
Urupedia.id- Di dalam setiap diri manusia, selalu bersemayam sebuah api kecil yang kita sebut sebagai keinginan. Api itu adalah energi yang membuat manusia tidak berhenti berjalan, terus mencari, dan berusaha membentuk dunia sesuai dengan imajinasinya. Seorang pemimpin pun bukan pengecualian: ia dipilih, atau memilih dirinya sendiri, karena didorong oleh suatu hasrat untuk mengubah keadaan. Namun, api yang sama yang memberi terang juga bisa membakar habis jika tak diatur dengan bijaksana.
Sejak muda kita diajari bahwa memiliki cita-cita besar adalah kebaikan. Tetapi pengalaman sejarah juga mengajarkan kita bahwa keinginan yang tak terarah bisa melahirkan tirani dan penderitaan. Pemimpin besar dunia seringkali jatuh pada jurang yang sama: keinginan yang meluap tanpa kesadaran diri. Sebab itulah, dalam perjalanan seorang pemimpin, keinginan itu sendiri baru benar-benar bermakna jika ia mampu dikelola — jika seorang pemimpin mampu mengawinkan hasratnya dengan intelektualitas dan kesadaran fenomenologis.
Pada titik inilah seorang pemimpin yang matang akan menyadari bahwa ia bukan sekadar perpanjangan dari keinginannya sendiri. Ia juga adalah penafsir dari realitas yang kompleks. Keinginannya harus ditempa melalui intelektualitas — pengetahuan yang luas, refleksi yang mendalam, serta keterampilan strategis. Dengan intelektualitas, keinginannya menjadi lebih dari sekadar dorongan hewani untuk “mendapatkan” sesuatu. Keinginan yang disalurkan lewat intelektualitas menjadi visi, bukan sekadar ambisi.
Lebih dari itu, pemimpin juga harus memiliki kesadaran fenomenologis: kemampuan untuk menyadari bahwa dirinya berada di tengah dunia yang penuh makna, tempat orang-orang lain juga memiliki hasrat dan penderitaan. Dengan kesadaran semacam ini, ia melihat orang-orang bukan sekadar sebagai objek yang harus diarahkan, tetapi sebagai subjek yang mengalami dunia bersama dirinya. Ia menjadi ada-bersama mereka, bukan berdiri di menara gading keinginannya sendiri. Dengan demikian, ia tidak hanya bertanya: apa yang aku inginkan?, tetapi juga: bagaimana keinginanku hadir dalam pengalaman orang lain? Apakah dunia menjadi lebih utuh, atau justru lebih terpecah?
Namun perjalanan kepemimpinan jarang mulus. Banyak yang tidak pernah mencapai tahap itu. Banyak pemimpin berhenti pada titik di mana keinginan menjadi satu-satunya penggerak. Dalam keadaan seperti ini, mereka tak lagi peduli pada keseimbangan dengan intelektualitas atau kesadaran fenomenologis. Apa yang mereka inginkan harus tercapai, apa pun caranya. Dan ketika itu terjadi, keterampilan yang paling berguna bukan lagi kebijaksanaan atau substansi gagasan — tetapi retorika.
Retorika, dalam sejarah panjangnya, adalah seni berbicara untuk mempengaruhi orang. Di tangan seorang pemimpin yang hanya digerakkan oleh keinginan, retorika sering kali menjadi senjata utama. Kata-kata menjadi alat untuk menyulut massa, membungkus ambisi dengan ilusi kebaikan, dan menutupi ketiadaan substansi dengan daya pesona ucapan. Di sini kita melihat bahwa semakin dominan keinginan, semakin besar godaan untuk menggantikan isi dengan bunyi, menggantikan makna dengan pertunjukan. Retorika berubah dari seni komunikasi menjadi seni manipulasi.
Tak sulit menemukan contoh nyata. Dalam sejarah modern, banyak sekali tokoh yang memanjat tangga kekuasaan bukan karena kedalaman intelektualitas atau keluhuran moral, tetapi karena kemampuannya membujuk, meyakinkan, memanipulasi perasaan orang lain melalui retorika. Mereka memahami bahwa manusia lebih sering digerakkan oleh emosi daripada nalar. Dan ketika tujuan hanya didikte oleh keinginan, tidak ada lagi urgensi untuk mempertanggungjawabkan isinya.
Dari sini kita belajar dua pelajaran penting. Pertama, bahwa keinginan adalah titik awal, tetapi tidak cukup. Ia perlu ditemani oleh intelektualitas yang mengarahkan, serta kesadaran fenomenologis yang membatasi dan menyejukkan. Kedua, bahwa ketika keinginan berkuasa sendirian, dunia menjadi sebuah panggung retorika belaka. Kata-kata menjadi asap untuk menutupi kenyataan. Retorika yang seharusnya menjadi jembatan antara pemimpin dan rakyat, berubah menjadi kabut yang memisahkan mereka dari kebenaran.
Kepemimpinan yang sehat bukanlah sebuah pertunjukan, melainkan sebuah perjalanan. Perjalanan yang mengandaikan keberanian untuk melihat diri sendiri: apakah keinginanku masih sejalan dengan akal sehat? Apakah ia masih berakar dalam pengalaman bersama orang lain? Atau sudah menjadi bara yang membakar siapa pun yang mendekat? Pemimpin sejati tidak takut untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Sebaliknya, pemimpin yang hanya mengandalkan keinginan dan retorika akan selalu takut pada pertanyaan, sebab jawaban-jawaban itu mungkin tak lagi berpihak padanya.
Di dunia yang semakin riuh ini, kita barangkali terlalu mudah terpesona oleh retorika. Kita lupa bahwa api keinginan, jika tak disalurkan dengan intelektualitas dan kesadaran, hanya akan menghanguskan. Tetapi jika dikelola dengan baik, ia akan menjadi cahaya yang menuntun jalan, bukan hanya bagi pemimpin itu sendiri, tetapi juga bagi mereka yang ikut berjalan bersamanya.
Maka pada akhirnya, tugas seorang pemimpin adalah menjaga api itu tetap menyala, tetapi tak pernah membiarkannya menjadi liar. Menjadi pemimpin bukan hanya soal memiliki keinginan besar, tetapi juga kemampuan untuk menjadikannya berarti, bernas, dan membumi. Di situlah, di tengah perjumpaan antara keinginan, intelektualitas, dan kesadaran, seorang pemimpin menemukan wujud dirinya yang paling utuh.






