikan semangat perubahan dan optimisme politik.
Dalam platformnya, partai ini mengusung agenda perubahan struktural dan penguatan partisipasi rakyat melalui program sekolah politik kerakyatan yang dikenal dengan istilah Spartan.
Berbeda dengan Gema Bangsa, Partai Gerakan Rakyat secara tegas menyatakan diri sebagai kendaraan politik untuk mendukung Anies Baswedan sebagai calon presiden di masa depan.
Dengan demikian, partai ini menempatkan dirinya sebagai oposisi ideologis terhadap arus politik keberlanjutan.
Dua Arah, Satu Tujuan Elektoral
Kemunculan Partai Gema Bangsa dan Partai Gerakan Rakyat menegaskan bahwa kontestasi menuju Pemilu 2029 tidak hanya diwarnai oleh partai-partai lama, tetapi juga oleh kekuatan baru yang lahir dari fragmentasi elite dan relawan politik pasca-Pilpres 2024.
Jika Gema Bangsa mengandalkan jejaring mantan elite partai besar dan narasi stabilitas serta desentralisasi, maka Gerakan Rakyat bertumpu pada militansi relawan, simbol perubahan, dan politik gerakan.
Perbedaan arah dukungan—antara Prabowo Subianto dan Anies Baswedan—menunjukkan bahwa polarisasi politik nasional masih menjadi faktor penting dalam pembentukan partai baru.
Dengan deklarasi resmi ini, kedua partai diperkirakan akan mulai mempersiapkan diri menghadapi tahapan verifikasi dan konsolidasi nasional sebagai syarat menjadi peserta Pemilu 2029, sekaligus menguji sejauh mana daya tarik politik baru mampu bersaing di tengah dominasi partai mapan.
Oleh: Krisna Wahyu Yanuar






