Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Sastra

Langit Goryeo; Antara Kisah Cinta, Ilmu Sejarah, dan Muhasabah Diri

×

Langit Goryeo; Antara Kisah Cinta, Ilmu Sejarah, dan Muhasabah Diri

Sebarkan artikel ini
Foto novel Langit Goryeo (Dok. Istimewa-Ummi)

Urupedia – Judul novel yang diresensi adalah Langit Goryeo yang ditulis oleh Berliana Kimberly. Jumlah halaman keseluruhan dalam novel ini 380 halaman. Diterbitkan oleh penerbit akad pada Agustus 2023.

Saat sedang khawatir dengan kehidupan, lihatlah ke atas. Hamparan langit biru cerah membentang. Kita memanglah kerdil mengatur seluruh urusan, tetapi ada Allah yang Maha Besar.” (Langit Goryeo hal. 41)

Novel dengan cover ciamik, warna biru tua dan muda berpadu, melukiskan kedua insan yang merajut asmara, Haneul Choi dan Cahaya Pendar. Novel ini dilengkapi dengan booklet, berisi proposal pernikahan antara Haneul dan Pendar. Novel ini mengisahkan perjalanan asmara seorang muallaf Korea bernama Haneul Choi dan seorang pemandu wisata asal Jogjakarta yang bernama Cahaya Pendar. Tak jarang di dalamnya terdapat dilematis rasa, ketakutan, ketidakpercayaan, dan kekhawatiran antara keduanya dalam menjalani asmara.

Haneul Choi berasal dari latar belakang keluarga non muslim. Ayahnya, Choi Yoenseok merupakan pemilik perusahaan Yumsik. Yeonseok sangat tidak setuju jika putra pertamanya memilih kepercayaan yang berbeda dengan dirinya. Di sisi lain, Haneul tidak berkeinginan untuk melanjutkan perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang makanan cepat saji tersebut. Haneul memiliki seorang adik perempuan yang sangat perhatian dan setia, Naeun.

            Novel ini dibuka dengan suasana kerumunan reoni SMA Gwangha angkatan 32. Saat itu Haneul telah mengikrarkan kalimat syahadat bersama gurunya, Imam Lee. Karena ia telah menjadi muslim, ia berhari-hati dala memilih makanan maupun minuman bersama kawan lamanya. Narasi lain mengisahkan seorang Pendar yang tengah menikmati minuman keras bersama teman-temannya. Bab pertama ada novel ini mengisahkan keduanya dengan karakteristik yang sangat kontradiktif sebelum akhirnya nanti Pendar juga akan bertaubat dan kembali pada jalan yang benar.

Novel ini ditulis dengan gaya bahasa kekinian, banyak kosa kata baru, diselingi dengan kosa kata bahasa korea sehingga menambah wawasan kebahasaan kita. Penulis juga menyelipkan gaya narasi yang humoris serta mendetail —apalagi ketika mendeksripsikan fashion seorang tokoh—.Penulis menorehkan semua adegan dan peristiwa dengan detil, peresensi rasa novel ini sarat dengan penelitian yang mendalam.

            Tak hanya itu, di dalamnya juga tersirat nilai-nilai dakwah Islam yang senantiasa mengajak kita untuk melibatkan Yang Maha Kuasa dalam segala keadaan. Dari kisah Haneul Choi sebagai seorang muallaf, yang keimanannya diuji dengan begitu dahsyat. Ia harus melewati masa-masa terpuruk pasca kecelakaan, sementara waktu ia harus menikmati ruang gelap tanpa cahaya karena nikmat melihatnya diambil sementara waktu. Di sinilah keimanannya diuji, di sisi lain sang kekasih, Cahaya Pendar menanti kepastian lelaki yang ia tunggu-tunggu. Ia hanya bisa berserah dan memasrahkan diri pada Tuhannya. Tak hanya itu, sesekali penulis juga mengutip ayat-ayat Al Quran untuk memberitahukan kepada pembaca bahwa alangkah kompleksnya Al Quran di dalam memberikan solusi bagi umatnya. Salah satu ayat yang dikutip yaitu Surat Al Fiil ayat pertama yang mengisahkan kekuasaan Allah yang melindungi Ka’bah dari kajahatan pasukan bergajah. Penjelasan ayat ini diulas sebagai selingan peristiwa ketika Haneul dan Pendar berada di Motel.

