Mozaik

Cara Mendidik Anak Sesuai Ajaran Rasulullah Saw, Simak Penjelasan Gus Mus

×

Cara Mendidik Anak Sesuai Ajaran Rasulullah Saw, Simak Penjelasan Gus Mus

Sebarkan artikel ini

Urupedia – Perlu kita ketahui bahwa mendidik merupakan ajaran yang berkaitan dengan memberi latihan akhlak dan kecerdasan seseorang. Hal ini bertujuan untuk membentuk manusia yang dapat menempatkan diri dengan tepat dalam kehidupan sosial serta membina seseorang ke arah kedewasaan, baik secara jasmani dan rohani.

Mendidik juga dapat diartikan sebagai upaya membina secara perorangan untuk mengembangkan sikap moral, mental dan akhlak. Islam sebagai agama “rahmatan lil ’alalmin” tentu memiliki metode dan cara dalam mendidik seorang anak.

Dilanlisir dari Youtube resmi @NUOnline, KH. Ahmad Mustofa Bisri, atau lebih di kenal dengan nama Gus Mus memberikan tips untuk mendidik anak sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw.

Sebelum ke pembahasan inti, Gus Mus menuturkan mengenai kebiasaan yang hanya menerjemahkan Rabb itu dengan Tuhan, dan kadang-kadang itu pun tidak jelas.

“Tuhan itu bagaimana, Ya Robbi, Ya Tuhan kami, Ya Tuhanku, Ya Allah itu Tuhan kita itu disebut Rabb karena ada sifat mendidik. Mendidik yang bertahap, dari mana kita tahu? Ya, dari utusan-Nya kita nggak bisa langsung mengetahui tanpa melalui utusan-Nya. Utusan-Nya itu memberikan ilmu sesuai dengan ajaran-Nya, didikannya, pendidik agungnya yaitu Allah Swt,” jelas Gus Mus.

Beliau meneruskan, bahwa Nabi Muhammad Saw itu tidak mempunyai guru, tidak pernah sekolah, dan tidak pernah mengaji. Gurunya langsung Allah Swt yang mendidik Nabi Muhammad. Semua itu bertahap dan kemudian dijadikan semacam metode dari pendidikan menurut Rasulullah Saw. 

“Jadi mendidik anak kecil itu harus sesuai dengan cara berpikir anak kecil. Ada tingkatannya PAUD, TK, SD, hal itu berjenjang seperti itu,” terangnya.

Beliau juga menerangkan bahwa Allah Swt telah memberikan sebuah contoh, mulai dari tanam-tanaman, yang awalnya tunas sampai menjadi besar. Kemudian dari bayi tumbuh sampai berdiri dan akan diberikan ilmu sedikit demi sedikit.

“Dari Ibnu Abbas, mengambil ayat dari Firman Allah Swt: ‘…Kuunu rabbaniyyi…’(QS. Ali Imran:79). Itu kita di minta supaya seperti Allah sifatnya mendidik itu. Jadi, ya jangan tergesa-gesa.  Kalau kamu jadi guru, misalnya jadi dosen, jadi kiai, untuk mendidik anak-anak didik itu jangan mbok premakno awakmu dewe,. Aku begini paham, kamu kok enggak paham-paham,” terangnya.

Beliau melanjutkan, bahwa dalam mendidik seorang anak yang kurang paham haruslah dengan cara yang bersabar, tidak gampang marah dan lapang dada

“Makannya ditambahi oleh Ibnu Abbas ra khulama, khulama itu khalim. Khalim itu lembah manah, aris, tidak gampang marah, lapang dada. Kalau ada anak didik kurang paham ya bersabar, ojo malah mbok tempiling. Neh, bocah kok dedele ngene (anak kok bodohnya seperti ini, red.) dilabok malah duedel ngene (ditimpuk malah tambah bodoh, red.),” lanjutnya.

Jika direlevansikan dalam dunia pendidikan, sebagai seorang pendidik juga harus mempunyai sifat Rabbani agar betul-betul mendidik dengan lapang dada yang tahu tentang jenjang-jenjang pemberian ilmu.

