
Urupedia-Aku tak ingin mencintaimu seperti cintanya Prabowo kepada sawit,
yang mengunyah hutan dengan senyum kebijakan,
menyembelih tanah atas nama pembangunan
Di ruang ber-AC, rimba diperas jadi data,
akar dilipat rapi di lembar berita acara,
banjir diganti istilah yang lebih ramah telinga,
sementara tanah telanjang menahan malu dan luka
Mereka bilang hijau sambil memutihkan dosa,
bilang lestari sambil memotong napas rawa,
bilang rakyat sambil menutup telinga,
karena jerit tak pernah laku
di meja yang mencintai angka
Dik, aku tak ingin mencintaimu
seperti pemerintah untuk rakyatnya,
datang saat kamera menyala,
pergi saat perut mulai bersuara
Aku tak ingin cinta seperti pidato
fasih menyebut stabilitas
sambil menyembunyikan lapar di balik meja,
dan merapikan luka dengan bahasanya
Bahasa negara terlalu pandai berdusta,
mengganti bau busuk dengan singkatan,
mengganti robek dengan program,
mengganti tangis dengan angka
Dik,
cinta versi mereka selalu steril,
pakai jas, wangi kertas,
tak pernah berkeringat,
tak pernah berani turun
ke tubuh yang sebenarnya hidup
Aku tak ingin mencintaimu seperti itu
seperti kebijakan yang meraba tanpa rasa,
menekan tanpa mendengar,
lalu menyebutnya perhatian
Aku ingin bahasa yang melawan,
yang berisik,
yang salah eja,
yang berani meremas makna
sampai jeritnya terdengar
tanpa pengeras suara
Biarlah kata-kata kita kasar,
seperti jalan berlubang yang tak kunjung ditambal,
biarlah bunyi kita bertabrakan,
seperti janji yang saling menyalip
dan jatuh ke parit yang sama
Dik,
negara mengajari cinta versi tertib,
aku menolaknya
Aku memilih cinta yang liar,
yang tak bisa diatur surat edaran,
yang tak tunduk pada slogan
Cinta yang berdetak dari bawah,
dari perut, dari dada, dari dorongan,
cinta yang tak bisa dijinakkan
karena ia tahu
segalanya yang terlalu diatur
akhirnya mati
Tulungagung, 2 Januari 2025
Oleh: David Yogi P