            Dari sosok Haneul kita bisa belajar bagaimana memperlakukan seorang perempuan dengan mulia, meski ia diberikan kesempatan sebesar apapun untuk melakukan segala hal. Akan tetapi seseorang dengan keimanan yang kuat akan tetap memegang teguh ajaran keyakinannya untuk senantiasa menjaga perempuan. Kiranya sikap itu tak bersimpangan dengan nasehat yang pernah Eomma-nya berikan. Kutipan dialog dalam novel menyebutkan,”Kau harus jadi laki-laki yang bertanggung jawab. Jangan pernah mempermainkan apalagi menyaikiti perempuan. Mengerti?” (Langit Goryeo hal. 71)

            Selain diulas dengan bahasa yang lugas, penulis juga memberikan humor segar untuk menampakkan narasi hidup dengan tawa para pembaca. Penulis begitu lihai dalam menyusun novel ini sehingga padat informasi. Diantara humor segar yang ditulis yakni, Dari aromanya saja, Haneul sudah bisa merasakan cacing-cacing di perutnya sedang berorasi menuntut HAM (Hak Asasi Makan) (hal. 63) Selain itu, informasi yang diasjikan sangat researchable, menandakan penulis melakukan riset yang begitu kaya sebelum akhirnya menuliskan novelnya. Seperti yang termaktub dalam hal. 103, mengulas bahaya rokok dan vape/rokok elektronik. Penulis mengulas pendapat dari kementerian kesehatan akan bahayanya benda tersebut.

            Novel ini memberikan kita informasi tentang beberapa khas kuliner Jogja yang notabene ayah Pendar, Sadewa adalah salah satu pemilik restoran ternama di sana, Dewi Sumunar. Kita juga diajak bertamasya mengenali budaya Jogja, seperti pakaian tradisional khas yang bernama surjan serta penutup kepala yang bernama blankon. Di sini penulis masih lihai juga dalam memberikan dialog yang humoris antara Haneul dan Mas Wahyu, pemandu wisata pengganti Pendar. “Walah, Mas. Wis cocok kalau mau cari mertua di Jogja.” Kemudian Haneul menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Selain kuliner dan pakaian khas, novel ini juga mengulas filosofi bangunan yang ternama di Jogja, Masjid Gedhe Kauman—masjid yang menjadi tanda bahwa kesultanan Jogjakarta adalah kesultanan Islam yang tidak memisahkan antara pemerintahan dengan kepercayaan agamanya—. Haneul mengimbangi pula dengan beragam informasi dan budaya Korea. Di Seoul juga menawarkan pemandangan tradisional dari Istana Gyeongbok.

            Selain sarat dengan kebudayaan, novel ini mengajarkan pula bagaimana pengelolaan emosi dalam keluarga. Kita disuguhkan dengan karakteristik dua keluarga yang berbeda. Pendar, seorang gadis yang telah ditinggal ibunya beberapa tahun lalu. Sementara sang Ayah menikah lagi dengan seorang wanita baru, dan mereka hidup dalam satu rumah. Rasanya berat bagi Pendar, untuk tidak terngiang sosok ibu tercinta. Apalagi sang Ayah sering membandingkannya dengan anak yang dilahirkan dari istri keduanya, Inaya.