“Ini kalau untuk kamu, diharapkan oleh Ibnu Abbas seperti itu. Jadi pendidik kalau mau mengajarkan ilmu ya dari sedikit demi sedikit, jangan terus langsung. Wah, bisa muntah-muntah nanti anak didiknya. Mungkin sing iki nyandak (mungkin yang ini sampai, red.), sing iki endak nyandak (yang ini tidak sampai, red.), yang ini tanggkepannya salah, makanya semrawut (membingungkan, red.), seperti yang sekarang ini kan semrawut. Ono sing nangkep ilmu itu ndak bener, disiar-siarna meneh, malah bingungi wong akeh.(Ada yang menangkap ilmu yang tidak benar, disiarkan berulang kali sehingga membuat bingung banyak orang, red.) Itu yang terjadi karena tidak mempunyai sifat Rabbani, tidak mempunyai sifat khilm.

Beliau juga berpesan kepada dai-dai, mubaligh-mubaligh, ustaz-ustaz juga harus tahu, apalagi di depan umum harus tahu. Karena di depan umum itu bermacam-macam orangnya, Ada yang tingkatannya SD, tingkatannya SMP, tingkatannya tsanawiyah, tingkatannya aliyah, tingkatannya perguruan tinggi, dan orang umum.

“Kanjeng Nabi Muhammad Saw. itu tidak ada yang lebih baik daripada contohnya beliau, ‘Alkhairu kulluh fittibaairrasul Saw. Kanjeng rasul itu ngendikan(berbicara, red.) dengan siapa saja, itu pengendikane tidak sama. Bahkan beliau sendiri menasehati: “khaatibinnas alaa-qadri uquulihim” omongi ujari orang itu, sesuai dengan tingkat kadar penangkapannya, pemikirannya, akalnya,” jelasnya.

Beliau juga menerangkan bahwa  dasar dari kata khilm yang harus dimiliki oleh seseorang karena mempunyai khilm yang berarti dada yang lapang. Agar kita bisa menerima kekurangan-kekurangan yang dimiliki oleh seseorang di bawah maupun di belakang kita. Selain itu, menututurkan juga bahwa pentingnya rahmat. Sebab, Kanjeng Nabi Muhammad Saw. juga memperlakukan umatnya seperti itu dengan cara lemah lembut, tidak gampang marah, dan sering memaafkan kesalahan orang lain.

Kanjeng Nabi  mendapatkan sifat itu  yang itu karena  rahmat Allah Swt. “fabima rahmatin minallah linta lahum..” (QS. Ali Imran: 159). Bisa lemah lembut. Kalau kanjeng Nabi itu “ lau kunta fadzdzan ghalidzal qalbi” lanfadldlu min chaulik” (QS. Ali Imran: 159). Itu sudah jelas kalau kanjeng Nabi yang gantengnya begitu, tetapi kalau dia keras, kejam, pasti orang lari semua. Tidak seperti sekarang ini yang terjadi, semua orang datang kepada Kanjeng Nabi, karena Kanjeng Nabi lembah manah, lapang dada, lembut, ya kalau ada yang salah di maafkan, kalau ada yang berdosa dimintakan ampunan Allah, sesuai dengan ajarannya Allah, didikannya Allah. “Fa’fu ‘anhum…” maafkan mereka. “Wastagfirlahum…” dan mintakan ampun mereka (QS. Ali Imran: 159) Tapi jangan lupa juga: “Wasyaawirhum fil amri” Ajak rembukan (musyawarah, red.) mereka (Qs. Ali Imran: 159),” jelasnya.

Beliau juga berpesan untuk mengajak rembukan orang yang berada di bawah, murid, dan anak didik. Karena bisa mengangkat mental meraka.

“Wah, aku dianggap oleh guruku. Jadi tidak hanya doktrin, doktrin, doktrin. Itu aturan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, lek endak iso ngono njalok rahmate Allah (Kalau tidak bisa begitu, minta rahmatnya Allah, red.), ” pungkasnya.

Editor : Ummi Ulfatus Sy

Advertisements

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *