Esai

Menjaga Integritas Akademik di Tengah Gempuran Kecerdasan Buatan

×

Menjaga Integritas Akademik di Tengah Gempuran Kecerdasan Buatan

Sebarkan artikel ini
Sumber: UC Online

Urupedia.id- Beberapa tahun belakangan ini kita sama-sama menyaksikan peluncuran sebuah produk teknologi bernama Akal Imitasi (AI) yang dapat digunakan secara gratis oleh pengguna internet yang ditandai dengan rilisnya ChatGPT pada November 2022.

Kemunculan AI ini tidak terlepas dari gairah manusia untuk selalu berinovasi agar kehidupannya serba praktis dan cepat.

Namun, kehadiran AI ini menimbulkan pro-kontra di kalangan ahli maupun masyarakat umum.

Misalnya, penggunaan AI untuk membuat karya seni visual bergaya khas studio animasi ternama seperti Studio Ghibli pada awal tahun 2025 kemarin.

Kemudian kita juga bisa menemukan penggunaan AI yang masif di bidang seni lainnya, yakni musik.

Lagu-lagu kesukaan kita beberapa sudah di-cover bukan oleh penyanyi lain tapi menggunakan AI.

Fenomena ini bisa dengan mudah kita temukan ketika berselancar di media sosial seperti Instagram, Tiktok, dan YouTube.

Dua contoh di atas merupakan bentuk pelanggaran hak cipta dan tidak menghargai kekayaan intelektual dari penggunaan AI yang minim batasan.

Selain itu, kemunculan AI juga menciptakan kebiasaan baru. Salah satunya yang terjadi di dunia pendidikan.

Berbeda dengan era sebelumnya, di era sekarang para pelajar/mahasiswa lebih memilih menggunakan AI dalam mengerjakan tugas ketimbang mencari dan mengolah informasi secara manual di internet lewat website-website atau yang lebih resmi seperti Google Cendekia.

Penggunaan AI yang terus meluas di dunia pendidikan dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan Higher Educational Policy Institute, Inggris, pada Februari 2024 yang melaporkan bahwa lebih dari setengah siswa aktif menggunakan AI generatif dalam pengerjaan tugas-tugas dan 5 persen siswa mengaku menggunakan AI untuk menyontek.

Masih di dunia pendidikan, Rippen pada 2024 mengabarkan bahwa di dunia kampus penggunaan AI sangat tinggi.

Sekitar 56% persen mahasiswa mengakui memanfaatkan AI untuk mengerjakan tugas atau ujian. Lebih parahnya lagi 60,8% mahasiswa mengatakan bahwa mereka menyontek dibeberapa lini karier akademis mereka yang acap kali tanpa merasa bersalah (Kompas, 19/5).

Bahkan dalam penelitian baru-baru ini yang dilakukan BRIN lewat survei terhadap 293 mahasiswa dari 17 Perguruan Tinggi Keislaman Negeri (PTKIN) pada tahun 2025 melaporkan bahwa 90% lebih responden mengaku sering menggunakan ChatGPT paling tidak 4-6 kali dalam seminggu.

Data di atas menunjukkan bahwa terjadi pergeseran kebiasaan aktivitas akademik khususnya di kalangan mahasiswa—yang pada awalnya serba manual tapi dengan hadirnya AI semuanya serba cepat dan efisien.

Namun, hal tersebut bukan tanpa masalah. Mengingat dampak yang ditimbulkan dari penggunaan AI secara masif ini cukup besar.

Misalnya, ketika aktivitas perkuliahan mahasiswa sulit lepas dari ketergantungan ai dan makalahnya saat presentasi karena kurangnya pendalaman terhadap materi yang disampaikan.

Padahal mereka sendiri yang membuat makalah tersebut.

Mereka lebih memilih membaca naskah ketimbang memaparkan pemahaman dan gagasannya secara langsung di depan mahasiswa lainnya.

Beberapa dari mereka juga memanfaatkan AI untuk membuat dan menjawab pertanyaan.

Diskusi yang seharusnya menjadi ajang adu gagasan menjadi hambar karena jawaban sering kali dihasilkan secara instan oleh mesin.

Oleh sebab itu, para dosen perlu mengambil langkah tegas demi menjaga integritas akademik.

Misalnya, untuk menjaga integritas akademik pengajar perlu meminta laporan hasil cek kemiripan (similarity) dan hasil cek AI detector dari makalah yang mahasiswa buat.

Dosen perlu menjelaskan tentang pedoman penggunaan AI dalam mengerjakan tugas atau karya ilmiah agar tidak sepenuhnya menyerahkan pada AI mulai dari pencarian data, analisis, dan kesimpulan.

Dosen juga tidak perlu ragu untuk memerintahkan mahasiswanya dalam mengerjakan tugas dengan cara tradisional seperti menulis langsung dia atas kertas menggunakan pena dan memilih ujian lisan ketika ujian akhir semester.

Oleh: Muhammad Ridho, Dosen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Editor: Krisna Wahyu Yanuar

Advertisements