
Ada yang menarik sekaligus memicu perdebatan di balik perbincangan kader hari ini. Dalam rumusan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII terbaru, poin Budaya dan Tradisi serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) tak lagi menempati kolom tersendiri. Bagi sebagian orang, ini mungkin dianggap cuma urusan administrasi atau merapikan tata letak Teks. Namun di dalam organisasi mahasiswa berbasis massa, perubahan pada naskah ideologis ibarat memindahkan fondasi bangunan: ia berpotensi menggeser cara pandang ribuan kader dalam membaca realitas.
Padahal, jika kita menengok sejarah, NDP tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia merupakan buah dari pergulatan intelektual yang sangat panjang. Gagasan ini mulai berkecambah pada Kongres V di Ciloto tahun 1973, lalu terus digodok dalam berbagai forum, hingga akhirnya diketuk secara resmi pada Kongres IX di Surabaya, September 1988.
Proses panjang tersebut menegaskan bahwa NDP bukanlah sekadar dokumen pelengkap yang dibagikan saat pelatihan kader. NDP adalah peta jalan filosofis—sebuah pegangan bagi kader untuk memposisikan dirinya di hadapan Tuhan, sesama manusia, alam lingkungan, hingga perubahan zaman. Maka, membaca NDP hari ini semestinya selalu dihubungkan dengan denyut sosial dan intelektual yang melingkupinya.
Jejak Sejarah dan Peta Ideal NDP
Dalam rumusan klasik yang lama kita kenal, ada enam pilar utama yang berdiri sejajar: Tauhid, Hablun min Allah, Hablun min an-Nas, Hablun min al-‘Alam, Budaya dan Tradisi, serta IPTEK. Struktur ini sejatinya sangat visioner. Para perumus NDP di masa lalu menyadari betul bahwa PMII tidak boleh hanya berkutat pada relasi spiritual dan sosial-politik, tetapi juga harus berpijak pada akar kebudayaan serta menguasai bentang pengetahuan modern.
Lantas, bagaimana kita membaca kondisi hari ini ketika pilar Budaya, Tradisi, dan IPTEK tak lagi dieksplisitkan dalam susunan teks?
Menimbang Penyederhanaan Teks Ideologis
Tentu, perubahan ini tidak perlu terburu-buru dihakimi sebagai langkah yang keliru. Dinamika sebuah organisasi memungkinan adanya revisi dan penyesuaian nilai seiring berjalannya waktu. Hanya saja, setiap perubahan ideologis membutuhkan penjelasan akademis yang jernih. Mengapa? Karena yang berubah bukan sekadar susunan huruf, melainkan prioritas gerakan yang akan dihidupi oleh kader di akar rumput.
Jika ditelisik secara konseptual, ada kemungkinan para perumus saat ini memandang Budaya, Tradisi, dan IPTEK sebenarnya sudah melebur (terintegrasi) ke dalam pilar-pilar utama NDP. Lewat kacamata ini, ketiadaan dua poin tersebut bukanlah bentuk penghapusan substansi, melainkan penyederhanaan struktur. Budaya dan teknologi tidak lagi diposisikan sebagai tujuan nilai yang berdiri sendiri, melainkan menjadi wadah nyata untuk mengaktualisasikan Tauhid, kemanusiaan, dan kelestarian alam.
Akan tetapi, ada satu sisi pisau lain yang patut kita renungkan: fungsi edukatif dari sebuah teks organisasi.
Dalam sistem pendidikan kader, apa yang tertulis secara tegas di dalam dokumen resmi memiliki daya panggil tersendiri. Ia menentukan apa yang akan dibaca, didiskusikan di warung-warung kopi, hingga diuji dalam silabus kaderisasi. Ketika sebuah tema menghilang dari struktur formal, ada risiko nyata bahwa tema tersebut perlahan melayang, diabaikan, dan akhirnya luput dari perhatian kader.
Tantangan Kaderisasi di Era AI dan Tradisi
Kekhawatiran ini terasa sangat beralasan bila kita menghadapkannya pada realitas hari ini. PMII memiliki akar historis yang sangat kuat dengan tradisi keislaman Nusantara. Tradisi adalah identitas dan denyut nadi intelektual kita. Meski demikian, tradisi tentu tidak boleh dirayakan secara romantis tanpa daya kritis. Ia harus terus diuji: mana yang perlu dipertahankan, mana yang perlu dikembangkan, dan mana yang justru harus dikoreksi.
Hal yang sama terjadi pada ranah IPTEK. Dunia yang dihadapi kader saat ini sudah jauh melompat dibanding era 1988 ketika NDP pertama kali disahkan. Kita hari ini hidup di tengah kepungan kecerdasan buatan (AI), algoritma media sosial, ekonomi platform, hingga perubahan radikal dalam produksi pengetahuan. Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu rapat atau bikin poster, melainkan sudah menjadi struktur sosial itu sendiri.
Setiap perubahan pada teks idealnya bukan hanya menjawab kebutuhan internal organisasi hari ini, tetapi juga mampu memancarkan arah ke mana pergerakan akan melangkah di masa depan. Di sinilah NDP perlu didudukkan secara dinamis. Ia tidak boleh bernasib sebagai mantra kaku yang cuma dihafalkan kader saat pelatihan formal, tetapi juga tidak boleh diubah tanpa argumentasi filosofis yang dapat dipertanggungjawabkan. NDP harus berdiri kokoh di tengah: merawat kontinuitas nilai, sekaligus lincah merespons tantangan zaman.
Oleh karena itu, hilangnya pilar Budaya, Tradisi, dan IPTEK dari struktur NDP tak sepatutnya direspon dengan sikap dangkal: sekadar setuju atau tidak setuju. Hal yang jauh lebih penting adalah membuka panggung diskusi untuk membedah dasar filosofis, pertimbangan organisasi, serta dampak panjangnya terhadap proses kaderisasi. Sebab, cara kita merumuskan ideologi hari ini akan menentukan bagaimana kader memahami dirinya dan merumuskan jawaban atas kegelisahan masyarakat esok hari.
Mempertanyakan Sebagai Bentuk Merawat Nilai
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah nilai dasar tidak diukur dari seberapa banyak atau sedikit poin yang tertulis di dalam buku pedoman. Ukuran utamanya adalah apakah nilai tersebut mampu menjadi kerangka berpikir yang utuh, relevan, dan hidup saat dijalankan oleh kader di tengah masyarakat.
Jika penyederhanaan ini membuat NDP semakin ringkas tanpa mengikis kedalaman maknanya, maka perubahan ini adalah sebuah penyempurnaan. Namun, jika penyederhanaan tersebut justru membuat dimensi penting seperti budaya dan teknologi kehilangan tempat dalam pemikiran kader, maka sikap kritis menjadi panggilan yang tak bisa ditawar.
Sebab dalam tradisi intelektual yang kita rawat bersama, mempertanyakan bukanlah bentuk pembangkangan. Mempertanyakan adalah cara kita memastikan bahwa nilai yang kita warisi benar-benar kita pahami secara utuh, sebelum kelak kita serahkan kepada generasi berikutnya.








