Opini

Papua Tengah Darurat HIV/AIDS: 23 Ribu Kasus, September Naik 667- Yerison Tebai: “Kalau Kita Diam, Generasi Papua Bisa Hilang”

×

Papua Tengah Darurat HIV/AIDS: 23 Ribu Kasus, September Naik 667- Yerison Tebai: “Kalau Kita Diam, Generasi Papua Bisa Hilang”

Sebarkan artikel ini
Yerison Tebai- Mantan Ketua Komisi Penanggulangan AIDs (KPA) Papua Tengah

Nabire – Angka kasus HIV/AIDS di Papua Tengah kian mengkhawatirkan. Hingga akhir Juni 2025, total kasus tercatat sudah 23.188 kasus. Memasuki September 2025, jumlah kasus kembali melonjak dengan penambahan sekitar 667 kasus baru.

Data ini diungkapkan Tim Kerja HIV IMS Provinsi Papua Tengah berdasarkan hasil surveilans semester I tahun 2025.

Sejak tahun 1998 hingga kini, Papua Tengah telah mencatat total 23.535 kasus HIV/AIDS, menjadikannya salah satu daerah dengan prevalensi tertinggi di Indonesia.

Situasi ini jelas alarm bahaya bagi masyarakat. Angka yang terus meningkat menunjukkan bahwa penyebaran HIV/AIDS masih sangat aktif di wilayah Papua Tengah, terutama akibat faktor risiko hubungan heteroseksual yang mencapai 94% dari total kasus.

Lebih mengejutkan lagi, distribusi kasus menurut jenis kelamin menunjukkan perempuan lebih dominan, yakni 56%, dibanding laki-laki 44%.

Hal ini menandakan perempuan berada dalam kelompok paling rentan, baik sebagai ibu rumah tangga maupun generasi muda.

Menanggapi kondisi ini, Yerison Tebai — mantan Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Papua Tengah sekaligus penggiat isu HIV/AIDS — memberikan seruan keras:

“Kita tidak bisa lagi diam melihat angka ini terus naik. Ini bukan hanya masalah kesehatan, tetapi masalah masa depan generasi Papua. Pemerintah daerah, gereja, sekolah, tokoh adat, dan semua elemen masyarakat harus bangkit bersama.”, Ujarnya.

“Mari kita putus rantai penyebaran HIV/AIDS dengan edukasi, proteksi diri, dan dukungan terhadap para penderita. Kalau kita lengah, Papua Tengah bisa kehilangan satu generasi. Saatnya bertindak sekarang!”, Tambahnya.

Hingga Juni 2025 terdapat 16.389 ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) yang sudah mengetahui statusnya. Namun tantangan besar masih ada: keterbatasan fasilitas layanan, stigma sosial, serta minimnya kesadaran menjalani pengobatan.

Pemerintah daerah menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam mengedukasi masyarakat, memperluas akses layanan kesehatan, dan memberikan dukungan moral agar tidak ada penderita yang merasa ditinggalkan.

Papua Tengah saat ini berada di persimpangan. Tanpa tindakan kolektif, epidemi HIV/AIDS bisa menjadi bom waktu yang merenggut masa depan generasi.

Advertisements