
Urupedia.id- Sungai Mahakam, urat nadi kehidupan di jantung Pulau Kalimantan, terbentang anggun laksana pita perak bercahaya.
Airnya yang dingin dan jernih memantulkan kesempurnaan biru langit, dihiasi rimbunnya hutan tropis yang lebat di tepian.
Di kedalaman yang damai itu, hidup sebuah komunitas yang langka dan berharga, Pesut Putih Mahakam. Mereka adalah penjaga sejati sungai, bernapas dalam harmoni alam yang murni.
Pagi itu, mentari baru saja menyapa pepohonan ramin yang menjulang. Di sebuah lekukan sungai yang terlindungi oleh akar-akar pohon besar, suasana dipenuhi keceriaan.
Dolphi, pesut kecil perempuan, meliuk-liuk dengan anggun. Tubuhnya yang putih bersih tampak berkilauan di bawah cahaya yang menembus permukaan air.
Dia sedang bermain kejar-kejaran dengan Juno, sahabatnya yang lincah dan sedikit lebih besar, yang selalu bersemangat.
“Ayo, Juno! Kau lambat sekali hari ini!” seru Dolphi, mengeluarkan semburan air kecil sambil melesat cepat ke depan. Ia melompat sejenak, memamerkan punggungnya, lalu kembali menyelam.
“Tunggu aku, Dolphi! Aku sedang menikmati aroma lumut yang wangi ini!” sahut Juno, meskipun ia berusaha keras mengejar.
Mereka berdua terhanyut dalam sukacita. Suara gemericik air yang mereka ciptakan seolah menjadi melodi pelengkap bagi bisikan daun-daun di hutan.
Mereka menjelajahi setiap ceruk, merasakan setiap gerakan arus sungai yang mereka anggap sebagai taman bermain.
Namun, ketenangan itu tiba-tiba terkoyak.
Dari kejauhan, datanglah suara asing yang dalam, sebuah gemuruh yang menggetarkan dasar sungai. Getaran itu bukan getaran alam, melainkan getaran mesin yang masif dan buatan.
Air di sekitar mereka mulai bergolak, dan yang lebih mengkhawatirkan, warnanya berubah cepat dari jernih menjadi keruh kecokelatan.
“Suara apa itu, Dolphi? Tubuhku ikut bergetar!” bisik Juno, bersembunyi di balik tubuh Dolphi, matanya membesar karena takut.
Gemuruh itu semakin mendekat, berubah menjadi deru yang memekakkan telinga. Air sungai di depan mereka terbelah, dan tampaklah wujud raksasa yang menakutkan: sebuah Tongkang baja besar, didorong oleh kapal penarik yang gagah, membawa tumpukan batu bara setinggi bukit.
Raksasa itu bergerak lambat namun pasti, meninggalkan gelombang besar yang mengombang-ambingkan Dolphi dan Juno. Jejak yang ditinggalkan adalah air cokelat pekat bercampur lumpur.
Dolphi dan Juno diliputi ketakutan yang mencekik. Mereka belum pernah menghadapi kekuatan sekasar dan sebising ini, mereka menjauh perlahan.
“Ini bukan tempat kita, Juno. Ini berbahaya. Kita harus pulang sekarang!” ajak Dolphi, berenang secepat yang ia bisa, meluncur menjauhi gelombang berlumpur yang terasa menjijikkan.
Mereka berdua berenang tanpa henti menuju rumah mereka yang lebih terlindungi. Air yang mereka lalui terasa berat dan berbau aneh, namun mereka memaksakan diri.
Sesampainya di tempat persembunyian, Dolphi segera bersembunyi di dekat Kakek Dori, pesut tertua dan terkenal bijaksana. Namun, alih-alih merasa aman, tubuhnya terasa sangat lemas.
Ia mulai batuk-batuk tak terkontrol, mengeluarkan udara kotor dari lubang napasnya.
“Uhuk… Uhuk… Kakek… airnya terasa pahit dan membuat kepalaku pusing,” keluh Dolphi, suaranya sangat lemah.
Kakek Dori segera mendekat. Ia panik melihat kondisi cucunya yang biasanya seaktif ikan lumba-lumba muda itu kini terbaring lesu. “Ya ampun, Dolphi! Apa yang terjadi padamu?”
Kakek Dori segera mencari tanaman sungai tertentu yang biasa digunakan sebagai obat. Namun, air di sekitar mereka pun kini mulai terasa lebih pekat dari biasanya, mempersulit pencariannya.
Meskipun Kakek Dori berusaha keras merawatnya, keadaan Dolphi tidak menunjukkan perbaikan. Batuknya semakin parah, napasnya tersengal, dan tubuhnya terlihat semakin pucat dan kuyu.
“Kakek… aku tidak kuat bernapas lagi…” bisik Dolphi nyaris tak terdengar.
Kakek Dori dilanda kepanikan hebat. Ia memanggil pesut dewasa lain untuk meminta bantuan dan saran. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran. “Apa yang terjadi di sungai? Mengapa airnya bisa seburuk ini dalam semalam?” gumamnya cemas.
Keesokan paginya, Juno datang menjenguk sahabatnya. Ia melihat Dolphi yang terbaring tak berdaya dan air matanya menetes.
“Kakek Dori,” Juno kemudian menghadap Kakek Dori dengan suara bergetar. “Aku tahu apa yang membuat Dolphi sakit. Itu karena Si Tongkang!”
Juno menceritakan semua yang mereka alami, mendeskripsikan suara gemuruh yang memecahkan gendang telinga, gelombang besar, dan perubahan warna air yang cepat.
“Setelah dia lewat, airnya bau sekali Kek, seperti bau busuk dan logam. Dolphi langsung batuk.”
Mendengar cerita pilu Juno, Kakek Dori akhirnya memutuskan untuk menyelidiki secara langsung. Ia tidak bisa hanya menduga-duga.
“Juno, jaga Dolphi bersama Oma. Aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang telah menyerang sungai kita,” ujar Kakek Dori penuh tekad.
Menjelang sore, Kakek Dori berenang menuju lokasi yang ditunjukkan Juno. Ia menunggu dalam ketegangan.
Tidak lama, suara gemuruh yang dalam itu kembali terdengar dari kejauhan. Kali ini, gemuruh itu datang bersamaan dengan bau yang sangat asing, seperti bau logam bercampur minyak mentah yang menyengat.
Saat Tongkang besar itu melintas, Kakek Dori merasakan sakit yang nyata. Ia menghirup udara yang penuh partikel asing dan kotoran.
Seketika, ia merasa sesak di lubang napasnya, seperti ada lapisan tebal yang menghalangi. Parahnya, air di sekitarnya yang sempat mereda, kini langsung berubah menjadi keruh kecokelatan yang pekat, bahkan meninggalkan lapisan tipis berminyak di permukaan.
Kakek Dori terbatuk-batuk hebat. Ia menyadari, ini bukan hanya polusi suara dan lumpur, ini adalah racun yang mematikan.
Kakek Dori bergegas pulang, tubuhnya terasa lemas dan sakit. Sesampainya di tempat tinggal mereka, ia disambut oleh Oma, nenek Juno, yang tampak khawatir.
“Dori, aku cemas. Aku mencium bau yang tidak pernah kita hirup sebelumnya,” kata Oma.
Kakek Dori menceritakan pengalamannya, napasnya masih terengah. “Oma, ini jauh lebih buruk dari yang kita kira.
Udara dan airnya beracun! Aku yakin ini adalah alasan mengapa Dolphi…” ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Oma mengangguk. “Kita harus tahu asal dari semua ini, Dori.”
Melihat penderitaan Dolphi, Kakek Dori bertekad. “Esok pagi, aku akan menyusuri sungai lebih jauh ke hulu. Aku harus menemukan dari mana Tongkang itu berasal. Kita harus hentikan ini.”
Pagi hari yang seharusnya cerah, justru menyambut mereka dengan suasana yang mengerikan. Seluruh langit di atas sungai terasa gelap karena kabut asap tebal, dan airnya kini menjadi sangat keruh.
Bau aneh yang menyengat membuat Kakek Dori dan pesut lainnya merasakan sakit kepala yang menusuk.
Kakek Dori tak membuang waktu. Ia bergegas berenang menuju hulu, melawan arus. Di sepanjang perjalanannya, pemandangan itu terasa seperti mimpi buruk.
Air semakin keruh, dipenuhi lapisan tipis seperti minyak. Di beberapa tempat, ia melihat gumpalan-gumpalan cairan hitam kental yang mengalir perlahan.
Setelah berjam-jam, ia tiba di sebuah lokasi industri. Puluhan Tongkang berjejer, menunggu diisi.
Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri asal muasal bencana ini: tumpukan batu bara yang menjulang. Debu hitam berterbangan di udara.
Saat Tongkang-tongkang itu dimuat, ia melihat dengan ngeri bagaimana sisa-sisa limbah tumpahan batu bara jatuh ke dalam air, mengubah air menjadi bubur hitam pekat.
Namun, ia harus segera kembali. Tubuhnya sudah terasa sakit akibat racun.
Saat Kakek Dori kembali, ia menemukan komunitas mereka sudah dalam duka mendalam. Oma menyambutnya dengan wajah pucat.
“Kakek Dori, Dolphi… dia sudah tidak ada,” bisik Oma. “Batuknya semakin parah, air hitam itu… dia tidak sanggup lagi.”
Hati Kakek Dori hancur berkeping-keping. Dolphi, cucunya yang riang, adalah korban pertama dari keserakahan manusia.
Kematian Dolphi adalah awal dari akhir. Kondisi sungai memburuk drastis. Limbah tumpahan batu bara menyebar hingga ke area aman mereka.
Setiap hari, air menjadi lebih hitam, bau menyengat semakin kuat. Ikan-ikan kecil sumber makanan mereka mulai mengambang mati di permukaan.
Komunitas pesut berusaha mencari tempat yang lebih bersih, berenang menjauh ke hilir. Namun, upaya mereka sia-sia.
Pesut adalah makhluk yang sangat sensitive, tanpa air jernih dan makanan, dan terus-menerus terpapar racun, mereka mulai sakit dan melemah satu per satu.
Kakek Dori dan Oma hanya bisa melihat dengan sedih saat anggota komunitas mereka mulai tenggelam. Tak lama kemudian, Juno ditemukan mengambang tak bergerak di tepian, tubuhnya kalah melawan racun. Kemudian, Oma menyusul, matanya tertutup selamanya oleh air yang kini telah menjadi kuburan.
Kakek Dori adalah yang terakhir bertahan. Ia berenang di sungai yang terasa asing, sunyi, dan hitam pekat, dipenuhi debu batu bara. Gemuruh mesin Tongkang kini terasa seperti nyanyian kematian.
Dengan napas terakhirnya yang lemah, Kakek Dori terbatuk, tubuhnya menyerah. Ia tenggelam di bawah permukaan air yang dulunya adalah rumah dan nyawa mereka.
Di tengah sungai yang dulu indah, kini hanya ada keheningan yang menyakitkan.
Semua pesut putih Mahakam pun mati, ditelan oleh sungai yang telah berubah menjadi kuburan gelap, sepenuhnya tercemar oleh limbah tumpahan batu bara dan kebisingan industri yang tiada henti.
Sungai Mahakam, si pita perak kebanggaan Kalimantan, telah kehilangan bisikan kehidupan terakhirnya.
Oleh: Nihayatus Sa’diyah
Editor: Krisna Wahyu Yanuar






