Esai

Menelusuri Sisi Gelap Sindrom Cinta Obsesif Secara Psikologis

×

Menelusuri Sisi Gelap Sindrom Cinta Obsesif Secara Psikologis

Sebarkan artikel ini

Urupedia.id- Cinta, bagi banyak orang, adalah emosi paling membahagiakan—layaknya matahari pagi yang hangat, memeluk lembut hati manusia. Ia sejajar dengan emosi lain seperti marah, sedih, atau gembira, namun memiliki pesona yang berbeda: cinta mampu membuat dunia terasa lebih hidup. Namun, bagaimana bila cinta itu melampaui batas? Saat kasih sayang berubah menjadi obsesi, batas antara cinta dan ilusi menjadi kabur. Di titik inilah kita memasuki wilayah gelap yang disebut Obsessive Love Disorder (OLD)—sebuah kondisi psikologis yang ditandai dengan cinta yang berlebihan, menyesakkan, dan jauh dari sehat.

Alih-alih menciptakan hubungan yang saling menghargai, membuka ruang komunikasi, dan memberi kebebasan pribadi, cinta obsesif justru tampil sebagai bentuk dominasi yang menakutkan. Ia mengandung cemburu yang patologis, ketakutan ekstrem akan kehilangan, dan dorongan untuk mengontrol pasangan secara menyeluruh. Jika cinta sejati adalah memberi, maka cinta obsesif adalah menuntut. Ia menyamar sebagai perhatian, namun sebenarnya adalah ketergantungan yang membebani.

Fenomena ini tidak hanya ada dalam kajian psikologi barat. Komnas Perempuan (2023) mencatat peningkatan kasus kekerasan yang berakar dari cinta posesif, terutama dalam masyarakat patriarkal seperti di Indonesia. Ironisnya, cinta obsesif sering disamarkan sebagai bentuk pengorbanan total—terutama oleh perempuan. Padahal, ini bukan pengorbanan, melainkan penghapusan diri dalam nama cinta yang semu.

Gambaran ekstrem tentang cinta obsesif dapat kita temukan dalam serial Netflix “You”, yang menyoroti karakter Joe Goldberg. Ia tampak cerdas dan romantis di permukaan, tapi di balik itu tersembunyi sosok stalker, manipulator, dan pencinta yang percaya bahwa ia punya hak penuh atas orang yang dicintainya. Joe adalah potret dari cinta yang gagal membedakan antara kasih dan kepemilikan. Serial ini menjadi alarm keras: cinta yang tidak dibarengi kesadaran diri dapat berubah menjadi bahaya nyata—baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Erich Fromm, seorang filsuf dan psikoanalis ternama, punya pandangan yang jauh lebih dewasa soal cinta. Dalam bukunya The Art of Loving (1956), Fromm menulis bahwa cinta bukan sekadar perasaan pasif yang terjadi begitu saja, tapi sebuah kemampuan aktif yang harus dipelajari dan dilatih. Cinta, menurut Fromm, hadir dengan empat unsur penting: perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pemahaman mendalam. Maka, cinta yang sejati tidak menuntut kendali, tapi justru mendorong pertumbuhan bersama.

Cinta bisa jadi anugerah, bisa juga berubah menjadi jerat. Semua tergantung dari bagaimana kita menempatkannya—sebagai ruang saling menguatkan, atau sebagai medan tempur atas nama kepemilikan. Maka, sebelum mengatakan “aku cinta kamu,” tanyakan dahulu pada diri sendiri: ini cinta… atau ilusi?

Referensi:

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *