Berita

BEDAH BUKU WARNAI DIALOG KEPEMUDAAN DI PURWOREJO: Senja, Antara Cinta atau Sekadar Rasa, dan Nggak Apa-apa

×

BEDAH BUKU WARNAI DIALOG KEPEMUDAAN DI PURWOREJO: Senja, Antara Cinta atau Sekadar Rasa, dan Nggak Apa-apa

Sebarkan artikel ini

Urupedia.id- PURWOREJO — Selasa (12/8/2025) pagi, aula Perpustakaan Umum Kabupaten Purworejo tampak ramai dan hangat. Sejak pukul 09.00 WIB, puluhan peserta telah memadati ruangan, menyambut acara Dialog Kepemudaan yang dikemas dalam bentuk Bedah Buku bertajuk “Senja, Antara Cinta atau Sekadar Rasa, dan Nggak Apa-apa”. Acara ini digelar oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Purworejo bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinpusip) Kabupaten Purworejo.

Di panggung depan, hadir Fitri Lusiana Kurniasari, S.P, penulis sekaligus Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan Kabupaten Purworejo 2023. Dengan senyum ramah, Fitri membagikan kisah di balik proses kreatifnya menulis tiga karya yaitu: Senja, Antara Cinta atau Sekadar Rasa, dan Nggak Apa-apa. Ketiga buku itu tidak hanya memotret perasaan, tetapi juga menyisipkan pesan-pesan kehidupan yang relevan dengan realitas generasi muda.

Acara dimulai dengan pengantar singkat dari panitia, dilanjutkan sesi berbagi pengalaman penulis tentang perjalanan menjadi pemuda pelopor. Fitri menekankan bahwa menulis bukan sekadar menuangkan kata, melainkan juga membangun kesadaran dan memberdayakan pembaca.

Keakraban terlihat jelas ketika sesi tanya jawab dibuka. Beberapa peserta, baik Mahasiswa maupun tenaga pendidik, mengajukan pertanyaan seputar tips menulis, tantangan menerbitkan buku, hingga cara menumbuhkan minat baca di era digital. Fitri menjawab dengan lugas, diselingi cerita-cerita ringan yang membuat suasana lebih cair.

Menjelang akhir acara, sesi foto bersama menjadi momen yang tak terlewatkan. Peserta berfoto sambil mengangkat tangan membentuk huruf “L” – simbol dari Literasi . Tak hanya pulang dengan pengetahuan baru, 50 pendaftar pertama juga mendapat kejutan menarik dari Dinpusip Kabupaten Purworejo.

Kegiatan ini membuktikan bahwa literasi dan kepemudaan dapat berjalan seiring, saling menguatkan. Bedah buku bukan sekadar membicarakan isi tulisan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan gagasan dan inspirasi. Di Purworejo, pagi itu, matahari terasa hadir lebih awal—mewarnai hati dengan kata, rasa, dan makna.

Advertisements

Respon (52)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *