
Urupedia.id- Kegiatan Safari Idul fitri yang diinisiasi oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung merupakan manifestasi strategis dalam memperkuat tali silaturahmi pasca-Ramadan.
Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan dan budaya, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam mempererat solidaritas jejaring akademisi.
Di Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah terdapat dua struktur kepengurusan rayon, yaitu Rayon “Sufi” Jalaluddin Rumi yang terdiri atas mahasiswa jurusan Ushuluddin, serta Rayon “Peradaban” Ibnu Khaldun yang terdiri atas mahasiswa Adab dan Dakwah.
Melalui kunjungan kepada para tokoh pendidik, alumni, dan jajaran dekanat, PMII FUAD berupaya menyelaraskan nilai-nilai pergerakan dengan tradisi intelektual kampus.
Fokus utama kegiatan ini adalah menciptakan ruang dialog informal guna membangun sinergi antara mahasiswa dan akademisi, yang diharapkan dapat menunjang iklim akademik yang lebih harmonis dan kolaboratif di lingkungan UIN SATU Tulungagung.
Hasil dari safari ini menunjukkan bahwa penguatan jejaring sosial berbasis nilai keislaman dan kekeluargaan efektif dalam menjaga stabilitas serta semangat kolektif organisasi di ranah perguruan tinggi.
Petuah dari Dosen dan Akademisi untuk PMII FUAD
Salah satu agenda silaturahmi adalah berkunjung ke kediaman Prof. Dr. Ngainun Naim, M.Ag. di Tulungagung.
Momen Safari Idulfitri ini membawa kesan yang khas, yakni perpaduan antara kehangatan kekeluargaan dan kedalaman intelektual.
Sebagai akademisi yang produktif, setiap kunjungan kepada beliau bukan sekadar ritual berjabat tangan, melainkan menjadi “oase” bagi para pencari ilmu.
Selain itu, rombongan juga bersilaturahmi ke kediaman Ketua Majelis Pembina Rayon PMII Jalaluddin Rumi, Dr. Budi Harianto, S.Hum., M.Fil.I. Kunjungan ini menghadirkan nuansa yang berbeda, namun tetap saling melengkapi dalam rangkaian Safari Idulfitri.
Jika kunjungan sebelumnya kental dengan kematangan spiritual, maka pertemuan dengan Dr. Budi Harianto menghadirkan dialektika filosofis yang lebih cair, tetapi tetap tajam.
Di tengah suasana hangat Lebaran di Tulungagung, Dr. Budi Harianto mengajak kader PMII FUAD untuk merefleksikan kembali peran mereka.
Ia menekankan bahwa Idulfitri merupakan momentum “kembali ke fitrah” yang secara intelektual berarti kembali pada kejernihan berpikir.
Kader didorong untuk tidak terjebak dalam pragmatisme yang hanya mengejar formalitas, melainkan berani menyentuh substansi keilmuan.
Ketua PMII Rayon Jalaluddin Rumi, Sahabat Gading Haryo Bismoko, menegaskan bahwa kolaborasi lintas rayon bertujuan untuk menghidupkan kembali diskursus intelektual yang mulai tergerus zaman.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukanlah jarak fisik, melainkan maraknya pragmatisme di kalangan mahasiswa.
Banyak mahasiswa lebih berorientasi pada capaian akademik jangka pendek dan administratif, sehingga mengabaikan nalar kritis serta kepedulian sosial yang menjadi ciri khas aktivis pergerakan.
Sementara itu, Ketua PMII Rayon “Peradaban” Ibnu Khaldun, Sahabat Khoiriatus Sholikha, turut memantik diskursus intelektual dengan menyoroti stagnasi kaderisasi di FUAD.
Sebagai fakultas berbasis keilmuan agama dan humaniora, FUAD seharusnya menjadi lumbung kader pemikir. Namun, realitas menunjukkan kondisi yang berbeda.
“Ya, saya rasa kaderisasi di FUAD saat ini menghadapi tantangan besar. Minat mahasiswa untuk berproses di organisasi menurun drastis karena mereka lebih memilih zona nyaman atau kegiatan yang bersifat seremonial dan teknis daripada terlibat dalam diskusi-diskusi substantif,” ujar Gading Haryo Bismoko.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bagi PMII FUAD untuk merekonstruksi pola gerakan organisasi.
Dengan dukungan para akademisi, PMII bertekad mengubah stigma bahwa berorganisasi menghambat kelulusan.
Sebaliknya, melalui penguatan wacana intelektual, kader diharapkan mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks dengan daya kritis yang tajam.
Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama untuk merumuskan formula kaderisasi yang lebih adaptif dan kreatif guna menarik kembali minat mahasiswa FUAD agar kembali aktif dalam dunia pergerakan.
Oleh: Devis Kunaifi






