Sastra

Puisi; Nyamuk Beribadah dan Seorang Bersedekah Tanpa Pamrih

×

Puisi; Nyamuk Beribadah dan Seorang Bersedekah Tanpa Pamrih

Sebarkan artikel ini

UrupediaNging…nging…nging

Itulah syair-syair melodi nyamuk yang berkumandang saban malam hari. Mendatangkan para jemaahnya untuk beribadah kepada Sang Pencipta.

Hemm…

Paling kau tak pernahkah mendengar nyamuk beribadah?

Barangkali engkau lupa, bahwa menghisap darah adalah ibadahnya.

“Haha, haha… Ngawur!”

“Tidak, tidak, tidak!”

“Mana mungkin aku ngawur!”

“Paling kau sudah tak waras,” ucapnya.

“Tentu saja kau pasti lupa akan makhluk kecil yang taat akan perintah Sang Pencipta,” umpatnya.

Yang kadangkala pada tengah malam bikin kesal hati. Bahkan penganggu di kala lagi kusuk bercumbu bersama mimpi.

Padahal hidupnya cuman dua hari, tapi ibadahnya penuh pengorbanan.

Bahkan tak jarang suara; plak, plak, plak.

Menjelma dalam raungan setiap sudut ruangan.

Apalagi bunyi; kretek.. Kretek… Tak… Tak…

Berasal dari ayunan raket listrik tanpa belas kasihan itu.

“Siapa tahu itu namanya takdir, atau mungkin nasib?” ucapnya lagi.

Hemm….

“Bagaimana mungkin seseorang bisa sadar akan hak makhluk lain, kalau masih saja mengayunkan raket listrik dan menepuk tangan kepada nyamuk yang beribadah?” kata satunya lagi.

Cuman satu, seseorang dengan rela menyambut ibadah nyamuk.

Bahkan mata ini melihat dengan jelas orang bersedia dan rela bersedekah kepada nyamuk yang beribadah.

Tanpa pamrih!

Yang terkadang diriku dan dirimu menganggapnya tak waras.

“Lho, kok bisa. Tambah ngawur ini!” ucapnya.

“Mana mungkin ngawur, katanya di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin!” gugatnya.

Coba bukalah matamu, di kala sunyi melambai pada malam hari!

“Saat malam hari telentang di tepi jalan dengan bajunya compang-camping di kala sunyi membuatnya menggigil,” pungkasnya.

Editor: Munawir

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sandiwara_Canva_Al Fatih
Sastra

Urupedia-Aku tak ingin mencintaimu seperti cintanya Prabowo kepada…

Gambar Al Fatih-Canva-Berkelana
Sastra

Malam itu suasana terasa sangat dingin. Bunyi jangkrik,…

Sastra

Semilir angin menerjang rambutkuMengiringi langkah kakiku menuju taman…