BeritaNasional

PMII UIN SATU Mengadakan SARKAS: Dari Kegelapan Menuju Cahaya Kaderisasi

×

PMII UIN SATU Mengadakan SARKAS: Dari Kegelapan Menuju Cahaya Kaderisasi

Sebarkan artikel ini

Urupedia.id- Tulungagung — Pagi 12 Agustus 2025, Aula lantai 2 PC PMII Tulungagung bukan sekadar ruang pertemuan; ia menjadi panggung di mana organisasi bercermin, mengakui kerutan di wajahnya, dan dengan jujur menertawakan luka sendiri. Acara itu bernama Sarkas—Sarasehan Kritis Kaderisasi.

Ironisnya, forum ini lahir dari kekosongan. Kekosongan agenda di tingkat cabang yang berujung pada “kegelapan” kaderisasi. Modul kaderisasi PMII UIN SATU ini merupakan, “Modul ini lahir karena kegelapan,” demikian ungkapan yang beredar di antara panitia, seakan ingin menegaskan bahwa bahkan malam tergelap pun bisa memunculkan cahaya—asal ada yang mau menyalakannya.

Dukungan penuh datang dari Ketua Komisariat PMII UIN SATU Tulungagung, sahabat Fikri Miftahul Faizin. Baginya, Sarkas adalah pernyataan tegas bahwa organisasi ini belum mati; ia hanya sedang menunggu tangan-tangan yang berani menghidupkan kembali denyutnya.

Menatap Realitas dengan Mata Terbuka
Acara dibuka oleh Ketua Bidang 1 Kaderisasi, Daya Guna, PA & PO, sahabat Elfan Maula. Dengan nada tenang namun tegas, ia mengingatkan bahwa kaderisasi adalah aliran darah organisasi; jika ia berhenti mengalir, seluruh tubuh akan lumpuh. Kata-katanya bukan sekadar pembukaan, melainkan undangan untuk melihat realitas tanpa tabir.

Mengukur Kedalaman Sumur
Koordinator Daya Guna, sahabat Krisna Wahyu, melanjutkan dengan prolog yang menyentuh akar persoalan. Ia menggambarkan kondisi kaderisasi seperti sumur yang nyaris kering; airnya menipis, namun di dasar masih ada sumber yang bisa digali. Kuncinya, kata dia, adalah keberanian untuk turun, lewat progam REP Rayon Empowerment Project, hasil itu menjadi data kondisi Rayon- rayon di UIN SATU, dan bukan sekadar berdiri di bibir sumur sambil mengeluh. Modul kaderisasi yang baru disahkan, baginya, adalah tali dan timba yang siap digunakan—asal ada yang mau menggerakkan.

Materi 1: Perspektif Kritis Kaderisasi PMII Tulungagung
M. Ahsanur Rizqi, S.Pd., mantan Ketua Umum PMII Komisariat UIN SATU Tulungagung, membuka sesi materi dengan pertanyaan yang mengguncang: “Apakah kita benar-benar membina kader, atau hanya mengumpulkan nama di grup WhatsApp?”

Ia mengurai bahwa kaderisasi di Tulungagung kerap berhenti pada formalitas: MAPABA, PKD, lalu senyap panjang. Padahal, lanjutnya, nyawa organisasi justru tumbuh di ruang-ruang non-formal: diskusi kecil, mentoring, aksi sosial. Ia mengajak semua yang hadir untuk berhenti mengandalkan seremoni, dan mulai membangun proses yang berkesinambungan. Dan menurutnya PMII Tulungagung harus segera merumuskan dan memberi jalan tengah atas kegelapan yang terjadi. Sarkas adalah forum, kritik terbuka dengan konstruktif bahwa Nyawa di PMII Tulungagung masih ada.

Materi 2: Penguatan Kaderisasi
Basyaruddin Zainun Nafi’, S.Psi., mantan Waka I Bidang Internal, membawa sudut pandang psikologis. Menurutnya, persoalan kaderisasi tak hanya soal struktur, tapi juga mentalitas. “Kita bangga dengan jumlah anggota, tetapi lupa menghitung berapa yang benar-benar hidup dan bergerak,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kaderisasi memiliki dimensi, dan strategi serta harapan. Dari riset yang beliau lakukan, kaderisasi PMII di Tulungagung mayoritas responden mengatakan “Masih Relevan” dengan bidang keilmuan dan keahlian yang dimiliki. Ia juga memberikan support penuh atas terselenggaranya acara ini. Kedua materi tersebut dipandu oleh Sahabat Abu Khasan selaku moderator yang memberikan pantikan obor untuk memanaskan kajian ini dengan serius.

Acara Inti: Membedah Modul, Menemukan Nadi
Puncak acara adalah Focus Group Discussion (FGD) untuk membedah modul kaderisasi. Peserta dibagi dalam kelompok, mengupas isi modul dengan kritis namun konstruktif. Ada yang menilai kurang dalam pembahasan instrumen kaderisasi, bab teknik komunikasi terlalu normatif, ada yang mengusulkan integrasi isu-isu aktual seperti literasi dan pelatihan public speaking. Dan menambahkan untuk fokus Rancangan Tindak Lanjut ketika setiap kegiatan kaderisasi berlangsung.

Diskusi berlangsung hangat, bergantian antara argumen serius dan tawa lepas. Namun di balik suasana itu, terasa kesadaran baru: modul ini bukanlah kitab suci yang tak boleh disentuh, melainkan draf hidup yang harus terus diperbarui sesuai zaman.

Menyepakati Jalan Pulang
Forum ditutup dengan satu kesepakatan: modul kaderisasi ini akan dijadikan pedoman resmi di setiap kegiatan, dan dilaunching ketika RTAK. Acara ini meninggalkan ide- ide baru yang siap untuk selalu dibaca oleh para peserta. Modul tanpa penerapan hanyalah buku tanpa pembaca. Dan kader tanpa ruh adalah patung yang pandai bicara, tapi tak pernah melangkah.

Kegelapan yang melahirkan modul ini ternyata juga melahirkan kesadaran baru: bahwa kritik tak harus diucapkan dengan marah; ia bisa disampaikan dengan elegan, dibalut humor, namun tetap mengiris tepat di bagian yang sakit.

Jika kegelapan adalah asal mula modul ini, maka Sarkas adalah obor pertama yang menyalakan jalan. Tugas selanjutnya ada pada setiap kader—untuk menjaga api itu tetap menyala, hingga kelak kita tak lagi bicara tentang kegelapan, melainkan tentang cahaya yang kita rawat bersama.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *