Mozaik

Kalian Sering Mencampakkan Orang Ketiga? Ini Bahayanya

×

Kalian Sering Mencampakkan Orang Ketiga? Ini Bahayanya

Sebarkan artikel ini

Urupedia – Dalam mengarungi kehidupan, manusia tidak lepas dari hubungan komunikasi, baik itu komunikasi perorangan, antar kelompok, maupun komunitas. Mengapa demikian? Menurut Elly M. Setiadi, Makhluk sosial adalah manusia yang berhubungan timbal balik dengan manusia lain. Makhluk sosial adalah makhluk yang didalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh orang lain.

Sebagai makhluk sosial manusia satu dengan yang lainnya saling membutuhkan demi keberlangsungan hidup. Sehingga hubungan tersebut tetap terjalin sampai kapanpun. Tidak bisa dipungkiri, dalam komunitas atau kelompok yang terdiri dari beberapa orang pasti mereka juga masih membutuhkan atau bekerjasama dengan kelompok lainnya.

Kerja sama tidak hanya meringankan pekerjaan dalam sebuah kelompok sosial, tetapi juga bagus untuk menumbuhkan kekompakan dan rasa saling percaya antar manusia. Dengan kerja sama, pekerjaan menjadi lebih ringan dan efisien, serta melatih diri untuk terbuka dengan cara atau ide baru.

Bekerja sama memungkinkan rekan kerja untuk saling mengenal lebih baik dan membangun hubungan sosial yang kuat. Manfaat kerja sama memungkinkan setiap orang untuk dihargai atas kemampuannya. Ini menciptakan suasana kerja yang lebih positif dan santai. Selain itu kerja sama juga bisa menambah pengalaman serta meluasnya jaringan.

Berbicara tentang makhluk sosial, hubungan manusia satu dengan manusia yang lain banyak dihadapkan dalam berbagai lingkungan, dan lingkungan kerap kali disejajarkan dengan kehidupan makhluk hidup. Hal itu memang tidak salah. Pasalnya, semua aktivitas yang dilakukan oleh makhluk hidup pasti lingkungan ikut serta di dalamnya.

Di dalam kehidupan, makhluk hidup tidak dapat dipisahkan dari lingkungannya, hal ini berlaku untuk lingkungan alam atau lingkungan sosial, contohnya seperti manusia, ketika bernapas pasti akan memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Ketika makhluk hidup minum atau makan, tentu berasal dari lingkungan, hal itulah yang membuat lingkungan menjadi salah satu hal yang sangat penting di dalam kehidupan makhluk hidup.

Mengenai lingkungan sendiri ada banyak macamnya, yaitu:

Lingkungan Keluarga

Yaitu lingkungan dimana seseorang mendapatkan pendidikan pertama yang sangat mempengaruhi perilakunya dan berperan dalam menentukan tujuan hidupnya.

Lingkungan keluarga merupakan usaha sadar dari orang dewasa secara normatif untuk mempengaruhi perkembangan anak dalam bentuk pendidikan. Lingkungan keluarga berperan penting dalam perkembangan psikolog dan mental seseorang.

Dengan dukungan dari lingkungan keluarga seseorang bisa menghadapi dunia. Begitu juga sebaliknya kesuksesan yang didapat seorang tidaklah berguna baginya tanpa adanya dukungan keluarga apalagi ejekan keluarga.

Lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program pendidikan dan membantu siswa mengembangkan potensinya. Sekolah berperan penting dalam mencetak generasi muda yang berkualitas dan mampu bersaing dimasa depan. Serta lingkungan yang lainnya.

Hubungan akan terbentuk secara alami seiring berjalannya waktu, baik mengenal atau tidak, lingkungan tetap akan saling mengetahui. Pada dasarnya setiap orang pasti memperhatikan tingkah laku dan sifat satu sama lain. Begitu juga dengan sikap, kebanyakan seseorang akan bersikap demikian bergantung sikap orang tersebut kepadanya.

Hal tersebut menjadi kebiasaan dan patokan, karena salah satu prinsip penting dalam bersosial adalah memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Prinsip ini sebagaimana yang dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Nabi bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai (memperlakukan) saudaranya sebagaimana ia ingin diperlakukan.” (HR. Al-Bukhari).

Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata “khuluk”, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku. Konsep tersebut tidaklah rumit justru menguntungkan menjadi simbiosis mutualisme. Memperlakukan orang lain dengan kehormatan dan pertimbangan yang sama sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Orang Ketiga

Nah, pembahasan kali ini berbicara mengenai orang ketiga, orang ketiga yang seperti apa? Bukan orang ketiga dalam percintaan, bukan pula setan, melainkan orang ketiga yang dimaksud adalah ketika tiga orang berada dalam suatu tempat yang sama. Dua orang berbicara tetapi tidak melibatkan orang yang satunya yaitu orang ketiga.

Perbincangan dua orang tersebut biasanya bersifat rahasia atau curhatan, ghibah, dll. Ketika dua orang berbicara tanpa melibatkan orang ketiga. Bahkan saat orang ketiga bertanya, misal “Eh ada apa?” Mereka tetap diam saja tanpa memikirkan perasaan orang ketiga. Reaksi apa yang muncul pada orang ketiga tersebut? Pastinya sedih atau kesal bukan? Bisa dibayangkan seperti apa kejadiannya. Seperti yang dijelaskan Al-Quran Surah Al-Mujadalah ayat 10, sebagai berikut:

إِنَّمَا النَّجْوى‏ مِنَ الشَّيْطانِ لِيَحْزُنَ الَّذينَ آمَنُوا وَ لَيْسَ بِضارِّهِمْ شَيْئاً إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ وَ عَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُون

Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudarat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal,” (QS.Al-Mujadalah : 10).

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِذا تَناجَيْتُمْ فَلا تَتَناجَوْا بِالْإِثْمِ وَ الْعُدْوانِ وَ مَعْصِيَةِ الرَّسُولِ وَ تَناجَوْا بِالْبِرِّ وَ التَّقْوى‏ وَ اتَّقُوا اللَّهَ الَّذي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ                                                                               

“Wahai orang-orang yang beriman ! Apabila kamu berbisik rahasia , janganlah berbisik rahasia dengan dosa dan permusuhan dan mendurhakai Rasul, tetapi berbisik rahasialah dengan kebajikan dan taqwa ; Dan taqwalah kepada Allah , Yang kamu sekalian akan dikumpulkan,” (Q.S.Al-Mujadalah : 9).

Disini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya. Saat itu saya berada tepat disebelah kedua teman saya yang sedang berbisik. Karena saya merasa lebih dewasa, saya rasa saya bisa membantu apa keluh dari mereka. Otomatis  saya bertanya “Kenapa? Ada apa, apa kalian punya masalah?” Kurang lebih seperti itu saya bertanya kepada mereka.

Tetapi saat kedua teman saya melihat saya, seketika mereka langsung terdiam, tak acuh akan pertanyaan saya. Kemudian saya merasa kecewa dan sedikit kesal, saya merasa mereka meremehkan rasa. Langsung saya meninggalkan mereka berdua, kemudian saya berfikir-fikir, kenapa saya marah dengan sikap mereka? Hal tersebut bukankah wajar jika mereka tidak mau orang lain mengetahui dan  diikuti campur. Dari pergulatan pikiran saya tersebut, akhirnya saya menerima dan memilih untuk memaafkan. Saya tidak mengetahui jika pembicaraan tersebut dilarang dalam Islam yang tertulis dalam hadist.

Banyak orang yang tidak mengetahui akan larangan melakukan pembicaraan berdua ketika sedang bertiga orang dalam satu tempat. Begitu juga banyak yang melakukan hal tersebut dalam bersosial. Larangan tersebut tertulis dalam hadist berikut.

وَعَنِ ابنِ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِِذََا كَانُوا ثَلَاثَةٌ فَلَايَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِث” متفق عليه

(1606) Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila berkumpul tiga orang maka janganlah dua orang di antara mereka itu berbisik bisik tanpa menyertakan orang ke tiga,” (HR.Bukhari dan Muslim).

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Daud dan ia menambahkan bahwasanya Abu Shalih bertanya kepada Ibnu Umar, “Bagaimana kalau ada empat orang?” Ibnu Umar menjawab, “Tidak apa-apa”. Di dalam kitab Al-Muwattha, Imam Malik meriwayatkan hadits ini Abdullah Bin Dinar yang mana ia berkata:

“Saya bersama-sama dengan Ibnu Umar berada di rumah Khalid bin Ukbah yang sedang berada di pasar, kemudian ada orang yang bermaksud untuk berbisik-bisik dengannya dan tidak ada seorang pun di dekat Ibnu Umar kecuali saya.” Ibnu Umar lantas memanggil orang lain sehingga kami cukup berempat. Ibnu Umar berkata kepada saya dan kepada orang ketiga yang dipanggilnya itu, “Silahkan kalian menyisih sebentar karena saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, Janganlah ada dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan satu orang yang lain.”

وَعَنِ ابنِ مَسعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَمَ قَالَ : إِذَاكُنْتُمْ ثَلَاثَة فَلَا يَتنََاجَى اثْنَانِ دُونَ الآخَرَحَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ، مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُخْزِنُهُ. متفق عليه.عليه                                                                           

Dari Ibnu Mas`ud Radhiyallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila kalian bertiga maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan yang lain sehingga kalian berkumpul dengan orang banyak. Karena yang demikian bisa menyebabkan orang yang tidak terlibat menjadi sedih,” (HR.Bukhari dan Muslim).

Dari hadist tersebut memang benar adanya, apa yang saya rasakan, orang ketiga yang tidak diajak berbicara akan merasa sedih, maka hal tersebut dilarang karena sebagian dari adab. Jika kalian ingin berbicara penting hanya berdua sebaiknya dilakukan seperti apa yang dilakukan oleh Sayyid Ibnu Umar, yaitu memanggil satu orang sehingga menjadi empat orang. Bisa dengan meminta izin kepada orang ketiga untuk berbicara berdua, jika mengizinkan orang tersebut tidak merasakan sedih. Selain itu bisa dengan cara melihat situasi saat orang yang ingin diajak bicara sedang sendiri.

Editor: Munawir Muslih

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Index