Esai

Kompleksitas Keilmuwan Manusia Jawa; dari yang Rohani dan Jasmani

×

Kompleksitas Keilmuwan Manusia Jawa; dari yang Rohani dan Jasmani

Sebarkan artikel ini

Urupedia Jumat Malam (8/07/2022) bertempat di kediaman Bopo Laksamana Muda (Purn) Harry Yuwono, Lotus Garden, Ketanon, Tulungagung tergelar agenda Forum Sarasehan Seni dan Budaya. Agenda ini bertemakan “Ngelmu Kasampurnan” (Religius-Spiritualitas antara Filsafat Jawa dan Barat) dengan dipantik oleh beberapa sejarawan, seniman dan budayawan, antara lain; Ki Lamidi, Ki Wawan Susetya, Ki Handaka, KH. Teguh, Fatkur Rahman Nur Awalin, Taufan Hendro Baskoro, dan beberapa pemantik lain.

Tema perdiskusian ini amat menarik, mencari benang pemisah sekaligus benang kesamaan yang ada dalam dua khazanah besar, yakni Timur dan Barat. Dengan diiringi lantunan geguritan, suluk sekaligus langgam dari para seniman, menambah kesakralan acara pada malam itu.

Ki Lamidi sebagai sosok veteran yang masih segar bugar memberikan berbagai petuah yang menarik. Beliau menegaskan bahwa keilmuan di Jawa tak kalah saing dengan paradigma eksak ala Barat, kita dibekali dengan Nur Allah sebagai pengikat antara batin dan pikiran. Berhubungan dengan hal tersebut, KH Teguh juga menuturkan bahwa filsafat Jawa tidak hanya mencari kebijaksanaan (wicaksana) seperti perspektif filsafat Barat, melainkan lebih dalam dari itu, yakni menggapai Kesempurnaan (kasempurnan).

Berbagai penuturan yang diselingi iringan kesenian ini berlangsung cukup lama, dimulai dari pukul 20.00 hingga tengah malam. Tema yang diangkat sangat menarik, Taufan Hendro (yang menjabat dosen di UB Malang) memulai sebuah otokritik terhadap dekadensi spiritualitas yang sekarang menjangkit peradaban Barat, lunturnya visi spiritualitas mengakibatkan lahirnya degradasi di berbagai lini, semisal moral, etika dan adab, walaupun mereka terang benderang mecapai titik klimaks rasionalitas. Problem ini yang patut dijadikan rumusan masalah untuk evaluasi bagai peradaban Jawa, apakah akan tetap memegang konsep-konsep yang dimiliki, ataukah ikut tergerus dalam laju modernisasi?

Ki Wawan Susetya juga memberikan petuah akan pentingnya korespondensi antara ilmu aqliyah dan ilmu batiniyah. Beliau menuturkan bahwa jika ditinjau secara historis, dalam tradisi masyarakat Jawa terdapat suatu keserasian harmonis antara yang fisik dan metafisik. Beliau juga memberikan penegasan bahwa kesatuan harmonis ini wajib dirawat dan dijaga dalam upaya pengamanan ilmu tingkat tinggi masyarakat Nusantara.

Akhir sesi, Fatkur Rahman Nur Awalin (Dosen UIN SATU Tulungagung) mengupas berbagai dinamika spiritualitas yang ada di Tulungagung, mulai dari hirarki laku yang ada di Goa Selomangkleng, yang konon memang menjadi ruang pertapaan Gayatri. Di dalamnya tertadap tingakatan-tingkatan ngelmu yang beragam. Saya pribadi akhirnya menganggap bahwa ada suatu spirit ngelmu yang jelas-jelas diasah dan bisa diolah di wilayah Tulungagung.

Berbagai khazanah yang tertuang dalam perdiskusian ini bermuara pada satu kesimpulan sederhana bahwa; sebagai manusia Jawa yang memiliki kompleksitas keilmuan, dari yang rohani dan jasmani sebenarnya berinti kepada kemanunggalan atas Tuhan serta alam semesta. Berfilsafat di Jawa tak hanya soal rasionalitas dan peradigma positivistik belaka, melainkan sebuah laku, olah, asah dan pembaktian yang bertahap dari maqam-maqam yang digeluti.

Penulis: Kowim Sablillah

Editor: Ummi Ulfatus Sy

Advertisements

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *