
Akhir-akhir ini cukup viral di beranda TikTok sosok yang digaungan sebagai “Lord Suroso”, sebuah alegori penokohan dalam salah satu sinema elektronik yang tampil di televisi nasional.
Ramainya sosok itu beredar karena rumah produksinya melawat hasil karyanya di YouTube, dan akhirnya banyak dicutting, diupload ulang dan seketika famous di mata para pecandu sosial media.
Lord Suroso, yang acap kali berbeda nama, biasa Bolon, atau nama lainnya, namun yang jelas ia diperankan oleh artis yang bernama Henri Hendarto.
Sosok ini bukan nama baru, ia sering membintangi film atau drama-drama elektronik dengan nuansa religius, tema amoralitas spiritual dan azab-azab yang disusun sedemikian rapi guna menarik animo masyarakat.
Dalam satu frasa, Lord Suroso pernah mengatakan “Halal-Haram bakal gua hantam buat menang”, gambaran destruksi moral ala Ubermensch yang diwacanakan oleh Nietzsche ratusan tahun yang lalu dalam bukunya Thus Spoke Zarathustra (1883).
Tak hanya dari kalimat itu, banyak sekali adegan dalam laga yang diaktorinya mengemukakan figur-figur devil-style yang cenderung merobohkan kemapanan atas status quo rezim kebenaran tertentu, bisa agama atau moralitas.
Ambilah misal, dalam suatu adegan, ia memerankan sosok penagih hutang, dengan berbagai kebengisan, Lord Suroso memeras, menangih dan menyiksa nasabahnya.
Selain itu, ada adegan ketika ia mabuk di sebuah masjid, memberi makanan hasil olahan kotoran hewan kepada anak-anak tetangganya, dan ragam adegan lain yang menggelitik, sekaligus membuat kita bertanya-tanya.
Memang citraan ganjil semacam ini punya daya bius sendiri dalam skema ideologi media masa, dalam beberapa catatan, model sinema berbau kritik agama, azab, kejahatan, atau drama religius punya daya pikatnya sendiri.
Kembali ke Nietzsche, sosok Lord Suroso ini tampil sebagai akronim dari diri yang telah melampaui kondisi benar-salah, kuat-lemah, baik-buruk atau bahkan timpang-sejahtera.
Semacam alegori, ia memperlihatkan watak personal asali manusia yang seringkali tak tampil atau dibiaskan dalam media massa.
Ia ditampilkan apa adanya namun sungguh tangguh, begitu murni, villain sekaligus heroik dan jika meminjam istilah Nietzsche, mengedepankan “will to power” dan menolak mental “budak” dalam dirinya sendiri.
Tak hanya sebagai ubermensch semata, Lord Suroso dalam helatan Nietzsche juga tampil sebagai patron figur dyonisian, dalam bukunya The Birth of Tragedy (1872), Nietzche membandingkan dua subjek dalam upaya mencari identitas personal, ada model appolonian dan dyonisian.
Appolonian menunjukkan watak tertatur, rasional, khusyuk dan simetris. Sedang, dyonisian sebaliknya, ia kacau, acak-acakan, penuh kesenangan, dan berupaya penuh pada pemenuhan hasrat atas pesta miras atau kemabukan. Sama persis dengan figur dewa yang dipinjam untuk mengistilahkannya, yakni dyonisius.
Lord Suroso hampir dalam seluruh scene di mana ia tampil menghayatkan dirinya pada mental dyonisian, mendobrak sisi statis dari manusia, dan menerobos kegamangan memaknai spiritualitas di simpang jalan perubahan.
Di era yang kian aneh dan banal saat ini, Lord Suroso tampil sebagai neraca moralitas baru yang menjuastifikasi tatanan multi-frasa keunikan manusia.
Walau ia hanya fiksi yang dikarang sutradara dan pembuat cerita, namun kehadirannya yang ramai dan viral ditonton menambah kencenderungan baru yang perlu diamati.
Sejauh mana agama mampu menjawab keputusan-keputusan ganjil di tengah masyarakat, atau bergesernya rasionalitas konvensional yang kini terjatuh pada pemaknaan buta atas apa yang tampak di sosial media. Bahkan, nyatanya apa kita menanti-nanti sebuah era di mana rezim semacam dyonisian menyebar merata?. []






