Esai

Mahasiswa Terjebak Cinta hingga Berujung Adegan Dewasa

×

Mahasiswa Terjebak Cinta hingga Berujung Adegan Dewasa

Sebarkan artikel ini
Dokumentasi: Melinda Hospital

Urupedia.id- Ada satu tradisi lama setiap tahun ajaran baru. Orang tua mengantar anaknya ke kota, koper diturunkan dari motor atau mobil, lalu muncul nasihat yang hampir selalu sama.

Belajarlah yang rajin, jangan macam-macam, jaga nama baik keluarga.

Kalimat itu biasanya diucapkan dengan wajah serius seolah kampus adalah tempat paling aman di dunia.

Setelah itu anak dilepas ke kehidupan mahasiswa dengan harapan sederhana bahwa empat tahun ke depan ia akan pulang membawa gelar dan masa depan.

Kenyataannya, kehidupan kampus tidak selalu seideal brosur penerimaan mahasiswa baru.

Di balik gedung kuliah yang terlihat akademis, kehidupan mahasiswa kadang lebih mirip sinetron remaja yang kebanyakan episode.

Ada diskusi teori di kelas, tetapi di luar kelas ada pula drama cinta yang emosinya kadang lebih panas daripada perdebatan filsafat.

Cinta sebenarnya bukan masalah baru di dunia mahasiswa.

Sejak dulu kampus memang tempat bertemunya banyak cerita asmara.

Banyak pasangan yang bertemu di bangku kuliah lalu berakhir di pelaminan.

Masalahnya, generasi sekarang hidup di zaman yang berbeda.

Kalau dulu kisah cinta mahasiswa hanya jadi bahan gosip kantin, sekarang satu kejadian saja bisa berubah menjadi tontonan publik.

Kamera ponsel selalu siap, internet selalu aktif, dan budaya viral membuat setiap kejadian terasa seperti konten.

Satu kesalahan kecil bisa menyebar lebih cepat daripada pengumuman nilai ujian.

Dari grup WhatsApp sampai linimasa media sosial, semuanya ramai membicarakan hal yang sama.

Ironinya, yang sering viral bukan prestasi akademik, melainkan momen memalukan yang kebetulan terekam kamera.

Tulungagung sendiri sempat merasakan bagaimana kejadian kecil bisa berubah menjadi cerita besar.

Beberapa waktu lalu warga dihebohkan oleh video penggerebekan sepasang muda-mudi di kawasan wisata Air Terjun Coban Kromo di Kecamatan Campurdarat.

Dalam rekaman yang beredar, pasangan itu dipergoki warga berada di balik batu besar dan diduga melakukan tindakan tidak pantas di area wisata.

Kejadiannya sebenarnya sederhana, hanya dua orang muda yang mungkin terbawa suasana dan lupa bahwa mereka berada di tempat umum.

Namun begitu kamera ponsel ikut hadir, cerita itu berubah drastis.

Video menyebar, komentar bermunculan, dan dalam waktu singkat kejadian lokal berubah menjadi bahan obrolan banyak orang.

Ada yang marah, ada yang menertawakan, ada juga yang diam-diam menonton videonya sambil pura-pura menasihati moral di kolom komentar.

Begitulah internet bekerja, cepat menyebarkan cerita dan lebih cepat lagi menghakimi.

Fenomena ini menunjukkan satu hal yang sering tidak disadari mahasiswa.

Hidup di era digital berarti hidup di ruang yang hampir tidak punya privasi.

Apa yang dulu bisa dilupakan sekarang bisa tersimpan lama di internet.

Mahasiswa sering merasa dirinya sudah dewasa karena sudah jauh dari rumah orang tua.

Bebas menentukan pilihan, bebas menjalin hubungan, bebas mengatur hidup.

Namun kedewasaan bukan soal bebas melakukan apa saja, melainkan soal tahu kapan harus berhenti.

Cinta memang bisa membuat orang lupa waktu, bahkan kadang lupa logika.

Itu sudah terjadi sejak zaman penyair menulis puisi patah hati berlembar-lembar.

Bedanya, penyair zaman dulu tidak hidup di era kamera ponsel.

Kesalahan mereka tidak direkam dalam video yang bisa diputar ulang berkali-kali oleh orang asing.

Karena itu persoalan ini sebenarnya bukan sekadar soal moral mahasiswa, tetapi juga soal kedewasaan menghadapi dunia digital.

Kampus memang memberi kebebasan yang luas.

Tidak ada lagi guru piket yang mengawasi, tidak ada lagi buku tata tertib yang ditempel di kelas.

Tetapi kebebasan selalu datang bersama tanggung jawab.

Banyak mahasiswa datang ke kampus dengan mimpi besar, tetapi di tengah perjalanan malah tersesat dalam drama yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Ada yang lebih sibuk menjaga hubungan daripada menjaga nilai, ada yang rela bolos kuliah demi menemani pasangan, bahkan ada yang akhirnya terjebak dalam situasi memalukan hanya karena lupa bahwa dunia tidak selalu sepi kamera.

Bagi mahasiswa baru yang sedang memulai kehidupan kampus, ada satu hal sederhana yang mungkin perlu diingat.

Kampus memang tempat bertemu banyak hal baru, termasuk cinta. Itu wajar.

Namun jangan sampai cinta menjadi alasan untuk melupakan tujuan utama datang ke perguruan tinggi.

Empat tahun kuliah mungkin terasa lama, tetapi sebenarnya cepat sekali berlalu. Waktu itu seharusnya dipakai untuk belajar, memperluas jaringan, dan membangun masa depan.

Kalau cinta datang, tidak perlu ditolak seperti spam email, tetapi juga tidak perlu dijadikan pusat semesta.

Hubungan yang sehat justru saling mendukung untuk tumbuh, bukan saling menyeret ke dalam masalah.

Karena pada akhirnya kisah cinta bisa selesai kapan saja, tetapi reputasi, masa depan, dan nama baik sering kali membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk diperbaiki.

Dan di era internet seperti sekarang, satu momen ceroboh kadang cukup untuk menjadi cerita panjang yang tidak pernah benar-benar hilang.

“Cinta boleh datang kapan saja, tapi kalau sampai lupa tujuan kuliah, bisa jadi yang lulus duluan justru gosipnya.”

Oleh: Mas Pras

Editor: Krisna Wahyu Yanuar

Advertisements