
Tulungagung, Urupedia.id – Pesantren Subulussalam Tulungagung mengadakan Seminar Literasi dan Launching Buku sekaligus Pembukaan Pesantren Subulussalam 2. Acara dihadiri oleh Abad Badruzzaman sebagai pemateri, Muhammad Jaery sebagai pembahas, serta Salamah Noorhidayati selaku penulis buku. Acara ini juga dimeriahkan oleh santriwan-santriwati Subulussalam dan 8 alumni, Minggu (27/02/22).
Buku yang dilaunchingkan merupakan hasil kodifikasi kalam singkat yang ditulis oleh Pengasuh Pesantren Subulussalam, Salamah Noorhidayati di laman Facebook maupun Whatss App. Tulisan yang bersifat sporadis-insidental ini dikodifikasikan oleh para alumni. Jumlah tim yang andil dalam kodifikasi ini berjumlah 10 orang, yang dikoordonatori oleh Dewi Masithoh.
Tujuan diadakannya launching ini tak sekedar mempublikasikan buku namun juga mengenalkan peresmian cabang dua Pesantren Subulussalam Tulungagung yang bertempat di Dusun Manggisan Desa Plosokandang.
“Kami menjadikan launching buku kali ini sebagai sosialisasi dan publikasi terhadap apa yang telah kita lakukan, bahwa pesantren kita sudah merambah ke Pesantren Subulussalam dua,” tutur Bunda Salamah selaku Pengasuh Pesantren.
Pembicara pertama adalah Bunda Salamah yang memaparkan latar belakang penulisan buku dilanjut Muhammad Jazeri mengulik dan mengomentarinya kemudian Abad Badruzzaman, menceritakan pengalaman menulis sekaligus memberikan motivasi.
Pengambilan diksi judul “Tebar Kebajikan Tuai Kebijakan” terinisiatif dari mahfudzot “Man yazra’ yahshud” secara leterlek bermakna barangsiapa yang menanam pasti akan memanen. Kebaikan yang dilakukan seseorang akan kembali pada dirinya sendiri, artinya ada sebuah timbal balik, ketika seseorang melakukan kebaikan maka ia akan menerima kebaikan pula.
Penulisan buku ini terjadi secara tidak sengaja, Bunda Salamah mengakui jika tulisan ini awalnya hanya iseng, namun lambat laun timbullah keasyikan di dalamnya.
“Awalnya iseng, tapi akhirnya lahirlah ‘isyq’/keasyikan,” jelasnya.
Petikan pernyataan singkat lebih dipilih untuk ditulis dengan alasan menjadi cara yang familiar dikalangan para generasi millenial untuk dibuat sebuah caption terhadap sebuah fenomena sekaligus mudah diingat sehingga ketika dibaca pun akan membekaskan kesadaran pada diri pembacanya. Selain itu, di dalam tulisan tersebut juga terhiasi dengan unsur adaby/sastra jika dikaji lebih mendalam
Latar belakang penulisan singkat ini; pertama, didasari oleh bidang kelimuwan yang ditekuni, ilmu hadits. Dalam ilmu hadits terdapat istilah matan hadits yang memiliki berbagai bentuk, diantaranya qouliy, fi’ly, adakalanya dari struktur bahasa berupa bentuk tamtsil, majaz, hiwar, dan jawami’ul kalim/kalimat pendek sarat makna. Model jawamiul kalim ini lah yang menginspirasi penulisan quotes ini. Kedua, mahfudzot yang dipelajari ketika berada di Pesantren pada tahun 1989 lalu dikodifikasikan menjadi satu buah buku dan ada sampai saat ini.
Harapannya, santri generasi selanjutnya dapat memberikan refleksi terhadap quotes yang telah dibukukan tersebut. Memang ada dua ranah pemaknaan berbeda, dari horizon penulis dan horizon pembaca, sesuatu yang dikehendaki penulis belum tentu sama dengan apa yang dipahami oleh pembaca. Dengan ini lahirlah interpretasi/hermeneutika subjektif dari para pembaca.
Dalam dunia tulis-menulis, lingkungan menjadi pengaruh yang signifikan. Circle pertemanan memberikan energi positif ataupun negatif terhadap diri individu. Demikian konklusi dari apa yang disampaikan oleh Muhammad Jazeri. Dia menegaskan bahwa selain kemampuan menulis dan kekonsistenan kita untuk menuangkan ide, kita membutuhkan kemampuan bahasa.
“Bahasamu itu batas dari cakrawalamu!” tegasnya.
Banyak orang yang memiliki naskah namun tidak diterbitkan, hanya tersimpan di rak folder saja. Jadi, buku yang bagus adalah buku yang terbit. Pernyataan yang disampaikan oleh Abad Badruzzaman.
“Buku yang bagus adalah buku yang terbit,” ungkapnya.
Abad memberikan suntikan motivasi berupa kisah perjalanannya dalam dunia literasi, mulai menjadi penggandrung sastra, menulis puisi, menulis narasi, hingga menciptakan buku dan menulis beragam penelitian serta menerjemahkan buku berbahasa arab. Geliat literasi memiliki beragam corak, ada yang sekadar menuangkan idealisme ataupun mengejar materialisme untuk tujuan pragmatis.
“Jika engkau bukan anak raja atau pun ulama besar, maka menulislah,” pungkas Abad Badruzaman mengutip ulama terkemuka, Imam Al Ghazali.
Acara berlanjut hingga pukul 12.45 kemudian dilangsungkan diskusi sejenak untuk membuka pertanyaan dan diakhiri dengan doa.
“Huruf itu benda mati, tapi rangkaian huruf bisa menghidupkan hati bahkan membuat orang mati serasa hidup kembali. Jangan biarkan namamu hanya terukir dalam batu nisanmu, tapi ukirlah namamu dalam karya-kaeya tulismu!” tambah Bunda Salamah dalam akhir acara sebagai closing statement.
Sebagaimana harapan Bunda, para alumni yang diwakili oleh Masithoh mengharapkan jika santri generasi lanjut memberikan refleksi terhadap apa yang telah ia mulai saat ini.
“Seperti harapan Bunda, kita sudah ada matannya, nanti generasi selanjutnya meneruskan syarahnya sesuai dengan keinginan Ibuk dan mewujudkan generasi milenial yang literat tinggi,” harap Masithoh.
Bagi Yulin, mahasantri baru, menyatakan bahwa acara yang diadakan ini dapat menambah pengetahuan tentang literasi. Di sisi lain, Siti Maulidiya, yang juga termasuk penghuni baru di Subulussalam dua menegaskan jika seminar ini memberikan suntikan semangat untuknya sekaligus teman-teman santri dalam mengasah dan mengembangkan kemampuan menulisnya.
“Senang bisa ikut acara, dalam acara tersebut bermanfaat sekali. Dari yang mungkin belum mau untuk menulis bisa mengasah, literasinya bisa berkembang,” tuturnya.
Penulis: Ummi Ulfatus Syahriyah
Editor: Munawir Muslih
Untuk mendapatkan berita dan tulisan ter-update dari kami bisa bergabung ke grup Telegram melalui link berikut (KLIK DISINI)






