Berita

Potret Kampung Terisolir di Barru, Polisi Tumbang di Medan Ekstrem

×

Potret Kampung Terisolir di Barru, Polisi Tumbang di Medan Ekstrem

Sebarkan artikel ini
Dokumentasi: Hengki

Sulawesi Selatan- Barru- Urupedia.id– Perjalanan menuju Kampung Tiro, Dusun Dengen-Dengen, Desa Pujananting, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, bukanlah perjalanan biasa. Jalan tanah liat pecah, bebatuan tajam, serta dua aliran sungai menjadi tantangan berat yang harus dilalui.

Sabtu (15/2/2026), Kapolsek Pujananting IPTU Sahabuddin turun langsung meninjau kondisi warga yang hingga kini belum pernah menikmati aliran listrik.

Pantauan wartawan di lokasi, jalur yang ditempuh didominasi tanah liat licin bercampur batu tajam.

Di sejumlah titik, badan jalan terbelah akibat erosi.

Sepeda motor trail yang digunakan rombongan pun beberapa kali kehilangan traksi karena permukaan yang labil.

Di sebuah tanjakan curam, motor yang dikendarai IPTU Sahabuddin tak mampu menanjak sempurna. Ban belakang selip, motor oleng, dan ia pun terjatuh di jalur berbatu. Meski sempat tersungkur, Kapolsek segera bangkit dan memastikan rombongan tetap aman sebelum melanjutkan perjalanan.

“Medannya memang cukup ekstrem. Tapi kami ingin melihat langsung kondisi warga di sini,” kata IPTU Sahabuddin kepada wartawan di lokasi.

Perjuangan belum selesai. Rombongan masih harus menyeberangi dua sungai dengan arus cukup deras.

Motor dituntun perlahan melewati bebatuan licin agar tidak tergelincir.

Perjalanan yang semestinya singkat berubah menjadi berjam-jam karena beratnya akses.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi warga Kampung Tiro yang hingga kini belum tersentuh jaringan listrik.

Tanpa penerangan, aktivitas warga sangat terbatas saat malam hari. Anak-anak belajar dengan lampu seadanya, sementara roda perekonomian berjalan lambat.

Tokoh masyarakat Kampung Tiro, Abidin (52), mengaku kampungnya belum pernah menikmati listrik sejak Indonesia merdeka.

“Mulai sejak Indonesia merdeka kami belum ada penerangan listrik sampai sekarang,” kata Abidin di kediamannya.

Ia meminta pemerintah melihat langsung kondisi kampungnya.

“Coba kita lihat saja sendiri, Pak. Jalannya saja gelap kalau malam, apalagi listrik memang tidak ada,” ujarnya dengan nada kesal.

Tak hanya persoalan listrik, akses jalan juga memprihatinkan. Anak-anak harus berjalan sekitar 4 kilometer menuju sekolah dengan medan berat.

“Kalau banjir, anak kami tidak pergi ke sekolah karena khawatir terbawa arus. Berangkat pagi pulang sore, padahal itu masih siswa SD,” keluhnya.

Abidin berharap pemerintah daerah maupun pusat memberi perhatian serius.

Menurutnya, perbaikan jalan dan masuknya listrik akan sangat membantu warga, termasuk mempermudah hasil bumi dijual ke kota.

Terpisah, Kepala Dusun Dengen-Dengen, Suryadi, membenarkan kondisi ekstrem tersebut. Ia menegaskan, sejak Indonesia merdeka, Kampung Tiro belum pernah tersentuh listrik dan akses jalannya sangat berat.

“Kalau kami ke Dusun Landange, ada dua sungai yang harus dilewati. Kalau air naik, tidak bisa lewat,” kata Suryadi kepada wartawan.

Saat debit air meningkat, aktivitas warga lumpuh. Anak-anak terpaksa tidak bersekolah karena dikhawatirkan hanyut.

“Di Kampung Tiro ini memang belum pernah ada listrik dari PLN sejak dulu,” ujarnya.

Kunjungan Kapolsek Pujananting menjadi gambaran nyata beratnya akses menuju wilayah tersebut.

Jatuh di tanah liat dan menyeberangi sungai bukan sekadar insiden perjalanan, melainkan potret keseharian warga yang hidup dalam keterbatasan.

Di balik gelapnya malam tanpa listrik dan jalan ekstrem yang membelah sungai, warga Kampung Tiro hanya menginginkan hal sederhana: terang yang menyala dan jalan yang layak dilalui.

Oleh: Hengki Hutahuruk

Advertisements