EsaiMozaik

Serba-serbi Pelaksanaan ‘Maleman’ di Berbagai Daerah

×

Serba-serbi Pelaksanaan ‘Maleman’ di Berbagai Daerah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi lailatul qadar-surgull01-pixabay

UrupediaSepuluh hari terakhir Ramadan menjadi sangat istimewa karena salah satu malamnya merupakan malam Lailatul Qadar, tepatnya di antara malam ganjil. Selain itu, di sana terdapat janji Allah berupa pembebasan dari api neraka (Itqun Minan Nar). Sehingga semua umat Islam berlomba-lomba untuk meningkatkan amal ibadah pada malam-malam tersebut.

Salah satu tradisi yang sampai saat ini masih dilestarikan adalah maleman. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai acara selamatan atau kenduri pada malam ganjil bulan Puasa (Ramadan), yaitu malam ke-21 sampai tibanya lebaran. Biasanya dilakukan setelah salat tarawih.

Menurut Lukmanul Hakim, dilansir dari website resmi @pcnusumenep, maleman dilaksanakan dalam rangka mengingatkan umat Islam tentang lailatul qadar. Karena jika seseorang beribadah dengan baik di malam tersebut, nilainya di sisi Allah akan lebih baik dari seribu bulan. Sehingga pada zaman dahulu, Walisongo merintis budaya maleman ini dengan tujuan mengingatkan betapa pentingnya malam itu.

Tradisi maleman yang turun-temurun itu ternyata memiliki pengamalan yang berbeda-beda di berbagai daerah. Bahkan, di setiap desa.

Setiap Malam Ganjil Sepuluh Terakhir Ramadan

Di Desa Wonorejo, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung dapat ditemukan sebuah masjid yang melaksanakan maleman di seluruh malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadan. Jadi pada malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, dan ke-29 mereka menggelar tahlilan dan doa bersama di serambi masjid, kemudian memperoleh makanan yang disedekahkan oleh warga sekitar secara bergantian.

Malam Ke-27 Saja

Masih di desa Wonorejo, tersapat sebuah musala yang menggelar maleman hanya pada malam ke-27 saja. Warga di lingkungan musala diminta membawa makanan minimal tiga untuk kegiatan tersebut sekaligus mengumpulkan uang sedekah di dalam amplop untuk sedekah leluhur. Setelah acara tahlil dan doa bersama, makanan tersebut dibagikan ke masing-masing warga desa.

Malam Ke-23 dan Ke-25
Hanifah, seorang warga Desa Kelutan, Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek, menyampaikan bahwa di musala dekat rumahnya, maleman digelar selama dua kali, yakni di malam ke-23 dan ke-25.

“Acara maleman selalu diadakan di musala bersama. Pelaksanaan tahun ini juga sama seperti tahun-tahun biasanya,” tuturnya.

Hanifah menyampaikan bahwa maleman merupakan bentuk rasa syukur, yang kegiatannya meliputi bersedekah melalui berkat/takir yang dikumpulkan, doa bersama baik untuk diri sendiri maupun leluhur, zikir, membaca salawat, dsb.

“Yang membawa berkat di musala secara bergantian, pembagiannya malam ke-23 itu dari rumah yang berada di utara jalan. Sedangkan malam ke-25 itu dari rumah yang berada di selatan jalan. Setiap rumah biasanya membawa 5 berkat/takir baik diwadahi kardus maupun ceting,” tambah Hanifah.

Malam Ke-21 Saja

Ris, salah satu warga Desa Genangan, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan menuturkan bahwa di musala dekat rumahnya, maleman dilaksanakan hanya pada malam ke-21, setelah tarawih. Kegiatannya berupa tahlilan, doa bersama, makan bersama, kemudian tadarus bersama.

Adapun makanan tersebut dimasak oleh keluarga pengurus musala. Selain itu,
biasanya pengurus karang taruna membuka iuran bagi warga yang ingin bersedekah. Hasil iuran dibuat nasi kotak oleh ibu-ibu arisan untuk orang-orang yang mengikuti maleman di musala tersebut.

“Ini kadang ada yang nyumbang sih. Terus nanti dikumpulin jadi satu pas mau tahlilan,” pungkasnya.

Jadi, berbagai macam bentuk pelaksanaan tradisi maleman tidak akan menjadi permasalahan, bukan? Selama diisi dengan kegiatan-kegiatan positif dalam rangka meningkatkan keimanan kepada Allah.

Index