Esai

Resensi Buku; Fatwa dan Canda Gus Dur

×

Resensi Buku; Fatwa dan Canda Gus Dur

Sebarkan artikel ini

Judul buku                  : Fatwa dan Canda Gus Dur
Pengarang                   : K.H. Maman Imanulhaq Faqieh
Jumlah halaman          : xiv + 234 halaman
Penerbit                       : kompas
Peresensi                     : Ummi Ulfatus Syahriyah

Pengantar

Abdurrahman Wahid atau yang akrab dengan sapaan Gus Dur adalah tokoh bangsa yang multidimensional, beliau memiliki kiprah dalam berbagai bidang, mulai dari organisasi keagamaan (NU), politik, bahkan budaya. Tak diragukan lagi kontribusi pemikiran dan tenaga Gus Dur dalam tubuh NU  begitu masif dan progresif. Gus Dur membentuk NU tak hanya sebagai organisasi keagamaan yang saklek dengan spiritualitas melainkan memiliki andil dalam kesejahteraan sosial dan kemanusiaan. Kiprah politiknya begitu terkenang dan membekas, menjadi presiden ke-4 Republik Indonesia pasca tampu kepemimpinan B.J Habibie. Beliau menjadi salah satu presiden yang begitu kontroversial, pemikirannya yang kadang tak dinalar oleh manusia biasa pun sering mendapatkan gugatan dan pertentangan.

Virdika Rizky Utama dalam bukunya “Menjerat Gus Dur” menulis begitu detil tentang bagaimana cara Gus Dur turun dari kursi presiden. Jasa-jasa Gus Dur begitu universal dan kompleks, saat sebelum maupun sesudah menjadi presiden pun, kegetolannya membela kemanusiaan masih terus berjalan. Gus Dur, sosok yang dapat membalut keseriusan dengan humor menjadi ciri khas yang tak tertinggalkan dari Bapak Pluralisme ini. “Gitu aja kok repot” slogan yang sering terpampang di mana-mana. Dari beberapa buku yang saya baca, beliau identik dengan penggambaran cover yang ceria, bahagia, dengan raut muka tertawa bahkan energi itu sampai pada pembaca. Menandakan sekaligus memberikan sebuah filosofi bahwa Gus Dur meskipun dengan banyak problematika dan permasalahan umat beliau menyelesaikannya dengan cara yang penuh ketenangan, tidak tergesa-gesa, tidak kaku dan yang pastinya diselingi dengan humor. Namun humor yang disajikan Gus Dur bukan sekadar humor untuk bahan tertawa belaka melainkan bahan renungan dan intropeksi.

Tentang Penulis

K.H Maman Imanulhaq Faqieh akrab juga dengan sapaan Kang Maman ini merupakan salah satu tokoh kiai yang pernah dekat dan sering berjumpa dengan Gus Dur. Beliau mengabadikan momen-momen pentingnya bersama presiden ke-4 RI tersebut. Kang Maman juga pendiri Pesantren Al-Mizan di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Salah satu gurunya yang mengantarkan pada pemikiran yang progresif, emansipatoris, dan pluralistik adalah Kiai Husein Muhammad. Kedekatan Kang Maman kepada Gus Dur bermula pada pertengahan 2006. Sejak saat itu Kang Maman sering bergumul dan berdiskusi dengan Gus Dur. Didukung lagi dengan posisinya di Dewan Syura DPP PKB memudahkannya untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara intens dengan Gus Dur hingga wafat.

Isi Resensi

Buku ini tidak terdiri dari bab-bab yang memiliki sub bab pembahasan melainkan terdiri dari 23 judul essay yang terpisah. Judul-judul yang disodorkan begitu epik dan menarik, bahasanya yang lugas, renyah, dan mudah dipahami memudahkan pembaca untuk menyelami kisah Kang Maman bersama Gus Dur hingga terlarut dan hanyut. Di sela pembahasan yang serius, Kang Maman memberikan cuilan kisah humoris yang membuat pembaca terhibur dan tertawa. Selain itu, beberapa kebersamaan mereka terabadikan dalam dokumentasi foto yang dapat membuat pembaca berimajinasi bagaimana sosok Gus Dur itu hadir dalam setiap paragraf yang terbaca. Setiap perjalanan Kang Maman bersama Gus Dur menyelipkan ilmu dan wawasan yang begitu luas. Perdiskusian yang terjadi begitu mendaging, terkait masalah bangsa dan negeri ini.

Buku ini menyajikan banyak fatwa-fatwa Gus Dur terlebih terkait kesejahteraan sosial. Pada pembukaan buku, Kang Maman memberikan pengantar yang berisi tiga pokok pondasi kebangsaan dan kemanusiaan yang digagaskan oleh Gus Dur; demokrasi dan keadilan sosial; pluralisme/kebhinekaan; dan menegakkan nilai kemanusiaan. Jika menginginkan bangsa ini utuh dan senantiasa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan maka seorang pemimpin haruslah memberikan kemaslahatan dan mewujudkannya untuk rakyat, terutama bagi kaum-kaum minoritas. Kedua, menegakkan konstitusi negara demi eksistensi keberagamaan bukan malah mencederai dan melukainya. Pada akhirnya pengawal pluralisme yang sejati ialah konstitusi dan substansi nilai Islam yang luhur. Ketiga, membangun kesetaraan dan menghilangkan kesenjangan. Islam pada dasarnya menjadikan kemanusiaan sebagai pondasi beragama. Namun penganutnya yang belum kompleks memahami dan mengamalkan ajaran di dalamnya. Saya mengingat apa kata Bisri Effendi dalam pengantar buku “Tuhan Tidak Perlu Dibela” dengan bunyi ‘agama diturunkan untuk manusia dengan segala kandungan kemanusiaannya, termasuk pluralitas kehidupan sosial dan kulturalnya.

Judul essay pertama mengisahkan perginya Gus Dur. Betapa semua orang merasa patah dan kehilangan sosok yang begitu berjasa bagi persatuan bangsa ini. Dari kalangan ulama, budayawan, para tokoh politik serta masyarakat umum merasakan kepergiannya yang begitu menyesakkan dada. Menurut Kang Maman, beliau termasuk dari deretan ‘kekasih Allah’ dengan argumentasi yang beliau kutip dari Syekh Yusuf bin Sulaiman bahwa kekasih Allah ialah sosok yang sangat dekat dengan-Nya karena ketaatan. Dengan demikian Allah memberikan kekuatan, karamah dan perlindungan. Ketika bermunculan para tokoh politik yang arogan, hegemonik, merasa paling benar dan kuat, egoisme, serta sewenang-wenang maka Gus Dur muncul dengan penuh rendah hati, ikhlas, kehangatan, dan kesejahteraan.

Pada judul-judul essay berikutnya, Kang Maman mengisahkan perjalannya bersama Gus Dur. Perdiskusian itu jika diringkas membahas banyak hal yang begitu kompleks, misalkan saja peristiwa Bom Bali. Diambil dari perspektif kemanusiaan, keagamaan, dan keenegaraan. Gus Dur memberikan perspektif dari berbagai sudut pandnag untuk akhirnya bisa diterima dan dipahami secara menyeluruh, tidak secara parsial. Tragedi Bom Bali yang menewaskan ratusan korban merupakan tragedi yang melukai kemanusiaan bangsa. Sebagaimana maqashid as-syar’i, agama seharusnya hadir untuk memanusiakan manusia dan menyelamatkan manusia dari ancaman-ancaman yang menodai kemanusiaan.

Namun hal ini dipahami oleh sebagian kelompok sebagai bentuk perjuangan dan keteguhannya menjalankan agama. Hal ini sangat disayangkan karena agama menjadi alibi dari sebuah kekerasan dan tindakan amoral. Dari perspektif kenegaraan bahwa sebaiknya pemerintahan melakukan restrukturisasi pada pembangunan tanpa harus mengorbankan harga diri bangsa. Mengingat Bali adlaah sebuah pulau dengan keindahan yang begitu eksotis dan diminati banyak pengunjung mancanegara. Pembangunan yang dilakukan pun harus tetap menjaga kesucian pura dan nilai-nilai arsitektur Bali tanpa harus terseret dengan dolar-dolar para turis dan budaya konsumerisme mereka.

Pemerintahan menurut konsep yang ditawarkan oleh Gus Dur dalam buku ini berkewajiban untuk memberikan arahan dengan senantiasa mementingkan collective action, kebijakan diarahkan pada proses yang inklusif, demokratis, dan partisipatif. Birokrasi tak hanya sekadar menuruti ego dan kesewenangan melainkan memberikan kemaslahatan kepada masyarakat sehingga tercipta pemerintah yang bersih, adil, berwibawa, dan bebas dari KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

Kisah Bom Bali di atas identik dengan gerakan terorisme. Pemicu munculnya terorisme tersebut menurut Gus Dur adalah kezaliman global, kesenjangan sosial, dan penafsiran agama yang kurang tepat. Sikap puritan dalam memaknai ‘jihad’ seringkali membawa sekelompok pada pemahaman yang salah dan sikap yang arogan kepada mereka yang berbeda. Jihad pada hakikatnya bermakna kesungguhan dn perjuangan untuk menciptakan kehidupan yang damai bukan sebaliknya. Dalam perdiskusiannya bersama Gus Dur, Kang Maman menyadari bahwa melawan terorisme tidak semata menggunakan kekuatan militer melainkan dilengkapi dengan soft power atau the war of idea.

Satu hal yang menjadi sorotan publik terhadap Gus Dur kala itu adalah pembelaannya kepada Inul Daratista. Mengapa hal itu terjadi? Sesungguhnya hal ini merupakan sindiran dan teguran dari Gus Dur bahwa di dalam negara ini masih ada problematika yang lebih mendasar dan penting untuk direspon dan diselesaikan dari sekadar menghujat dan menyalahkan goyang Inul. Gus Dur memberikan pemahaman bahwa Inul Daratista adalah simbol perlawanan masyarakat pinggiran. Kaum pinggiran acapkali jatuh kepada jurang kemiskinan, mengalami keterbelakangan baik dalam psikologis, kultural dan agama dikarenakan kezaliman para elite.

Selain pembahasan mengenai bidang sosial, Kang Maman memberikan sajian kisahnya bersama Gus Dur yang concern pada permasalahan lingkungan. Agama memiliki peran untuk melestarikan dan menjaga lingkungan. Islam memerintahkan manusia untuk memanfaatkan alam dengan catatan akan mengecam dan memberikan balasan bagi mereka yang mengesploitasinya. Predikat manusia sebagai khalifah fil ardh tak hanya berhenti pada tataran teks melainkan ditarik dalam konteks. Keberimanan kepada Allah direalisasikan dalam berbagai hal, diantaranya kesalehan atas alam dengan menjaga, memelihara dan melestarikan lingkungan. Pelestarian terhadap lingkungan pun membutuhkan bantuan dari berbagai pihak termasuk pemerintah; pakar/ilmuwan; agamawan; LSM; dan masyarakat.

Kemudian Gus Dur dan diskusinya dengan Kang Maman dalam judul essay “Pesantren dan Hegemoni Budaya” memberikan penekanan kepada pesantren untuk senantiasa merawat identitas bangsa, kebudayaan, dan adat istiadat. Di tengah maraknya arabisasi, Indonesia harus tetap muncul dengan wajah yang khas. Memang Islam sangat menghargai seni dan kebudayaan. Bahkan dalam historinya, Rasulullah Saw. memberikan penghargaan dan pujian kepada seorang penyair bernama Hasan ibn Tsabit. Tentunya kebudayaan yang didukung Islam adalah yang bertanggungjawab, memiliki komitmen dan orientasi pada kesejahteraan sosial, serta memberikan pencerahan kepada umat. Dengan demikian beragama itu harus dilaksanakan secara makna bukan hanya memandang teks dan huruf. Agama bukan hanya secara simbolik belaka melainkan substansi nilai keagamaan.

Salah satu essay yang menarik dan saya perhatikan adalah pembahasan mengenai “ Cara Terbaik untuk Memahami dan Menjalani Kebhinekaan” yang dirajut dengan cara wisata kuliner atau Kang Mamang mengistilahkannya dengan pluralisme makanan. Karena pembahasan ini begitu asing di telinga saya, hal ini menjadi sebuah kemenarikan tersendiri dan perlu analisis yang lebih jauh perihal pluralisme makanan di Indonesia sebagai perajut kebhinekaan. Menurut Gus Dur, pluralisme makanan merupakan jalan untuk menjaga keindonesiaan. Pluralisme meakanan merupakan wasilah pengenalan dan pengakuan terhadap kelompok lain. Restoran merupakan salah stau ruang  publik yang dapat memperkokoh pluralisme. Kebiasaan Gus Dur menikmati menu masakan dari berbagai penjuru merupakan salah stau apresiasinya kepada pluralisme. Kemudian disikapi dengan positif dan konstruktif.

