BeritaPendidikan

Budaya Literasi; Dari Hermeneutika Subjektif hingga Alat Komunikasi

×

Budaya Literasi; Dari Hermeneutika Subjektif hingga Alat Komunikasi

Sebarkan artikel ini
urupedia media urup Penyerahan Buku Antologi Santri Marhalah Tsaniyah kepada Pengasuh Pesantren Subulussalam Tulungagung; dari Hermeneutika Subjektif hingga Alat Komunikasi
Foto penyerahan buku

Tulungagung, Urupedia.id – Santri Marhalah Tsaniyah Pesantren Subulussalam Desa Plosokandang, Kedungwaru Tulungagung telah berhasil meluncurkan buku antologi pertamanya yang berjudul “Find a Million Dreams and Hopes”, Kamis (24/02/2022).

Beberapa orang yang terlibat dalam proses penyusunan buku tersebut adalah santri marhalah tsaniyah angkatan 2021. Buku antologi tersebut berisi tentang syarah mahfudzot, termasuk maqolah para ulama, sahabat, dan pepatah arab,  kemudian direfleksikan pada pengalaman dan keilmuwan masing-masing personal. Buku tersebut merupakan buah karya santri hasil dari pembelajaran diniyah (materi mahfudzot) di pesantren.

Pengasuh pesantren, Hj. Salamah Noorhidayati sangat mendukung dan mengapresiasi penuh atas lahirnya buku tersebut. Ia juga merupakan salah satu penggagas berkembangnya budaya literasi di Pesantren Subulussalam. Terlihat dari kontribusinya dalam mengajak para santri untuk semangat membaca dan menulis tentang pengetahuan apapun yang telah didapatkan di Pesantren.

Beliau juga menghimbau kepada seluruh santri untuk terus membudayakan literasi, baca-tulis dan merekam setiap penjelasan yang disampaikan ustadz/ustadzah untuk dijadikan tulisan yang rapi. Kemudian tulisan tersebut dibukukan sebagai bentuk hasil karya santri dari masing-masing kelas diniyah dan diharapkan  bisa bermanfaat untuk khalayak umum.

Mahfudzot yang diuraikan dalam buku “Find a Million Dreams and Hopes” merupakan materi yang dipelajari di kelas Marhalah Ula dan Marhalah Tsaniyah. Setiap semester kurang lebih ada 15 pembahasan mahfudzot yang disampaikan sekaligus dengan penjelasan dan contoh implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga jumlah keseluruhan mahfudzot yang bisa didapatkan santri hingga menempuh Marhalah Tsaniyah, kurang lebih ada 60 mahfudzot. Dalam buku ini keseluruhan mahfudzot tidak diuraikan,  melainkan hanya beberapa mahfudzot yang terpilih sesuai dengan latar belakang dan pemahaman santri.

Satu mahfudzot bisa melahirkan banyak sudut pandang yang berbeda-beda. Wajar saja jika satu mahfudzot dapat menghasilkan beberapa penafsiran baru sesuai dengan pandangan orang yang sedang membacanya. Inilah yang dimaksud dengan Hermeneutika subjektif, siapa saja berhak menginterpretasikan teks, karena semua orang memiliki sudut pandang yang berbeda, pastinya berbeda dengan pencetus awalnya.

“Makna sebuah teks itu tidak tergantung mutlak pada pencetusnya, tapi tergantung pada pemaknaan setiap orang yang membacanya. Pemaknaan itu akan menjadi tulisan yang berbeda-beda, tergantung dari pemikiran dan pengalaman masing-masing pembaca dalam menangkap isi teks tersebut,” ujar Salamah.

Begitupun dalam memaknai mahfudzot yang telah diajarkan, adakalanya sebuah mahfudzot menjadi evaluasi diri bagi santri yang notabennya mempunyai semangat yang kuat dan juga pengalaman yang dapat memacu semangatnya untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Namun terkadang juga, dengan mahfudzot yang sama beberapa orang yang membacanya dengan sikap acuh, cuek, seakan-akan tidak mengena dalam kehidupannya.

Oleh karena itu, pemaknaan sebuah teks tidak bisa disamakan, akan ada banyak variasi pandangan yang dapat diuraikan sebagai refleksi dan respon dari adanya teks tersebut. Kita tidak bisa menghakimi bahwa pandangan seseorang terhadap sebuah teks adalah suatu kesalahan. Karena kita sendiri sebenarnya tidak tau makna yang mendalam dari adanya teks itu sendiri.

Pesan yang terkandung pada setiap mahfudzot akan ditangkap secara berbeda-beda oleh masing-masing santri, sehingga tulisan yang dihasilkan pun akan beraneka ragam alurnya. Ada yang menghubungkan isi mahfudzot dengan pengalaman sebelumnya, ada yang mendeskripsikan mahfudzot dengan majas-majas serta mengaitkan dengan kesastraan dan juga yang merelevansikannya dengan kejadian masa kini.

“Itulah yang disebut sebagai pembacaan subjektif, yakni makna ditentukan oleh subjek yang membacanya, bukan makna yang dilahirkan oleh pencetus atau pemilik kalimat,” tambahnya.

Saat kita membicarakan urgensi literasi bagi santri, tentunya sudah menjadi hal yang perlu disampaikan bahwa sebenarnya bukan hanya santri saja yang harus melek literasi, siapapun itu mestinya harus merasa penting untuk menggali pengetahuan dengan membaca dan menulis. Metode dan media untuk mengajarkan manusia sebuah ilmu pengetahuan adalah dengan cara membaca dan menulis.

“Kalau mengajar itu jangan hanya bil kalam saja karena atsarnya akan pendek. Sesuatu yang didengar itu gampang hilang, tapi apa yang disampaikan melalui tulisan kalaupun lupa kita masih bisa membacanya”, tegasnya.

Bunda Salamah menyebutnya dengan 3 dunia, yaitu; dunia membaca, dunia menulis, dan dunia mengajar. Pengetahuan itu bisa didapatkan dan dikembangkan melalui baca dan tulis. Kalaupun pengajarnya sudah tidak ada, kapanpun orang itu akan bisa mengingat pelajarannya melalui tulisan. Kalaupun penulisnya tidak hadir dalam tempat seseorang mencari pengetahuan, orang jauh yang bahkan berbeda geografi tetap bisa membaca ilmu tersebut. Karena jarak jangkau yang sebuah tulisan itu lebih luas dan lebih panjang. Misalnya jika para ulama zaman dahulu itu tidak menulis, bagaimana kita bisa mengetahui sunnah Nabi?

Amanah seorang pelajar dan pengajar adalah senantiasa menggali ilmu, mendapatkan ilmu, mengembangkan atau menyebarkan ilmu. Menggali dan mendapatkan ilmu dilakukan dengan cara membaca, tanpa membaca kita tidak akan bisa mendapatkan ilmu. Kemudian tidak cukup bila hanya membaca saja, tapi juga harus dikembangkan dengan cara menulis. Tulisan tersebut sebagai alat komunikasi agar orang lain dapat mengetahui juga apa isi ilmu pengetahuan yang kita peroleh.

“Semoga yang kita gagas ini dapat memberikan contoh bagi yang lain untuk memotivasi mereka agar semangat literasi”, harap pengasuh Pesantren Subulussalam.

Setelah penyerahan buku antologi karya santri marhalah tsaniyah 2021, yang diwakili oleh Khofifah dan Ummi Ulfatus, Bunda Salamah  hendak mengagendakan acara Seminar Literasi dan Bedah Buku sekaligus Launching Pembukaan Pesantren Subulussalam 2. Tujuannya yakni agar membangkitkan semangat literasi pada jiwa santri Pesantren Subulussalam. “Kalau tidak ada sosialisasi, publikasi, maka tidak akan muncul motivasi”, tukasnya.

Penulis : Khofifah Khoirunnisak

Editor : Ummi Ulfatus

Untuk mendapatkan berita dan tulisan ter-update dari kami bisa bergabung ke grup Telegram melalui link berikut (KLIK DISINI)

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *