Berita

Amerika dalam Tekanan Ganda, Dari Jalanan “No Kings” hingga Tantangan Global Dedolarisasi

×

Amerika dalam Tekanan Ganda, Dari Jalanan “No Kings” hingga Tantangan Global Dedolarisasi

Sebarkan artikel ini
Sumber: https://www.post-gazette.com/news/politics-local/2026/03/28/no-kings-protest-pittsburgh-dhs-iran/stories/202603280054

Urupedia.id- Amerika Serikat hari ini menghadapi tekanan ganda yang tidak bisa lagi dipisahkan antara dinamika global dan gejolak domestik.

Gelombang demonstrasi besar bertajuk “No Kings” yang melibatkan jutaan orang di ribuan titik aksi menunjukkan bahwa ketidakpuasan publik telah mencapai level yang serius.

Ini bukan sekadar protes biasa, melainkan cerminan retaknya kepercayaan terhadap arah kepemimpinan dan kebijakan negara.

Di saat yang sama, Amerika masih berupaya mempertahankan dominasinya di panggung global melalui keterlibatan dalam berbagai konflik, termasuk eskalasi di Timur Tengah.

Namun harga dari peran tersebut semakin mahal.

Utang publik yang telah melampaui puluhan triliun dolar dan biaya perang yang mencapai angka fantastis memperlihatkan bahwa hegemoni tidak lagi murah.

Kenaikan suku bunga semakin memperparah situasi karena pembayaran bunga utang kini menjadi beban besar dalam anggaran negara.

Tekanan eksternal ini kini berbalik ke dalam negeri.

Demonstrasi “No Kings” memperlihatkan bagaimana isu global seperti perang dan kebijakan luar negeri berkelindan dengan persoalan domestik seperti ekonomi, imigrasi, dan ketakutan terhadap kecenderungan otoritarian.

Ketika jutaan warga turun ke jalan di berbagai kota besar, itu menandakan bahwa beban geopolitik telah berubah menjadi krisis legitimasi di dalam negeri.

Dalam situasi seperti ini, Amerika menghadapi dilema yang sulit dihindari.

Terlibat lebih jauh dalam konflik global berarti menambah beban ekonomi dan memperdalam ketegangan sosial.

Namun jika menarik diri, risiko kehilangan pengaruh global menjadi konsekuensi yang tidak kalah besar.

Ini adalah jebakan klasik dari sebuah kekuatan besar yang mulai mengalami kelelahan struktural.

Sementara itu, China bergerak dengan pendekatan yang berbeda.

Tanpa banyak konfrontasi terbuka, China memperkuat posisinya melalui jalur ekonomi dan sistem pembayaran global.

Penggunaan yuan dalam perdagangan internasional, termasuk dalam sektor energi, perlahan meningkat dan membuka jalan bagi strategi dedolarisasi.

Dalam kondisi geopolitik yang rawan, terutama jika jalur penting seperti Selat Hormuz terganggu, kemampuan melakukan transaksi di luar sistem dolar menjadi keunggulan strategis yang sangat penting.

Apa yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa persaingan global tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kendali atas sistem ekonomi dan mata uang.

Amerika masih menjadi kekuatan besar, tetapi kini dibayangi oleh tekanan internal yang semakin nyata.

Di sisi lain, China belum sepenuhnya mengambil alih posisi tersebut, namun sedang membangun fondasi alternatif yang berpotensi mengubah keseimbangan dunia.

Dunia sedang memasuki fase baru di mana konflik tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di dalam negeri masing-masing negara dan dalam sistem ekonomi global.

Amerika tidak runtuh, tetapi sedang menghadapi ujian berat sebagai kekuatan global, sementara kekuatan baru mulai muncul dengan strategi yang lebih senyap namun efektif.

Oleh: Krisna Wahyu Yanuar

Editor: Krisna Wahyu Yanuar

Advertisements