Kutipan percakapan Gus Dur dan Kang Maman ini memberikan makna yang begitu dalam terkait pluralisme makanan. Ketika Gus Dur ditanya bagaimana cita rasa sop kikil yang dibawakan Kang Maman, sesekali ia pun menyuapi Gus Dur. Gus Dur menjawab, “Kiai, semua gigitan dari makanan yang halal adalah sebuah kenikmatan. Karena itu bentuk rasa syukur pada Allah. Tapi aku merasakan kelezatan tiada tara dari setiap makanan yang diberikan seseorang karena aku menjumpai kepuasan jiwa dalam diriku dari tindak kecintaan dan persaudaraan yang hakiki dari orang tersebut.”

Komentar Gus Dur selanjutnya yang menjadi sorotan publik adalah statemen beliau mengenai DPR yang bersikap seperti anak-anak. Argumen tersebut sudah menyulut pendapat pro dan kontra. Anak-anak diartikan sebagai simbol masa depan dan generasi ke depan bergantung pada mereka. Dari sini konklusi yang didapat adalah DPR berarti menjadi pemegang kendali masa depan bangsa sehingga kinerja yang mereka lakukan harus bermaslahat dan menyangkut kepentingan bangsa ini dan berdampak bagi masa depan. Hal ini menjadi motivasi sekaligus kritikan namun sayang yang memahami dengan dalam hanya segelintir orang, sebagian lainnya hanya menerima dan mendengar tak ubahnya sebagai ‘olokan’ semata.

Buku ini ditutup dengan pembahasan “Kiai dan Transformasi Sosial” bagaimana sosok pemuka agama bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat melalui teks agama yang memiliki relevansi dengan fenomena-fenomena sosial. Agama tak hanya dipahami sebagai konsensus hukum yang saklek dengan ritual semata. Makna di dalam teks diinterpetasikan ke dalam kehidupan sosial sehingga agama menjadi solusi bagi berbagai permasalahan masayarakat, termasuk pada tataran sosial, lingkungan dan keberagaman.

Kelebihan Buku

Buku ini ditulis dengan bahasa yang begitu renyah dan istilah-istilah yang mudah dipahami. Dengan gaya bercerita yang lihai seakan pembaca hanyut dalam skenario yang dibuat Kang Maman. Membaca buku ini secara seksama mendapatkan kisah unik dan langka sosok Gus Dur dari sosok terdekatnya, Kang Maman. Buku ini menjadi pendorong dan motivasi untuk memahami dan mencari banyak hal tentang Gus Dur. Bahwa Gus Dur merupakan sosok yang memang begitu sulit ditebak dan diterka pemikiran serta ide gagasannya. Dengan membaca kisah dari sosok-sosok terdekatnya akan memberikan pemahaman dari beberapa gagasannya yang sempat membuat kita berpikir berulang kali dan bertanya-tanya. Kelebihan buku ini lainnya adalah dilengkapi dengan VCD-DVD transkip dialog antara Kang Maman dan Gus Dur yang menjadi data real akan pertemuan dua sosok tersebut.

Kekurangan Buku

Buku yang sempurna adalah buku yang tak pernah ditulis. Setiap buku pastilah memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Sehebat apapun karya pasti terdapat cela kritik di dalamnya. Menurut saya, kekurangan buku ini adalah; buku ini ditulis dengan lay out yang mungkin akan sedikit mengganggu pembaca. Karena beberapa pembahasan serius akan diselingi dengan humor dengan halaman yang berbeda. Terkadang untuk memahami bahasan serius itu harus mengulang pada halaman sebelumnya untuk dikaitkan dengan halaman berikut. Kedua, ada beberapa kisah cerita dan pembahasan yang menurut saya belum tuntas sehingga masih menyisakan pertanyaan tersendiri, mengapa hal ini terjadi? Apa alasannya?

Tapi generally buku ini memberikan kesadaran bagi generasi sekarang untuk meneladani sosok Gus Dur, banyak amanat yang terselip dalam perbincangan Gus Dur bersama Kang Maman. Nyatanya buku ini bukan sekadar canda dan tawa Gus Dur semata, namun bagaimana menjadi umat beragama yang baik dan menjadi sosok pemimpin yang bijaksana? Beberapa dari kita mungkin belum sempat bertemu langsung dan berdiskusi dengan beliau. Buku ini bisa menjadi salah satu pengobat dari romantisme masa lalu Gus Dur yang masih diidamkan para penggemar, bagaimana gaya beliau berdialog dan menyelesaikan permasalahan yang begitu rumit dengan penuh tenang.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Index