            Hal yang sama juga terjadi dengan Haneul, keluarganya yang mulanya tak menerima keIslamannya. Sang Ayah tidak setuju jika putranya menganut kepercayaan yang berbeda. Apalagi ia merupakan salah satu pewaris Yumsik Corp milik ayahnya. Haneul juga telah ditinggal oleh sosok Eomma-nya yang begitu menyayangi Haneul. Kemudian di masa Haneul telah dewasa, Yeonsok berencana menikahkannya dengan Sena, salah satu teman Haneul semasa SMA yang bisa dibilang orangtuanya sekufu dengan Yeonsok. Akan tetapi Haneul memiliki jalan hidup yang harus ia tempuh sendiri.

            Beragam polemik kisah cinta dan keluargaa dituangkan penuh rasa yang nano-nano. Bahkan pembaca bisa dibuat tertawa bahagia dan menangis karena sedih dalam menghayati setiap kisah. Lagi-lagi di setiap bab pada novel akan kita temukan quotes singkat yang merepresentasikan substansi kisahnya. Setiap halaman demi halaman sarat dengan pesan. Maka sangat disayangkan jika kita membacanya hanya sekadar berlalu lalang tanpa memetik amanat yang utama. “Bukan Allah yang meninggalkan, tetapi ruh dan raga kita yang menjauh dari kebaikan mambunuh keyakinan akan kehadiran Tuhan secara perlahan-lahan.”

            Kita bisa belajar banyak hal, bahkan menyiapkan mental sebelum pernikahan. Penulis memberikan narasi-narasi yang padat akan nasehat. Dikarenakan menikah bukan ajang untuk bercanda, anganlah membahas pernikahan dengan cara yang bercanda. Kemudian dilanjut “Menikah adalah ibadah yang seharusnya dilakukan oleh dua orang yang matang secara pemikiran, fisik, spiritual, dan mental…” (hal. 221)

            Di tengah keseriusan Haneul dan Pendar, datanglah masalalu Pendar untuk merusak rumah tangga mereka yang baru dibangun beberapa hari. Akan tetapi Haneul merupakan sosok yang dewasa, ia memahami gadis yang telah membuatnya jatuh hati secara fisik dan keimanan. Ia memahami apa yang telah terjadi pada Pendar untuk akhirnya sama-sama berjuang mewujudkan keharmonisan rumah tangga.

            Untuk judul novel “Langit Goryeo” peresensi temukan deskripsinya di bab akhir. Pada bab ini di sisi mengisahkan romantisme Haneul dan Pendar juga menarasikan betapa indahnya sejarah Islam yang bernaung di Korea. Goryeo merupakan salah satu dinasti terkuat yang pernah menduduki tiga kerajaan akhir yang berada di Korea. Bahkan cahaya Islam pernah berpendar semasa dinasti ini sehingga banyak muslim berdatangan dan bahkan terdapat perkampungan muslim yang akhirnya memiliki masjid. Akan tetapi lambat laun Goryeo runtuh karena terjadi pemberontakan militer dan muncullah Dinasti Joseon. Pada masa ini Islam di Korea sedang menghadapi ujian yang sangat berat hingga akhirnya pada tahun 1950-an meletuslah peperangan antara Korea Utara dan Korea Selatan yang kemudian Allah menyejukkan kembali Korea dengan berkumandangnya takbir jihad tentara muslim dari Turki.

            Akhirnya sampai penghujung cerita, bab ke-28 kisah dalam novel ini berlalu dengan happy ending. Pada akhir epilognya tertulis, “Semoga Allah mencintaimu karena telah mencintaiku karena-Nya,” kutipan dialog yang diucapkan oleh Pendar pada suaminya, Haneul Choi.

            Dengan banyak kelebihan yang terdapat pada novel ini, peresensi memberikan sedikit masukan bahwa alur yang dibuat penulis kiranya masih sedikit tergesa-gesa sehingga kisah yang diceritakan berlalu dengan singkat. Akan tetapi, generally alur dan kisah di dalamnya sangat menarik dan sarat dengan pengetahuan. Tak hanya menghibur dan memberikan efek santai bagi pembaca akan tetapi bermuhasabah diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *