
Blitar, Urupedia.id – Mapak Harlah NU Ke 96 itulah sebutan untuk kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 29 Januari 2022 yang bertempat di Tajog Loro Kanigoro, Tegalrejo, Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar.
Mahmud Muafiq, salah satu panitia menjelaskan, bahwa kegiatan ini dilaksanakan guna memperingati harlah NU ke-96 dengan cara diskusi bedah buku. Hal ini bertujuan untuk mewarnai harlah NU dengan coretan dan lisan dari versi intelektual yang telah di semarakkan bersama anak muda yang hadir dari berbagai organisasi seperti, PMII, HMI, IPNU IPPNU, GMNI, KNPI, FORSA, Pegiat Literasi, Rumah Merdeka, Media Urup, Ikamantab dll.
“Selain untuk mewarnai harlah NU dengan dunia pendidikan atau dengan versi intelektual, juga ingin mengurangi pemikiran masyarakat yang menganggap bahwa peringatan harlah NU itu tidak hanya dilakukan dengan melakukan kegiatan tahlilan, syukuran, pengajian, apel atau sejenisnya. Tetapi juga bisa mewarnai dengan versi intelektual yang wujudnya seperti bedah buku dari tokoh Ulama NU, seperti KH. Hasyim Asy’ari, Gus Dur, atau lainnya,” lanjutnya.
Uniknya bedah buku kali ini sangat terlihat keseruannya sehingga mampu menghasilkan kematangan diskusi sampai-sampai pembahasan ini berakhir saat sang fajar tampak hingga hampir hilang yaitu tanda waktu subuh tiba dan hampir selesai.
Dia menuturkan bahwa sang Penulis Fathul H. Panatapraja ini sangat luar biasa unik, karena dia adalah penulis yang menulis atas petunjuk dari tokoh ulama NU langsung melalui isyaroh mimpinya.
Tak hanya sekedar berfikir kemudian menulis, ada perlu proses yang sangat panjang sehingga tercipta buku ini. Uniknya lagi dia ini menulis buku ini, buku yang berjudul “Kiai-Kiai Khos di Belakang Gus Dur” ini dengan melakukan ritual terlebih dahulu.
Fathul H. Panatapraja, penulis buku ini memaparkan, bahwa ritual yang dilakukan adalah ritual yang dilakukan dengan pertama datang berziarah ke makam KH. Hasyim Asy’ari terlebih dahulu untuk meminta izin dan ridho darinya selaku tokoh pendiri NU. Setelah itu dia mendapatkan isyaroh dalam mimpinya yang di situ terlihat ada sosok Gus Dur yang memberikan wejangan bahwasanya sebelum menulis buku itu harus membaca surah Al-Kahfi, surah Yasin, dan tahlil yang harus diulang tidak hanya sekali namun harus puluhan kali.
Setelah melakukan ritual ini barulah Fathul sang penulis mendapatkan banyak referensi yang kemudian dia tuangkan isi pikiran yang sudah diainkronkan dengan hasil referensi yang menjadi petunjuk setelah melakukan ritual itu.
Dari hasil diskusi ini, kami ambil dari kesimpulan notulensi yaitu yang pertama, nyatanya metode mimpi ini bisa dilakukan oleh kita. Karena sebagai orang muslim khususnya orang jawa yang serasa masih kental hubungannya dengan tali pengikat dari sang leluhur. Sang leluhur mampu membantu dengan sederetan rantai informasi melalui isyaroh mimpi. Kita yang sebagai orang NU jelas masih kental kaitannya dengan hal ini.
Kedua, selain hal di atas dalam kegiatan ini juga ada pembahasan tentang bedah manaqib milik Gus Dur tentang beliau bersilat politik, mengatur strategi dalam bercatur, dsb.
Ketiga, ada pembahasan yang berkaitan dengan pemetakan peran-peran kyai NU yang bermacam-macam karakter dan modelnya. Adapun macam-macam kyai yang dibahas disana, seperti kyai tutur, kyai sembur, kyai wuwur, dan kyai catur. Disinilah macam-macam kyai ini sangat dijelaskan secara gamblang.
Pewarta: Ira Wahyu Lestari
Editor: Munawir Muslih
Untuk mendapatkan berita dan tulisan ter-update dari kami bisa bergabung ke grup Telegram melalui link berikut (KLIK DISINI)






