
Konfercab XXVIII itu, seperti malam yang tak bisa dipastikan kapan fajar akan datang. Di sebuah ruangan yang penuh spanduk dan wajah-wajah lelah, politik menjadi semacam teater. Orang-orang menyebutnya musyawarah, tapi sesungguhnya yang berputar adalah egonya masing-masing. Ahmad Muzakki, dengan keputusan sepihaknya, seperti hendak menulis ulang nasib. Lalu BPK, dengan wajah penuh keyakinan, membaca hukum sebagai kitab suci yang tak bisa ditawar.
Orasi kebudayaan malam itu meledak seperti kembang api di langit yang sesungguhnya gelap. Kata-kata dilontarkan seakan-akan akan menyelamatkan sejarah, padahal sejarah hanya diam, menonton.
Seseorang mengutip Gus Dur—tentang kemanusiaan yang lebih penting dari politik—dan kalimat itu, meski sudah berkali-kali disalin, masih terasa asing di telinga yang sudah terlalu akrab dengan ambisi.
Dini hari, Aris dan Septhia dipilih. Nama-nama itu terdengar seperti harapan baru, tapi saya tahu, yang baru hanyalah kulitnya.
Di dalam, luka lama masih menunggu kesempatan untuk berdarah lagi. Politik, bahkan di ruang sekecil PMII Tulungagung, punya kebiasaan lama: melahirkan kubu, lalu melahirkan musuh.
Namun, di balik itu, saya juga melihat sesuatu yang rapuh tapi mungkin indah. Di antara tangan-tangan yang saling menggenggam setelah sidang, ada percakapan tanpa suara: “kita masih sahabat.” Kata sahabat itu mengandung paradoks: ia bisa berarti solidaritas, bisa juga berarti kedok. Tapi bukankah hidup selalu berjalan di antara dua pengertian itu?
Goenawan pernah menulis: “Politik adalah seni kemungkinan, tapi manusia adalah seni ketidakpastian.” Barangkali Konfercab XXVIII hanyalah satu bab kecil dari ketidakpastian itu. Sebuah upaya menyulam kembali benang yang putus, meski kita tahu, setiap jahitan selalu meninggalkan bekas.
Saya ingat seseorang berbisik setelah sidang: “percuma mengkader banyak kalau tak sesuai arah.” Kalimat itu sederhana, tapi menohok. Karena benar, kader bukanlah angka yang dipamerkan, melainkan nyala yang harus dijaga. Jika di dalam tubuh sendiri masih panas, masih sibuk menuding, maka nyala itu hanya akan padam sebelum menyinari.
Di luar ruangan, Tulungagung menunggu. Dengan sawah yang menghampar, sungai yang penuh ikan, dan tradisi intelektual yang diam-diam tumbuh di warung kopi kampung. Bukankah di situlah PMII mestinya hadir? Membuat pertanian lebih terkelola, kebudayaan dan tradisi lebih berdaya, lebih hidup. Agar kata pergerakan tidak berhenti di ruang rapat, tapi menjejak di tanah, di air, di kehidupan masyarakat.
Tapi untuk bergerak, sebuah tubuh perlu ingatan. Maka sistem arsip yang jelas adalah nadi—agar pengalaman tidak hilang, agar jejak langkah bisa ditapaki generasi berikutnya. Tanpa arsip, sejarah hanya menjadi cerita yang diceritakan setengah.
Dan ada satu luka lain: kesempatan yang timpang. Rayon yang kecil sering merasa ditinggalkan, seakan suara mereka tak cukup penting. Padahal dari rayon-rayon itulah semangat paling murni biasanya lahir.
Program kerja yang tak menyentuh rayon adalah program kerja yang kehilangan akar.
Konfercab XXVIII akhirnya selesai. Nama Aris dan Septhia diumumkan dengan tepuk tangan yang terdengar seperti janji. Tetapi janji, seperti yang kita tahu, sering kali lebih ringan daripada kenyataan. Di tengah gegap gempita itu, saya justru mendengar gema pertanyaan: benarkah semua ini akan mengubah arah? Atau hanya sekadar mengulang naskah lama dengan aktor berbeda?
Harapan memang terbentang. Bahwa gerak PMII harus transparan, terarah, dan bersinergi. Bahwa percuma mengkader banyak bila hanya untuk kepentingan personal atau kubu.
Bahwa potensi Tulungagung—sawahnya, tambaknya, tradisi budayanya—harus diolah menjadi daya guna nyata bagi masyarakat. Bahwa arsip harus rapi, agar masa depan tidak berjalan dalam kabut. Bahwa rayon kecil mesti diberi kesempatan yang sama untuk bersuara. Semua itu adalah jalan yang terang.
Namun di balik terang, ada bayangan. Kritik harus diajukan, sebab tanpa kritik organisasi ini hanya akan berputar dalam lingkaran ilusi.
Kritiknya begini: terlalu sering energi habis di meja sidang, sementara rakyat Tulungagung tidak pernah tahu apa yang diperdebatkan. Terlalu sering “kepanasan” lebih diutamakan ketimbang perapuhan kader. PMII seolah sibuk merayakan dirinya sendiri, tapi gagap ketika ditanya apa yang sudah dikerjakan untuk masyarakat.
Kritiknya begini: kaderisasi hanya dipamerkan dalam jumlah, tidak dalam kualitas. Seakan-akan banyaknya peserta makrab adalah bukti keberhasilan, padahal setelah itu kader muda dibiarkan hanyut tanpa arah.
Kritiknya begini: program kerja sering berhenti di atas kertas. Rayon-rayon merasa asing karena program cabang jarang turun menyentuh mereka. Seperti pohon besar yang megah, tapi akarnya kering.
Kritiknya begini: sistem arsip diabaikan, padahal tanpa catatan, sejarah hanya berulang dengan kesalahan yang sama. Setiap konfercab seperti kehilangan memori, seakan dimulai dari nol, padahal luka lama tidak pernah benar-benar sembuh.
Harapan dan tantangan hanya akan berarti jika kritik ini benar-benar dijawab. Jika tidak, maka Konfercab XXVIII hanyalah satu lagi pesta kecil yang ditulis di baliho, dibaca sebentar, lalu dilupakan.
Saya percaya: organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang takut pada kritik, melainkan yang sanggup menatap kritik sebagai cermin. Dan dari cermin itulah, wajah PMII Tulungagung bisa kembali dikenali: bukan wajah yang saling mencurigai, melainkan wajah yang benar-benar ingin berdaya bagi masyarakatnya sendiri.
Pada akhirnya, yang lebih penting bukanlah siapa ketua terpilih, melainkan apakah besok kita berani menjawab kritik dengan kerja nyata. Sebab sahabat sejati bukan yang pandai berorasi, tapi yang setia menyalakan api harapan di tengah gelap tantangan.
Dan mungkin, bekas itulah yang akan menjadi cerita—lebih abadi dari siapa yang menang atau siapa yang kalah.






