
Urupedia.id- Di balik doa yang lirih itu, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.
Bukan sekadar harapan yang ditunda, melainkan kegelisahan yang tumbuh pelan seperti retakan di dinding keyakinan.
Ia tidak meledak, tidak runtuh, tetapi terus menganga.
Kalimat tentang ketakutan pada Tuhan yang diam menyentuh wilayah yang jarang diakui secara jujur dalam percakapan agama.
Kita diajarkan untuk takut pada neraka, pada dosa, pada hukuman.
Namun jarang sekali kita diajarkan bagaimana menghadapi Tuhan yang tidak menjawab.
Di titik inilah pengalaman religius menjadi sunyi dan pribadi.
Doa tidak lagi terasa seperti dialog, melainkan seperti suara yang dilempar ke ruang kosong tanpa gema.
Seseorang tetap berdoa bukan karena yakin akan jawaban, tetapi karena tidak punya cara lain untuk bertahan.
Ada semacam kesetiaan yang pahit di sana.
Kesetiaan yang tidak dibangun di atas kepastian, melainkan di atas kebiasaan memanggil sesuatu yang mungkin tidak akan menjawab.
Ironisnya, kesunyian seperti ini hampir tidak punya tempat dalam wacana para agamawan.
Tuhan selalu dihadirkan sebagai sosok yang dekat, responsif, penuh rencana yang indah.
Segala sesuatu seolah sudah ditata rapi dalam narasi optimisme yang nyaris tidak memberi ruang bagi keraguan.
Bahkan penderitaan pun sering dipoles menjadi bagian dari skenario ilahi yang pasti bermakna.
Seolah-olah tidak ada jeda, tidak ada kehampaan, tidak ada momen di mana manusia benar-benar merasa ditinggalkan.
Padahal, justru di situlah pengalaman manusia menjadi paling nyata.
Ketika seseorang berdoa dan tidak mendapat apa-apa selain keheningan, di situlah ia berhadapan dengan dirinya sendiri tanpa perantara.
Tidak ada janji instan, tidak ada kelegaan yang dibuat-buat.
Yang ada hanya kesadaran bahwa iman tidak selalu menghadirkan rasa aman.
Kadang iman justru memperpanjang kegelisahan, karena seseorang memilih tetap percaya meski tidak menemukan alasan yang cukup.
Kehadiran Tuhan yang terlalu sering dilebih-lebihkan dalam percakapan religius justru berisiko mengasingkan manusia dari pengalaman jujurnya sendiri.
Ketika semua harus tampak baik, ketika semua harus dimaknai secara positif, maka rasa kehilangan menjadi sesuatu yang seolah tidak sah.
Orang yang merasa doanya tidak didengar akan dianggap kurang iman, kurang sabar, atau kurang ikhlas.
Padahal bisa jadi ia justru sedang berada di kedalaman pengalaman yang tidak semua orang berani hadapi.
Ada semacam kekerasan halus dalam optimisme yang dipaksakan.
Ia tidak memukul, tetapi membungkam.
Ia tidak melarang orang merasa, tetapi mengarahkan perasaan agar tetap sesuai dengan narasi yang dianggap benar.
Dalam kondisi seperti itu, Tuhan menjadi terlalu ramai dalam kata-kata, tetapi semakin sulit ditemukan dalam pengalaman.
Mungkin yang lebih jujur adalah mengakui bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak selalu terang.
Ada fase di mana Tuhan terasa jauh, bahkan asing.
Bukan karena manusia meninggalkan-Nya, tetapi karena kehadiran-Nya tidak lagi dapat dirasakan dengan cara yang biasa.
Dan di titik itu, iman berubah bentuk.
Ia tidak lagi berupa keyakinan yang penuh, melainkan ketekunan yang rapuh.
Tetap berdoa dalam keadaan seperti itu bukan tanda kelemahan.
Justru di situlah terlihat bahwa iman tidak selalu bergantung pada rasa.
Ia bisa tetap hidup bahkan ketika harapan mulai menipis.
Bukan sebagai kepastian, melainkan sebagai tindakan yang nyaris absurd.
Memanggil tanpa tahu apakah ada yang mendengar.
Barangkali kita perlu mengurangi sedikit kebisingan tentang Tuhan.
Tidak semua harus dijelaskan, tidak semua harus dioptimiskan.
Ada nilai dalam keheningan yang tidak diisi.
Ada makna dalam pertanyaan yang tidak segera dijawab.
Dengan begitu, ruang bagi manusia untuk jujur terhadap ketakutannya tetap terbuka.
Sebab bisa jadi, ketakutan terbesar bukanlah pada Tuhan yang menghukum, melainkan pada kemungkinan bahwa dalam saat-saat paling sunyi, kita benar-benar sendirian.
Dan justru dari kemungkinan itulah, iman menemukan bentuknya yang paling telanjang.
Oleh: Krisna Wahyu Yanuar






