Urupedia – Dalam melakukan salat, ada hal yang wajib dilakukan atau yang disebut dengan rukun, ada juga sunah untuk dilakukan. Salah satunya sunah saat salat yaitu membaca doa iftitah.
Doa iftitah merupakan doa yang dibaca seseorang pada waktu salat saat ia selesai mengerjakan takbiratul ihram pada rakaat pertama dan sebelum membaca ta’awudz.
Hal ini sesuai apa yang dituliskan oleh Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Nihayatuz Zain:
وسنّ بعد تحرم وقبل تعوّذ افتتاح وذلك في غير صلاة الجنازة، أما فيها فلا يسنّ لبنائها على التخفيف
“Setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca ta’awudz disunahkan membaca doa iftitah di selain salat jenazah. Sedangkan di dalam salat jenazah tidak disunahkan membaca doa iftitah karena salat jenazah dianjurkan untuk singkat dalam pelaksanaannya,” (Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi Banten, Nihâyatuz Zain, Songqopuro Indonesia, al-Haramain, cetakan pertama, halaman 62).
Kemudian dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA, Rasulullah Saw bersabda:
“Ketika kami salat bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba seseorang mengucapkan “Allahuakbar kabira walhamdu lillahi katsira wasubhanalla hibukratawwa ashiilan“. Selesai salat, Rasulullah SAW bertanya, “Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi?” Seorang sahabat menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Beliau lalu bersabda, “Sungguh aku sangat kagum dengan ucapan tadi sebab pintu-pintu langit dibuka karena kalimat itu”, Kata Ibnu Umar, “Maka aku tak pernah lagi meninggalkannya semenjak aku mendengar Rasulullah SAW mengucapkan hal itu,” (HR. Muslim).
Meskipun bacaan doa iftitah ini sunah, tapi alangkah baiknya dilakukan, karena begitu banyak sekali keutamaan saat membaca doa iftitah ini.
Bacaan Doa Iftitah
Doa iftitah di bawah ini ada beberapa sighat berdasarkan beberapa riwayat, kemudian dalam kitab Nihayatuz Zain karangan Syaikh Nawawi al-Bantani menyebutkan ada 4 macam, yaitu:
Pertama,
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفاً مُسْلِماً وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Kedua,
الْحَمْدُ لِلهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ
Ketiga,
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
Keempat,
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ غَسِّلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ.
Kelima,
اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِيْ جَمِيْعاً فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِيْ يَدَّيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.
Apabila membaca salah satu dari doa diatas menurut Syaikh Nawawi sudah cukup mendapatkan kesunaha. Tapi alangkah baiknya dibaca semua semua bagi orang yang salat mufarid atau sendiri maupun orang yang menjadi imamnya orang yang rela salatnya lama.
وبأيها افتتح حصلت السنة. ويسنّ الجمع بينها لمنفرد وإمام قوم محصورين راضين بالتطويل
“Sudah mendapatkan kesunnahan dengan membaca salah satu doa (dari doa-doa iftitah di atas). Dan disunahkan untuk membaca semua bagi orang yang salat sendirian dan yang menjadi imamnya kaum yang terhitung jumlahnya rela salatnya lama.” (Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi Banten, Nihâyatuz Zain, Songqopuro Indonesia, al-Haramain, cetakan pertama, halaman 62).
Editor: Munawir







Respon (1)