Mozaik

Rabu Wekasan Hari Sial? Berikut Penjelasannya

×

Rabu Wekasan Hari Sial? Berikut Penjelasannya

Sebarkan artikel ini

Urupedia Bulan Safar, beberapa ulama berpendapat bahwa bulan ini disebut dengan nama ‘Safar’ karena di kaitkan dengan  budaya dan kebiasaan masyarakat Arab zaman dahulu.  Yang mana mereka (masyarakat Arab) pergi dari rumah  sehingga terjadi kekosongan. Safar sendiri dalam bahasa diartikan kosong. Ibnu Mandzur dalam Lisânul ‘Arab menyatakan:

لِإِصْفَارِ مَكَّةَ مِنْ أَهْلِهَا إِذَا سَافَرُوا

“Karena kosongnya Makkah dari penduduknya apabila mereka bepergian.” (Ibnu Mandzur, Lisânul ‘Arab, Dar el-Shâdir, Beirut, juz 4, halaman 460)

Pandangan pesimis serta stigma buruk  mengenai akhir Bulan Safar inilah yang  justru membuka pintu bala’ itu sendiri. Padahal dalam hadis telah dijelaskan :

عن أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ. رواه البخار ومسلم

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Safar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati itu rohnya menjadi burung yang terbang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Menurut al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, hadis ini merupakan respon Nabi Saw terhadap tradisi yang brekembang di masa Jahiliyah. Ibnu Rajab menulis: “Maksud hadis di atas, orang-orang Jahiliyah meyakini datangnya sial pada bulan Safar. Maka Nabi Saw. membatalkan hal tersebut. Pendapat ini disampaikan oleh Abu Dawud dari Muhammad bin Rasyid al-Makhuli dari orang yang mendengarnya. Barangkali pendapat ini yang paling benar. Banyak orang awam yang meyakini datangnya sial pada bulan Shafar, dan terkadang melarang bepergian pada bulan itu. Meyakini datangnya sial pada bulan Safar termasuk jenis thiyarah (meyakini pertanda buruk) yang dilarang.” (Lathaif al-Ma’arif, hal. 148)

Perihal meyakini adanya hari atau bulan-bulan  sial ini cukup menjadi bumerang , karena kesialan atau keberuntungan semata-mata adalah  kehendak Allah Swt. Jadi Bulan Safar sama halnya dengan Bulan lainya, Bulan tidak memiliki kehendak sendiri, melainkan semua berjalan atas kodrat dan iradat Allah.

Lalu bagaimana pandangan Ulama mengenai Rabu Wekasan?

Rabu Wekasan sendiri adalah istilah lain dari Rabu terakhir dibulan Safar, yang tahun ini jatuh pada tanggal 21 September 2022. Banyak yang mendiskusikan hari ini mulai dari sejarah, ritual-ritual atau musibah-musibah yang diasumsikan pada hari tersebut.

Masalah Rabu Wekasan memang menjadi dinamika yang harmonis dikalangan para ulama. Ada yang berkenan mengamalkan  amalan dan ada yang tidak berkenan. Dan kita sudah tahu bahwa para kiai di tarekat, khususnya para mursyid sangat memahami masalah ini. Intinya tathayyur (merasa sial) adalah hal yang harus kita hindari.

Daripada meyakini bulan Safar, khususnya Rabu Wekasan, sebagai bulan atau hari sial, akan lebih baik meyakininya sebagai hari keberkahan dan kebaikan. Hal ini dilandaskan  pada hadits yang menyatakan bahwa Allah menciptakan nur (cahaya) alam semesta pada hari Rabu.  Selain itu, dalam catatan sejarah banyak kejadian penting yang terjadi pada bulan Safar. Dalam Mandzumah Syarh al-Atsar fî mâ Warada ‘an Syahri Safar (hal 9), Habib Abu Bakar al-‘Adni menyebutkan Rasulullah melakukan tradisi-tradisi yang baik di bulan ini guna menggugurkan anggapan negatif orang-orang pada masa jahiliah.

Di antara tradisi baik yang beliau mulai adalah Rasulullah menikahkan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, pernikahan Rasulullah sendiri dengan Sayyidah Khadijah, hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah, serta perang pertama dalam Islam, yaitu perang Abwa.

Editor : Ummi Ulfatus Sy

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *