Esai

Darmaning Satriya, Kewajiban Para Ksatria

×

Darmaning Satriya, Kewajiban Para Ksatria

Sebarkan artikel ini
Sumber: https://www.proserang.com/ragam/68911098284/selain-sri-krishna-ini-8-kesatria-hebat-yang-tidak-ikut-perang-mahabharata

Urupedia.id- Dalam pewayangan (pedhalangan) terdapat suatu model kepemimpinan ksatria (satriya) yang barangkali jika diterapkan atau dijalankan di zaman sekarang pun tetap relevan untuk dibaca kembali.

Nilai- nilai yang ada adalah sebagai bentuk darma yang selalu dijunjung tinggi.

Kepemimpinan para ksatria (satriya) tersebut, yakni digambarkan dalam pewayangan, terutama, tokoh titisan Bathara Whisnu; di antaranya Prabu Harjuna Sasrabahu (Raja Maespati), Sri Rama Wijaya (Raja Ayodya) dan Sri Bathara Kresna (Raja Dwarawati) serta Raden Arjuna Kesatria di Madukara.

Sebagai titisan Bathara Whisnu, mereka mengemban tugas menegakkan keadilan dan kebenaran serta memayu hayuning bawana (menyelamatkan dan memakmurkan bumi seisinya).

Pendek kata, mereka sebagai tauladan harus berani bersikap tegas yang identik dengan semboyan amar maruf nahi munkar (mengajak kebajikan dan mencegah atau memerangi kejahatan).

Begitulah, kepemimpinan para ksatria (satriya) memang memegang peran penting, karena para ksatria memiliki kewajiban melaksanakan darmaning satriya, sebagai berikut;

Pertama, Ngayomi wasu pitri pandhita-resi ingkang ulah puja mesubrata (melindungi wasu pitri pandhita-resi yang sedang ulah puja mesubrata).

Kedua, Rumeksa raharjaning praja bumi kelahiran (memelihara keselamatan atau kesejahteraan negara dan bumi kelahiran)

Ketiga, Trisna bangsa welas asih mring kawula dasih (mencintai bangsa dan memberikan kasih sayang kepada rakyat jelas).


Keempat, Setya ing janji nuhoni sabda ingkang wus kawedhar (menepati janji yang sudah diucapakan.


Kelima, Tundhuk ing bebener adhedhasar adil (tunduk patuh terhadap kebenaran berdasarkan keadilan)

Demikianlah kandungan lima darmaning satriya (tugas atau kewajiban para ksatria atau pemimpin) dalam pewayangan.

Marilah sekarang kita melihat tujuan negara yang musti dijalankan oleh pemipin negara (melalui pemerintah Indonesia) sebagaimana disebutkan dalam

Pembukaan UUD 1945 bahwa tujuan negara, yakni;

Pertama, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Kedua, memajukan kesejahteran umum.
Ketiga, mencerdaskan kehidupan bangsa.
Keempat, melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Jika kita perhatikan secara seksama antara darmaning satriya dengan tujuan negara yang musti dijalankan oleh para pemimpin di negara kita, bukankah hampir sama dan selaras?

Maka, kiranya sangat berlebihan bila pemimpin kita tidak menggali lebih dalam mengenai kandungan nilai-nilai terutama mengenai kepemimpinan dalam pewayangan.

Dalam pewayangan, Sri Prabu Bathara Kresna (Raja Dwarawati), selain sebagai raja yang ahli strategi dan politik, juga menempuh jenis lelaku nyamodra-nyegara (me-laut dan me-samudera); artinya memiliki kepribadian yang sangat jembar (luas) dan jero (dalam) seperti samudera sehingga ia dapat bergaul dan berteman dengan siapa saja dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, tugas sebagai seorang Raja yang diembannya memang menuntut untuk melakukan perjuangan di dalam kenegaraan maupun perpolitikan sebagai manifestasi memayu hayuning bawana (rahmatan lil alamin).

Dalam memimpin negaranya pun, Prabu Kresna yang memiliki Ngelmu Hastha Brata—yakni lelaku peneladanan 8 alam; bumi, matahari, bulan, bintang, lautan, angin, api, dan air, juga mampu memimpin rakyatnya secara adil dan bijaksana.

Dr. Seno Sastroamidjojodalam bukunya Renungan tentang Pertunjukan Wayang Kulit (1964)menjelaskan bahwa antara Ki Lurah Semar dengan Prabu Kresna, pada hakikatnya memiliki kedudukan yang sama dalam dunia pewayangan.

Sebab, substansinya kedua tokoh wayang tersebut sama-sama Dewa mangejawantah (penjelmaan, manifestasi, perwujudan Dewata) yang diturunkan atau ditugaskan di madyapada (dunia).

Jika Prabu Kresna adalah titisan Bathara Whisnu, Semar merupakan titisan Bathara Ismaya (disebut pula dengan Smara).

Dan, Sang Hyang Ismaya adalah putra Sang Hyang Tunggal.

Sementara, tugas yang diemban pun kurang lebih juga sama dengan tugas Prabu Kresna; yakni memayu hayuning bumi.

Pijakan dasar filosofi kepemimpinan tersebut di atas, sesungguhnya tujuannya untuk menemukan nilai-nilai yang sejati (haq).

Sebab, seorang pemimpin memang bertugas mengemban amanat rakyat agar mereka sejahtera hidupnya di dunia dan di akhirat.

Menurut Zoetmulder (1991) ada perbedaan antara sistem-sistem filsafat Barat dengan pernyataan-pernyataan tentang pencerminan filsafat yang sering terpotong-potong dan hubungan satu sama lain kurang serasi.

Ada perbedaan yang sangat mencolok antara filsafat Barat dan Timur; yakni bahwa filsafat Timur, orang tak pernah mempelajari ilmu filsafat untuk ilmu itu sendiri, tetapi hanya merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan.

Dan, bagi orang Timur, filsafat merupakan satu-satunya jalan untuk dapat mencapai tujuan akhir.

Kebiasaan yang berkembang dalam filsafat Timur, biasanya orang menganut filsafat hikmah yang tertinggi, yaitu titik puncak dari falsafah; dengan mengenal Tuhan dari yang mutlak dan hubungannya antara manusia dengan-Nya saja.

Oleh karena itu, di Timur, ilmu filsafat tidak dijadikan aktivitas otak, seperti yang terjadi di Barat.

Pementasan wayang kulit semalam suntuk yang menampilkan cerita pedhalangan (pakeliran), secara implisit memang menampakkan suatu pandangan kosmologis yang luas, yang mengamanatkan bahwa lingkungan yang seimbang atau selaras; yakni yang diinginkan dalam jagad raya.

Pandangan hidup orang Jawa tercermin dalam pertunjukan wayang kulit, tidak jarang menjadi pedoman bagi manusia Jawa untuk mempertahankan hidup yang selaras, serasi, dan seimbang dalam hubungannya dengan lingkungan, Tuhan serta sesama manusia.

Purwadi (2004) menjelaskan, unsur budaya Jawa yang tersirat dalam lakon Harjuna Sasrabahu Lahir maupun Janaka Catur, secara simbolik dapat ditangkap maknanya yang mengandung dua dimensi bagi manusia; yakni adanya hubungan secara vertikal dan horisontal.

Hubungan secara vertikal menunjukkan adanya pengakuan manusia Jawa bahwa hidup ini ada yang mengatur dan menentukan, yakni Tuhan Yang Maha Esa.

Sedangkan, hubungan secara horisontal berupa hubungan sosial dan alam untuk mencapai keseimbangan.

Dengan demikian, unsur-unsur budaya Jawa yang termuat dalam lakon pedhalangan dapat diimplementasikan untuk peningkatan sumber daya manusia serta mengajarkan kebijaksanaan serta melengkapi bagian-bagian kitab suci dari agama menuju terciptanya manusia yang utuh, baik lahir maupun batin.

Perang besar antara Prabu Rama Wijaya melawan Prabu Dasamuka alias Rahwana Raja (Raja Ngalengkadiraja) berakhir dengan kemenangan di pihak titising Bathara Wisnu (Prabu Rama).

Pada saat itu Prabu Rama dibantu bala wanara (prajurit monyet) anak buah Prabu Sugriwa, sementara barisan prajurit Pabu Dasamuka para raseksa (raksasa).

Yang menarik bahwa Prabu Dasamuka beserta tiga orang adiknya dalam pewayangan itu merupakan simbol atau melambangkan nafsu manusia, yakni;

Pertama, Prabu Dasamuka melambangkan nafsu amarah (mengajak pada kejahatan, dur angkara murka);

Kedua, Raden Kumbakarna melambangkan nafsu aluwamah (lawwamah) yang digambarkan dengan makan dan tidur secara berlebian;

Ketiga, Dewi Sarpakenaka melambangkan nafsu supiyah (mulhimah) yang digambarkan dengan perwujudan seorang wanita dan gemar dalam asmara;

Keempat Raden Wibhisana melambangkan nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang).
Maka, dalam konteks sedulur papat, lima pancer digambarkan Raden Wibhisana (nafsu Muthmainnah) akhirnya hijrah dan bergabung dengan Prabu Rama Wijaya (pancer; pusat; poros) dari empat nafsu manusia.

Demikianlah kedalaman filosofis dalam pewayangan yang jarang diketahui secara umum.

Pasca perang iu, Prabu Rama mewisuda Raden Wibisana menjadi Raja Agung binathara di Negara Ngalengkadiraja. Prabu Rama pun, pada kesempatan bahagia itu, memberikan wejangan Ngelmu Hastha Brata kepada Prabu Wibisana.

Dan kenyataannya, Prabu Wibisana pun benar-benar mewarisi ngelmu kaprajan tersebut dengan baik, terbukti ia bisa memimpin rakyat Ngalengkadiraja dengan adil dan makmur.

Oleh: Wawan Susetya adalah Sastrawan-budayawan dan pegiat Satu Pena Jawa Timur, tinggal di Tulungagung-Jatim

Editor: Krisna Wahyu Yanuar

Advertisements