NasionalSastra

Menelursuri Hilangnya Aktivis Mahasiswa Melalui “Laut Bercerita” di Kakofoni

×

Menelursuri Hilangnya Aktivis Mahasiswa Melalui “Laut Bercerita” di Kakofoni

Sebarkan artikel ini

Tulungagung, Urupedia – Suatu pengalaman dan wawasan baru ketika mampir di sebuah café bernama Kakofoni yang bertempat di Desa Ketanon jalan Pahlawan nomer III pada hari Kamis (27/10/2022) pukul 19.30 WIB, yang sedang mengadakan sebuah acara Tualang Buku ke-12.

Dalam acara kali ini membahas tentang novel yang ramai dikalangan mahasiswa yaitu, Laut Bercerita karya Leila S. Chudori bersama petualang Aulia Renata seorang seniman.

Sedikit gambaran mengenai novel Laut Bercerita adalah novel yang menceritakan perjuangan mahasiswa dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran di tahun 1998, di mana rezim Orde Baru berkuasa dan melemahnya demokrasi pada waktu itu.

Novel tersebut juga telah berhasil membawa kembali narasi akan fakta-fakta dan prosesi penculikan serta hilangnya para aktivis di tahun 1998.

Pertama-tama acara dibuka oleh bang Iiw selaku pemilik café Kakofoni sekaligus yang membuat kegiatan Tualang Buku ke-12.

Ia menjelaskan bahwa buku Laut Bercerita ini adalah buku yang sudah ramai dibaca oleh para mahasiswa dan bahkan sempat di bedah dalam rangkian diskusi para mahasiswa.

“Kemarin di medan juga di bedah buku ini. Nah, jadi karena aku kemarin ikut-ikut diskusi di via zoom kemarin itu kan yang bedah beda orang itu berbeda. Dan di Medan itu beda lagi karena pergerakan mahasiswa di Medan itu sama jawa berbeda. Jadi kan beda lagi dalam menafsirkan. Ini kan mbak Renata, baru baca ini terus bukan background-nya aktivis tapi seorang seniman, apa ya kesan-kesannya yang ingin diceritakan yang paling menempel gitu,” jelasnya.

Kemudian di sambung oleh Aulia Renata petualang yang membedah isi dari buku novel Laut Bercerita. Pertama-tama Ia menjelaskan pengalamannya sebagai seorang pembaca yang bisa membaca sehari khatam.

“Kalau di tunda-tunda itu kesannya bagaimana gitu, nanggung,” terangnya.

Ia juga menjelaskan ada suatu hal menarik yang mana dalam buku tersebut ada salah satu seorang penghianat.

“Ketika ditulis ada satu temen yang ternyata menjadi pengkhianat. Karena pergerakan mereka sering kali berpindah tempat. Saya sampai kepikiran, emang segininya ya dulu? Emang dulu tuh perjuangannya ketika Indonesia sesudah merdeka kok begini ya? Yang dilawan adalah orang-orang sendiri. Seperti apa sih perjuangan mahasiswa dulu? Kalau temen di Jogja saya akui lebih peka terkait tanggapan-tanggapan seperti itu,” tuturnya.

“Bentuk pengkhianatannya seperti apa? Dan sampai tidak terbaca oleh teman-temannya sampai mereka salah tuduh ke si Tama dan lain-lainnya, bagian itu yang menurut aku sih bisa sampai klimaks. Tapi karena di bab selanjutnya itu menceritakan Asmara yang menarik karena membuat seorang karakter yang militan dan realitis sebagai seorang dokter. Justru ini yang menarik, yang mana si Asmara mengungkap di mana sih sebenarnya Laut di hilangkan,” imbuhnya.

Ia juga menjelaskan bahwa tokoh Asmara dalam novel Laut Cerita adalah tokoh yang menarik, karena ketika menghadapi suatu masalah itu bukan cuman pakai hati, tapi dalam perjuangannya itu harus secara real atau nyata.

“Terus apa yang dilakukan Asmaralah yang mendapatkan point, ketika Ia bisa mendatangkan Ibu-Ibu aktivis yang juga masalah yang anaknya diculik. Bagaimana cara orang sana mengguncang pemerintahan untuk memperjuangkan nasib anaknya yang hilang, gitu. Jadi Indonesia harus jadi seperti itu bagi Asmara. Kalau tidak digugat, kalau tidak ada aksi nyata yang dilakukan terus menerus, orang tidak akan sadar,” paparnya.

Dirinya juga mengemukakan bahwa ada salah satu tokoh yang mana bakal menjadi inspirasi dirinya dalam menulis.

“Di ceritakan Anjani gambar di kontrakannya, gambar tentang penculikannya Sinta. Cuman yang digambarkan yang di culik kok si Rama. Kok menarik, maksudnya punya perspektif yang dalam cerita pewayangan. Kenapa kok ceritanya yang Rama yang diculik? Sebenarnya, dalam buku itu yang diceritakan adalah seorang laki-lakilah yang perlu di selamatkan itu adalah kaum pria,” pungkasnya.

Kegiatan diakhiri dengan bincang-bincang persoalan penculikan mahasiswa pada waktu Orde Baru sesembari menikmati roti bakar dan gorengan. Dan diiringi dengan suara bunyi-bunyi jangkrik dan kodok yang bersahutan.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sandiwara_Canva_Al Fatih
Sastra

Urupedia-Aku tak ingin mencintaimu seperti cintanya Prabowo kepada…

Gambar Al Fatih-Canva-Berkelana
Sastra

Malam itu suasana terasa sangat dingin. Bunyi jangkrik,…