Opini

Islam; Rahmatan Lil alamin

×

Islam; Rahmatan Lil alamin

Sebarkan artikel ini

“Ada banyak jalan mendekati Tuhan. Akan tetapi jalan lurus dan utama adalah menghapus egoisme dan arogansi.” -Husein Muhammad-

Banyak orang yang terjebak bahwa dalam beragama mereka menghalalkan segala cara untuk memaksa umat yang mempercayai kepercayaan lain untuk masuk pada agamanya. Padahal hal ini tidak dibenarkan.

Terkait bersikap dengan umat agama lain, Islam menghendaki kerukunan dan perdamaian, bukan permusuhan. Ada beberapa cara seseorang beragama bersikap terhadap agama lain; eksklusif, inklusif, pluralis, dan multikulturalis.

Seseorang yang menganut suatu agama memang tak dapat dipungkiri meyakini formalitas agamanya, dan hal ini merupakan suatu keharusan. Yang tidak dibenarkan adalah memaksakan kebenaran agama sendiri pada orang lain dan terjebak dalam formalisme. Islam adalah agama yang dihadirkan untuk menyebar relasi kasih sayang antar sesama manusia. Bahkan lebih dari itu, tak hanya manusia, melainkan semesta raya. Hal ini termaktub pada Q.s Al Anbiya ayat 107:

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

Artinya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Sebagai agama yang membawa perdamaian dan menjadi rahmat, Islam tentunya memberikan penghargaan terhadap perbedaan yang ada. Salah satu cara untuk menghargai perbedaan adalah dengan cara kontekstualisasi ajaran, tidak memaknai teks agama secara kaku.

Terdapat adagium yang masyhur sebagaimana dikutip oleh Husein Muhammad dalam bukunya, “An Nushus qad intahat wal waqai’ la tantahi’ yang memiliki arti bahwasanya teks itu sifatnya terbatas dan fenomena yang terjadi itu tak terbatas.

Tata cara kontekstualisasi ajaran ini dengan mengkaji substansi, kausalitas, dan illat hukum pada suatu teks, mengkaji sosio-kultural, menjadikan realitas sosial sebagai bahan analisis, dan selalu mengedepankan empat nilai dalam kehidupan (keadilan, kemaslahatan, kerahmatan, dan kebijaksanaan).

Perdamaian jauh lebih indah dari pada permusuhan. Dalam menyikapi perbedaan, Quraish Shihab menyampaikan tafsirannya terhadap ayat-ayat Al Quran bahwasanya dalam  beragama tak dibenarkan akan adanya paksaan. Allah memberikan perintah kepada Nabi Muhammad Saw. untuk menyampaikan risalah bahwa setiap agama dipersilakan untuk menunaikan ajaran agamanya masing-masing.

Realita yang terjadi di negeri ini, masih banyak perbuatan-perbuatan kejam dan beringas yang dilakukan oleh suatu oknum dengan mengatasnamakan agama. Bahkan mereka tak hanya bergerak secara nyata dengan mengangkat senjata melainkan melewati berbagai platform dalam media sosial.

Dengan demikian, kebijaksanaan kita bermedia menentukan ke mana arah kita untuk menentukan kerukunan yang ada. Mengingat teknologi pada era saat ini telah melaju dengan pesat. Semoga tulisan sekelumit ini bisa menjadi bahan renungan, di mana masih membutuhkan banyak masukan dan kritik yang membangun.

Penulis: Ummi Ulfatus Syahriyah

Editor: Ummi Ulfatus Syahriyah

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *