Esai

Rendra dan Sajak Perlawanan

×

Rendra dan Sajak Perlawanan

Sebarkan artikel ini
urupedia media urup Rendra dan Sajak Perlawanan
Dok. Istimewa-

Judul : Orang-orang Rangkas Bitung
Penulis : Rendra
Penerbit :Diva Press dan Mata Angin
Cetakan : Pertama, April 2017
Tebal : 74 halaman
ISBN : 978-602-61160-7-9
Peresensi : Al Fatih Rijal Pratama

“Orang-orang Rangkas Bitung” merupakan karya sastra yang berisi kumpulan sajak-sajak sederhana yang enak dibaca sembari ngopi. Pemilihan desain sampul buku begitu menarik, seakan melihat sosok yang memakai jaket.

Buku dengan cover dua tokek di sisi kanan-kirinya itu tersebut ditulis oleh penyair kondang pada zamannya, bahkan hingga kini, Wilibrordus Surendra Bhawana atau yang kerap disapa W.S. Rendra.

Kali ini saya mencoba untuk meresensinya, kebetulan juga buku itu saya dapat dari rumah bahasa Avicenna. selama beberapa waktu dari peraduannya. Selain itu, kebetulan Bapak saya juga sering bercerita tentang Rendra, duduk berdua sembari menyeruput kopi panas di pagi hari, tak lupa kicauan merdu burung kenari menghiasi percakapan kami.

Rendra bagi saya adalah sosok sastrawan sekaligus penyair yang mampu menyihir pembaca atau pendengar dengan tulisan sajak-sajaknya dengan menggunakan gaya dan bahasa sehari-hari tentunya juga seringkali didengar oleh kita. Ketika membacakan puisinya, ia menghipnotis pikiran dengan nada dan ekspresi perlawanananya.

Tapi lebih menariknya adalah kata-kata dalam sajak “Orang-orang Rangkas Bitung” dengan
tulisan dan gaya bahasa yang khas, membuat imajinasi dan pikiran saya merasakan sensasi, seakan saya hadir di sisinya.

Rendra menyatakan perlawanan dengan menentang ketikdakadilan yang terjadi pada masa orde baru dan kondisi kehidupan sosial masyarakat pribumi dalam pembangunan orde baru yang mengorbankan rakyat kecil atas nama kemajuan.

Hal tersebut, telah terbukti dengan halaman pertama dengan sajak yang berjudul “Sajak tahun baru 1990”.

Sajak ini tak hanya sebuah kritikan terhadap pemerintahan sendiri melainkan mengkriktik negera-negara lain seperti Belanda, Amerika hingga Rusia. Dalam sajaknya pun dikemas dan dibalut dengan bahasa jujur apa adanya yang menceritakan suatu kondisi pembangunan masa Orde baru yang mengusir orang-orang miskin tanpa belas kasihan. Tulisan sajak itu;

Kami termenung terpesona.
Aku dan gandaria.
Dekat setelah aku pensiun,
Tanahku jadi korban pembangunan.
Tinggal dua puluh kali tiga puluh meter.
Akibat proyek jalan raya.

Hilang pohon-pohon nangka.
Bahkan rumah juga dibongkar.

Pada sajak puisinya lainnya juga menceritakan suatu kondisi yang mana suara rakyat tertindas sudah tak lagi didengar, justru malah dibungkam dan terbungkam membuat mereka sulit untuk bersuara, seperti pada sepenggal sajak berikut:

Meski tahu akan dihukum tanpa dosa,
meski merasa akan _dibunuh semena-mena,
sampai saat badan meregang melepas nyawa,
aku tak pernah mengangkat tangan
untuk menangkis atau melawan.

Satu hal paling saya sukai dalam buku puisi ini ialah menggambaran tokoh Adinda dalam sajak “ Nyanyian Adinda untuk Saijah” yang dibumbui dengan kata-kata sederhana yang enak dibaca. Kisah yang dibuat penuh pengorbanan dan perjuangan. Seakan imajinasi saya digodok hingga menguap.

Sebagai penutup, sepenggal kata-kata dari sastrawan dan budayawan Indonesia, Ahmad Tohari, berkata “Bagaimana bisa, manusia tetap eksis ketika kemanusiaan telah mati?”. Dan dengan rasa hati terdalam saya ucapkan, “ terimakasih, telah menjadikan imajinasiku berejakulasi bersama secangkir kopi susu kental dan suara jangkrik, kadang kala memang perlu meluapkan suatu perasaan terpendam telah lama.”

Penulis: Alfatih Rijal

Editor: Ummi Ulfa. S

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *